BolaSkor.com - Dasar klasemen. Nol kemenangan, empat hasil imbang, 10 kekalahan, dan koleksi empat poin dari 17 pertandingan Bundesliga. Statistik buruk itu bukan dimiliki klub promosi atau klub baru di Jerman, melainkan klub bersejarah di Jerman, Schalke.

Musim ini memang aneh, ya. Pandemi virus corona masih menyebar di dunia dan sepak bola tak pernah lagi sama seperti dahulu kala. Tapi di balik anomali itu tidak ada yang menyangka Schalke bisa separah Sheffield United di Premier League.

Schalke tim bersejarah di Jerman dengan raihan tujuh titel Bundesliga dan satu trofi Piala UEFA (format lama Liga Europa), pernah menelurkan nama-nama top seperti Manuel Neuer, Mesut Ozil, Julian Draxler, terdampar di dasar klasemen.

Baca Juga:

Monchengladbach Berikan Kekalahan Kedua untuk Bayern Munchen

Erling Haaland Tidak Akan Bertahan Lama di Dortmund

Youssoufa Moukoko, Wunderkind Dortmund yang Bikin Bundesliga Ubah Aturan

Christian Gross

"Ini tantangan besar. Ini tantangannya," ucap Christian Gross dikutip dari BBC Sport menyusul kekalahan 0-3 Schalke dari Hertha Berlin beberapa waktu lalu.

"Sepak bola adalah pertandingan yang luar biasa dan kami akan berusaha keras untuk menyelesaikan misi. Ini akan sangat sulit. Semua orang tahu ini. Tapi inilah sepak bola."

Christian Gross adalah salah satu pelatih yang cukup berani mengambilalih Schalke dalam kondisi saat ini. Dia jadi pelatih keempat tim musim ini setelah David Wagner, Manuel Baum, dan Huub Stevens.

Saat ini Schalke di ambang pemecahan rekor. Namun bukan rekor dalam arti yang positif dan tidak ada klub yang mau memilikinya, yakni rekor tim terburuk Bundesliga. Catatan Schalke adalah 30 laga tak pernah menang di liga terhitung sejak musim lalu.

Schalke

Rekor itu sebelumnya dimiliki oleh klub yang berlokasi di Berlin dan saat ini bermain di divisi lima sepak bola Jerman (NOFV-Oberliga Nord), Tasmania Berlin. Ironisnya Tasmania 'senang' mengemban rekor itu.

Tasmania Berlin Dikenali karena Rekor Klub Terburuk Bundesliga

Butuh mundur sampai 1965 dan 1966 untuk melihat catatan tak pernah menang sebanyak 31 kali beruntun yang dimiliki Tasmania Berlin. Ini bukan tentang Tasmania yang menjadi karakter kartun buatan Robert McKimson dalam universe Looney Tunes (Tasmanian Devil), tapi mengenai klub yang sudah berdiri sejak 1973.

Melihat tahun pecahnya rekor dan berdirinya klub tentu mengundang pertanyaan. Sabar, kami akan menjelaskannya. Semua ini berawal dari musim Bundesliga 1965 dan 1966 ketika situasi memaksa Tasmania yang berisi pemain amatir bermain di kompetisi yang jauh di atas level bermain mereka.

Pada tahun itu Bundesliga harus memiliki klub atau perwakilan dari Jerman, sementara lisensi Hertha Berlin dicabut. Alhasil Tasmania dan skuad amatir mereka bertanding di level yang jauh berbeda dari tim-tim lainnya.

Tasmania Berlin dihuni skuad amatir pada 1965 dan 1966

Hasilnya sudah bisa diprediksi. Tasmania punya catatan 31 laga tak pernah menang, lengkap dengan rekor lainnya seperti: kemenangan terendah (dua kali), raihan poin terendah (10 poin kala era sepak bola memasuki era tiga poin), dan kekalahan terbanyak (28 kali).

Berhenti rekor itu? Tidak juga. Ada juga jumlah kebobolan gol terbanyak (108 gol), paling sedikit mencetak gol (15 gol), dan selisih gol terparah (-93). Seyogyanya dengan rekor itu klub memiliki satu aib paling memalukan dalam sejarah.

Akan tapi Tasmania berbeda. Rekor itu justru dijadikan momen bagi mereka mengais popularitas dan publik mulai mengetahui Tasmania yang bermain di divisi lima sepak bola Jerman. Itu bisa dilihat dari ucapan pemilik klub Almir Nunic.

Almir Nunic (kanan)

"Saya tidak keberatan jika Schalke terus bermain tanpa kemenangan dan bahkan terdegradasi pada akhirnya," kata Numic yang notabene penggemar rival Schalke, Borussia Dortmund pada Desember lalu.

"Di sisi lain, kisah ini hanyalah bagian dari identitas Tas. Benar bahwa satu-satunya musim Bundesliga kami adalah lima setengah dekade lalu, tetapi kami selalu menjadi topik nasional."

"Kami tidak perlu melakukan apapun untuk iklan ini, yang membuat kami lebih menarik bagi sponsor. Sedikit yang akrab dengan klub liga regional FC Viktoria Berlin dan Berliner AK, tetapi (mereka) dengan Tasmania, meski pun kami hanya di kelas lima."

Menurut laporan dari Rory Smith, penulis di New York Times, Tasmania dan Almir Nunic sudah kebanjiran permintaan untuk sesi wawancara dari media top seperti Kicker, Der Spiegel, Deustche Welle, Suddeutsche Zeitung, dan ESPN.

Apabila ada penghargaan untuk tim yang paling pintar memanfaatkan rekor buruk jadi 'alat' penambah popularitas, sudah pasti Tasmania Berlin juaranya. Tentu saja Schalke tak bangga dengan rekor itu jika mereka melalui pekan 18 Bundesliga tanpa kemenangan.