BolaSkor.com – Apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan apa yang terjadi di dalamnya. Barangkali, istilah itu tepat digunakan untuk menggambarkan situasi salah satu klub terbesar dunia, bergelimang trofi, punya basis fans besar di seluruh dunia, Real Madrid.

Siapa yang tidak tahu Real Madrid? Hampir seluruh pecinta sepak bola dunia tahu tim asal Spanyol yang identik dengan jersey warna putih itu. Popularitas El Real semakin besar dengan status mereka sebagai Raja Eropa yang telah sukses meraih 13 titel Liga Champions. Ya, raja seperti simbol di klub mereka.

Diksi raja itu semakin diperkuat dengan fakta bahwa mereka kerap mengumpulkan bintang-bintang Eropa di dalam klub hingga julukan Los Galacticos muncul. Florentino Perez, Presiden Madrid, pada awalnya ingin mensejajarkan Los Galacticos dengan produk akademi Madrid.

Baca Juga:

Zinedine Zidane Ungkap Alasan Real Madrid Dibantai Atletico

Gareth Bale Mendekat ke Klub China

Real Madrid Sudah Langganan Lepas Pemain ke Premier League

Real Madrid

Tapi seiring berjalannya waktu, hanya proyek Los Galacticos yang berjalan baik hingga jilid III saat ini, sementara alumni akademi Madrid menempuh jalan yang berbeda-beda: ada yang bisa menembus tim utama, bersinar di klub lain, atau dipinjamkan Madrid.

Cukup mudah bagi seorang fans baru sepak bola jika mereka dihadapkan pada sejumlah opsi klub yang ingin didukung, cukup dukung Madrid karena mereka pasti selalu bertarung merebutkan trofi setiap tahunnya.

Tantangan menjadi fans Madrid tidak sesulit fans Arsenal atau Manchester United (saat ini): tidak ada jaminan meraih trofi tiap musim dan sedang berada di periode sulit. Setidaknya, selalu ada bintang yang dapat dibanggakan suporter Madrid.

Singkatnya, Madrid itu seperti mode mudah dalam pilihan tingkat kesulitan game. Kendati demikian, kembali lagi pada kalimat pertama di paragraf pertama, apa yang terlihat belum tentu sama di dalamnya. Faktanya, Madrid menyimpan realitas kejam terhadap pemain-pemain dalam kategori tertentu.