BolaSkor.com - Romelu Lukaku sudah diakui sebagai salah satu penyerang tengah terbaik dunia saat ini. Namun ia ternyata tak suka menjalankan peran sebagai target man.

Lukaku mulai kembali menunjukkan kualitasnya sebagai penyerang saat pindah ke Inter Milan pada musim panas 2019. Sebelumnya ia gagal menjawab ekspektasi tinggi di Manchester United.

Bersama Inter, Lukaku mampu mencetak 64 gol dalam dua musim. Rekor tersebut membuat Chelsea ngebet membawanya pulang ke Stamford Bridge pada musim panas lalu.

Baca Juga:

Chelsea Disebut Tak Tahu Cara Gunakan Lukaku, Tuchel Balas Sindiran Conte

Lukaku Bisa Dimatikan, Thomas Tuchel Tak Panik

Romelu Lukaku Tak Mau Dibandingkan dengan Cristiano Ronaldo

Romelu Lukaku

Lukaku mengawali comeback-nya bersama Chelsea dengan mulus. Ia mampu mencetak empat gol dari empat laga perdananya.

Namun setelah itu, Lukaku mulai menghadapi kesulitan. Pengawalan ketat tim-tim lawan membuat pemain berusia 28 tahun itu gagal mencetak gol dalam lima laga terakhir di semua kompetisi.

Antonio Conte selaku mantan pelatih Lukaku di Inter menyebut Chelsea belum menggunakan sang pemain. Hal ini tentu mengundang tanda tanya besar.

Di Chelsea, Lukaku selalu ditempatkan sebagai ujung tombak tunggal. Sementara bersama Inter ia kerap berduet dengan Lautaro Martinez.

Dengan hanya sendirian di depan gawang, barisan pertahanan lawan lebih fokus dalam mengawal pergerakan Lukaku. Hal ini membuat sang pemain tidak nyaman.

"Semua orang berpikir saya semacam target man yang hanya memegang bola dan menjadi pemburu gol. Namun saya tidak pernah bermain seperti itu dan saya membencinya," kata Lukaku di situs resmi UEFA.

"Kekuatan terbesar saya adalah saya berbahaya ketika menghadap ke gawang. Saat itulah saya jarang membuat pilihan yang salah."

Hal ini tentu menjadi masukan yang berharga untuk manajer Chelsea, Thomas Tuchel. Mungkin ini juga yang disebut Conte tentang cara memanfaatkan Lukaku dengan benar.

Namun keinginan Lukaku tersebut bisa menimbulkan masalah baru. Tuchel harus membangun sistem baru dan pasti membutuhkan waktu untuk memaksimalkan potensi penyerang bertubuh besar tersebut.

"Saya tahu di mana saya harus memposisikan diri di dalam kotak usai mengoper. Saya bisa melakukan segalanya dengan lebih sedikit. Ketika saya tahu ada banyak ruang di belakang pertahanan, saya bermain secara berbeda," tambah Lukaku.

"Alasan saya sangat produktif (di depan gawang) adalah karena saya bisa melakukan segalanya dengan lebih sedikit."