BolaSkor.com - 5 Mei 2002 nampaknya menjadi tanggal yang tak akan mungkin dilupakan Ronaldo Luis Nazario de Lima. Pada hari itu, ia menangis di Stadion Olimpico setelah Inter Milan takluk 2-4 dari Lazio pada laga terakhir Serie A 2001-2002.

Itu memang bukan pertama kalinya Ronaldo menangis di lapangan Stadion Olimpico. Dua tahun sebelumnya, pemandangan serupa juga terlihat.

Bedanya pada tahun 2000, Ronaldo menangis usai cedera lututnya kambuh. Air mata yang keluar bisa dibilang merupakan kombinasi dari menahan rasa sakit dan ketakutan akan ancaman pensiun dini.

“Saya merasakan sakit dan ketakutan ketika lutut saya berada di Stadio Olimpico. Apakah saya akan kembali, dan dalam kondisi apa?" kata Ronaldo terkait tangisannya pada 12 April 2000 kepada La Gazzetta dello Sport.

"Namun, begitu rasa takut awal itu berlalu, saya menemukan kekuatan batin yang bahkan tidak saya ketahui. Saya adalah pria yang berbeda, tetapi dengan cinta yang sama untuk sepak bola."

Baca Juga:

Ronaldo Tawarkan Bantuan untuk Selamatkan Karier Alexis Sanchez

Barcelona atau Inter Milan, Ronaldo Enggan Berikan Saran untuk Lautaro Martinez

Melihat Langsung Ronaldo, Legenda Manchester United Nyaris Mengompol

Tangisan Ronaldo usai Inter Milan takluk 2-4 dari Lazio pada laga terakhir Serie A 2001-2002.

Namun tangisan Ronaldo pada tahun 2002 terasa lebih menyesakkan. Ini kali kedua setelah final Piala Dunia 1998, The Phenomenon menitikkan air mata usai menelan kekalahan.

Hal itu sebenarnya bisa dimaklumi. Kekalahan atas Lazio menghancurkan mimpinya dan Inter Milan untuk meraih Scudetto.

"Cedera itu adalah takdir, tetapi kami harus disalahkan atas apa yang terjadi pada 5 Mei (2002). Ketika takdir ada di tangan kami dan membiarkannya terlepas, anda tidak bisa marah kepada orang lain," kata Ronaldo lagi.

"Kami hanya tidak menjadi diri kami sendiri dan tidak pernah berhasil mencari tahu apa yang terjadi. Itu sebabnya saya menangis."

“Scudetto itu adalah yang paling saya ingin berikan kepada para penggemar Inter, karena betapa mereka telah mencintai saya," sambungnya.

Kekalahan itu sekaligus menjadi penampilan terakhir Ronaldo bersama Inter. Musim selanjutnya, ia memilih hengkang ke Real Madrid.

Menariknya, Ronaldo tidak pernah menyangka bahwa laga kontra Lazio akan jadi laga terakhirnya bersama Inter. Saat itu, ia belum berpikir untuk hengkang.

“Lama setelah mengucapkan selamat tinggal, saya membicarakannya dengan Moratti lagi dan kami saling memaafkan satu sama lain, tanpa menyalahkan. Pada saat itu, mungkin kami berdua tidak punya pilihan lain, pungkasnya.