BolaSkor.com - AC Milan mengakhiri penantian titel Serie A sejak terakhir meraihnya pada 2011 atau 11 tahun lalu. Il Rossoneri memenangi Scudetto 2021-2022 mengalahkan rival sekota, Inter Milan dengan jarak dua poin: Milan 86 poin dan Inter 84 poin.

Keberhasilan Milan memenangi Scudetto di musim ini merupakan suatu hal yang sangat hebat jika menilik skuad secara menyeluruh. Selain Zlatan Ibrahimovic dan Olivier Giroud tidak banyak bintang di dalam klub.

Tak ayal kredit atau pujian layak diberikan kepada sang pelatih Stefano Pioli. Mantan pelatih Fiorentina dan Inter meleburkan skuad yang memiliki kombinasi pemain muda, pemain senior, hingga mereka yang masih minim pengalaman.

AC Milan memastikan Scudetto dengan tangan mereka sendiri kala menang 3-0 di markas Sassuolo. Bek Milan yang sebelumnya membela Chelsea, Fikayo Tomori, berharap Scudetto bukan hal terakhir yang diraih Milan - mengawali lembaran baru.

Baca Juga:

Hasil dan Klasemen Akhir Serie A 2021-2022: Milan Juara, Cagliari Turun Kasta

Selebrasi Scudetto Milan: Ibrahimovic Isap Cerutu, Leao Menangis, Donnarumma Ikut Merayakan

Stefano Pioli Kehilangan Medali Juara Serie A

“Sulit untuk menjelaskan apa yang saya rasakan saat ini. Saya merasakan banyak emosi di dalam. Kami telah bekerja keras untuk memenangkan gelar dan kami berhasil. Ini gelar pertama saya bersama Milan dan saya harap ini baru permulaan," kata Tomori kepada La Gazzetta dello Sport.

“Kami tahu kami adalah tim yang kuat dan kami bisa menang. Ketika saya tiba satu setengah tahun yang lalu, kami adalah pemimpin klasemen dan target kami adalah lolos ke Liga Champions."

"Itu wajar untuk mengincar trofi musim ini. Ini perasaan yang luar biasa dan bahkan lebih baik karena saya merasa sangat baik di sini. Saya mengacu pada klub, kota, dan rekan tim saya.”

Tomori (24 tahun) sudah gabung Milan dari Januari 2021 sebagai pemain pinjaman dari Chelsea. Milan kabarnya akan mempermanenkan kontrak Tomori. Bek asal Inggris itu juga membandingkan sepak bola di Inggris dan Italia.

“Ini sebagian besar tentang intensitas. Ada lebih banyak di Inggris dan tim berlari lebih banyak. Di Italia, ada lebih banyak taktik dan kami bergerak sebagai satu unit daripada individu. Selain ini, tidak ada banyak perbedaan, hanya beberapa detail kecil," pungkas Tomori.