BolaSkor.com - Belakangan, media sosial diramaikan dengan koregrafi "Don't Playground With Us" karya Bobotoh pada pertandingan Persib Bandung melawan Arema FC, 13 September 2018. Banyak versi terkait makna dari kalimat itu.

Koregrafi tersebut menyuguhkan badut Pennywise dalam film It sedang menenggelamkan kepala Singa, sebagai sindiran terhadap Singo Edan, julukan Arema FC, dan dua batu nisan makam yang bernomorkan 19 dan 87, dan bila digabung menjadi tahun kelahiran klub asal Malang tersebut.

Makna kreativitas dan kalimat itu pun semakin meluas. Ada yang menyebut bahwa itu merupakan sindiran kepada Komisi Disiplin (Komdis) PSSI yang gemar menghukum Persib. Ada pula yang menyatakan bahwa koreografi itu murni sebagai bentuk dukungan untuk Persib dan menjatuhkan mental pemain lawan.

Kreativitas dalam bentuk koreografi memang sedang menjadi primadona dalam kalangan suporter Indonesia. Bentuknya pun berbagai rupa. Ada yang dibuat untuk mendukung, menyindir, bahkan mencaci.

PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia tidak melarang suporter untuk menyuguhkan koreografi. Hanya saja, tetap ada batasannya. Suporter dilarang untuk membuat kreativitas dalam bentuk sindiran ke pihak lain.

"Sudah diatur di dalam regulasi setiap koreografi ataupun perkataan yang berbau rasisme, agama, politis, komunitas tertentu dan sebagainya itu pasti dilaporkan di Match Commissioner. Dan tidak perlu ada dengar-mendengar dari klub tersebut. Pasti klub yang bersangkutan kita langsung jatuhi hukuman. Itu sudah diatur di regulasi." ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha Destria.

"Jadi di situ saja. Tapi PSSI hukumnya dihukum sepak bola kita punya wewenangnya di hukum sepak bola. Kita tidak punya kekuasaan untuk mengubah kepribadian seseorang. Itu kan pendidikan yang mereka sudah dapat dari sekolah mereka sehari-hariny, bagaimana dengan teman mereka, itu hukum kenegaraan dan pendidikan," katanya menambahkan.

Tisha hanya sekedar mengimbau, tapi tidak punya hak untuk melarang. Sebab perilaku suporter merupakan representasi dari kehidupan sehari-hari.

"PSSI tidak punya kuasa sampai ke sana. Yang kita punya adalah hukum sepak bola. Jadi ya kita akan memberikan sanksi yang setegas-tegasnya tentang pelanggaran-pelanggaran di hukum yang bisa kita kontrol," imbuh Tisha.

"Namun kalau saya ditanya apa solusinya untuk mencegah hal tersebut, ya kita harus bersinergi bersama dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya serta Kementerian Olahraga, itu adalah permasalahan negeri ini dan itu terjadinya tidak hanya di sepak bola," tuturnya mengakhiri.