BolaSkor.com - 10 tahun silam di bulan yang sama seperti saat ini (Juni) Liverpool mengeluarkan dana sebesar 20 juta poundsterling untuk pemuda dari Sunderland. Dana yang terbilang mahal untuk pemain muda yang belum teruji, pemuda itu adalah Jordan Henderson.

Atas rekomendasi langsung manajer Liverpool kala itu Kenny Dalglish yang juga legenda The Reds, klub merekrut pemain yang dinilai Dalglish memiliki segalanya yang dibutuhkan oleh seorang gelandang untuk Liverpool.

Satu dekade lalu tidak banyak yang melihat Henderson sebagai calon kapten dan salah satu pemain terbaik Liverpool, tapi setelah 10 tahun berlalu Henderson masuk sejarah klub sebagai kapten yang memenangi Liga Champions dan titel liga pertama klub di era Premier League.

Baca Juga:

Manchester United dan Liverpool Rebutan Ben White, Brighton Pasang Harga Selangit

Ibrahima Konate Datang, Jurgen Klopp Dapat yang Dibutuhkannya

Sambil Menahan Tangisan, Gini Wijnaldum Pamit dari Liverpool

Jordan Henderson (pojok kiri) dengan rekrutan anyar Liverpool lainnya pada 2011

Perjalanan pemain kelahiran Sunderland, 17 Juni 1990 tidaklah mudah dan mulus di Liverpool. Henderson menjalani hidup di Merseyside bak roller coaster sebelum sampai di puncak kariernya seperti saat ini.

Menilik kembali 10 tahun karier Jordan Henderson di Liverpool, BolaSkor.com mengulas naik turun dalam karier Henderson bersama klub pada momen-momen penting di dalamnya. Berikut penjelasan lengkapnya:

Nyaris Dijual

"Dia memiliki semua keterampilan teknis yang kami butuhkan. Dia bagus dengan bola, dia kreatif, dia punya umpan yang bagus, dia secara fisik sangat bagus."

"Itulah segalanya yang kami inginkan dari seorang gelandang dan dia juga serba guna. Bagi manajer Kenny Dalglish dia akan menjadi pemain yang kami inginkan," ucap Damien Comolli, Direktur Olahraga yang merekrut Henderson ke Liverpool pada 2011.

Ironisnya pria yang sama juga menuturkan pernyataan yang berbalik 180 derajat kala menyampaikan ucapan pemilik klub, ketika Comolli dipecat pada 2012.

"Di hari saya dipecat (April 2012) mereka (Pemilik Liverpool) memberitahu saya bahwa saya melakukan kesalahan besar kepada Jordan dan hanya membuang-buang uang," tutur Comolli.

Jordan Henderson nyaris dijual pada 2012.

Pernyataan itu terungkap di publik dan tentu saja diketahui oleh Henderson. Awal karier perjalanannya saja sudah sulit ketika Kenny Dalglish hanya bertahan setahun sebelum digantikan Brendan Rodgers.

Kendati tampil 48 kali di musim debutnya, Henderson dilihat sebagai pemain tambahan bukan pemain inti tim. Henderson menuturkan pembicaraan kepada Rodgers yang membuatnya menangis.

"Itu adalah momen sulit yang saya ingat dengan sangat jelas," kata Henderson kepada Guardian.

“Kami sedang mempersiapkan pertandingan melawan Hearts di Anfield. Kami bertemu seperti biasa di hotel dan saya mendapat ketukan di pintu saya mengatakan manajer ingin berbicara dengan kami."

"Agar adil bagi Brendan Rodgers, itu benar-benar hanya percakapan. Itu adalah kesempatan yang tidak saya inginkan dan saya tidak suka. Saya masih merasa memiliki banyak hal untuk diberikan, tetapi saya berada di tempat yang sangat gelap saat itu."

"Itu menyiratkan kepada saya bahwa dia akan membiarkan saya pergi dan itu terserah saya. Saya kembali ke kamar. Saya meneteskan beberapa air mata. Saya akhirnya menangis sedikit karena itu sangat menyakitkan," tambah dia kepada Football.London.

Kala itu Fulham siap menampung Henderson karena Liverpool ingin Clint Dempsey. Menyerah kah Henderson? Tidak. Dia memutuskan bertahan dan mempertarungkan tempatnya serta kerja keras melakukannya.

Kesempatan Kedua

Kerja keras Henderson terbayar dengan kepercayaan yang diberikan Brendan Rodgers, terlebih di sisinya ada kapten sekaligus legenda Liverpool Steven Gerrard yang menjadi mentor.

"Dalam tiga tahun lebih yang saya habiskan untuk bekerja untuk Brendan, saya belajar banyak darinya. Dia sangat murah hati ketika memberikan waktu untuk menjelaskan apa yang dia inginkan dari Anda, dalam hal peningkatan dan pengembangan," terang Henderson.

Konsistensi itu menjadikan Henderson sebagai pemain kunci Liverpool kala nyaris memenangi titel Premier League pada musim 2013-2014. Dalam kurun waktu dua tahun nyaris dijual Liverpool Henderson bertransformasi menjadi pemain penting.

Jordan Henderson dan Brendan Rodgers

Kritikan dan Pengakuan Ferguson

Kritikan sudah menjadi hal yang lumrah terjadi kepada pemain sepak bola profesional. Begitu juga Henderson yang pada eranya di Liverpool kala itu dibandingkan dengan Xabi Alonso, Javier Mascherano, dan Steven Gerrard.

Kritikan juga datang dari Sir Alex Ferguson, eks manajer legendaris Manchester United dalam buku autobiografi yang sempat meramaikan publik. Ferguson tak mau merekrutnya kala ia masih di Sunderland karena gaya larinya.

“Kami memperhatikan bahwa Henderson berlari dari lututnya, dengan punggung lurus, sementara pesepak bola modern berlari dari pinggulnya. Kami pikir kiprahnya mungkin menyebabkan dia bermasalah di kemudian hari dalam kariernya," tutur Ferguson.

Brendan Rodgers segera membela pemainnya itu. "Pernyataan tentang Jordan benar-benar tidak pantas. Ini adalah pemain muda yang telah bekerja dengan saya sekarang selama lebih dari satu musim, dan Anda tidak akan mendapatkan pemain yang lebih jujur."

Henderson tahu kritikan akan selalu datang dalam kehidupan pesepak bola profesional dan ia paham bagaimana cara menghadapinya, yakni dengan mengubahnya menjadi motivasi.

Sir Alex Ferguson

Warisan

Mengemban jabatan sebagai kapten menggantikan Gerrard tak pernah terbayang di benak pikiran Henderson, namun Liverpool memang merekrutnya dengan potensi kapten masa depan dan Jurgen Klopp (ketika datang pada 2015) sudah melihat sosok pemimpin dalam diri Henderson.

“Saya tidak memiliki keraguan sedetik pun tentang ini (kapten Liverpool). Saya tidak tahu siapa yang membuat keputusan, mungkin tim, saya tidak bertanya karena itu logis bagi saya. Saya sudah bertemu dengannya dan dia benar-benar seorang pemimpin," ucap Klopp.

Jordan Henderson dan Jurgen Klopp

Kesabaran Henderson dengan loyalitasnya kepada Liverpool pun mencapai hasilnya di era Jurgen Klopp. Liverpool menjadi juara Liga Champions pada 2019 dan setahun setelahnya memenangi titel liga yang sudah dinanti fans selama 30 tahun.

Jordan Henderson memenangi titel Premier League yang bahkan tak pernah dilakukan Gerrard sepanjang kariernya di Liverpool. Dua warisan dari sang skipper itu mendapatkan pengakuan dari Liverpool usai memenangi titel Premier League.

"Tim Liverpool, mereka mengatakan kami tidak memiliki satu superstar. Bagi kami, tim adalah bintangnya. Ini benar. Tetapi Anda (Henderson) adalah seorang superstar yang menjadikan kami tim itu," kata Klopp.

"Setelah perjalanan yang sulit dengan banyak rintangan, semua orang dapat melihatnya - kepribadian, karakter, dan kemampuan. Paket lengkap."

"Anda memimpin klub kami untuk mengakhiri penantian selama 30 tahun. Anda melakukannya dengan rendah hati dan anggun. Anda adalah atlet dan pemain sepak bola kelas dunia tetapi Anda adalah manusia yang lebih baik lagi."

Pada usia 30 tahun Jordan Henderson belum akan memasuki penghujung kariernya. Pemain timnas Inggris semakin lengkap dengan wawasan, kualitas, dan pengalaman besar yang didapatkannya bersama Liverpool.