BolaSkor.com - Pandemi virus corona telah memengaruhi sepak bola secara global dalam dua bulan terakhir. Dampaknya tidak sekedar menghentikan pertandingan kompetitif di liga-liga top Eropa, tapi juga kepada gaji dan transfer pemain.

Musim 2019-20 seharusnya sudah berakhir dan tim-tim memasuki rehat jelang musim baru - plus Piala Eropa 2020 dimulai. Akan tapi kompetisi belum selesai karena virus corona dan sejumlah masalah muncul.

Membahas permasalahan mengenai gaji atau transfer pemain dari perspektif pelatih, pemain, dan figur-figur sepak bola sudah biasa. Kali ini Stefan Backs, agen Alexander Nubel, Ralf Fahrmann, dan Marco Hoger berbagi cerita mengenai isu tersebut.

Baca Juga:

Cerita Pelatih Atalanta yang Tak Sadar Terinfeksi Virus Corona

Lionel Messi: Karena Corona, Sepak Bola Tidak Akan Pernah Sama

Suka Duka Luis Suarez di Masa Pandemi Virus Corona

Alexander Nubel dan Stefan Backs

Direktur Siebert & Backs Fussballmanagement, agensi sepak bola di Dortmund itu mengaku adanya penyesuain dari agen pemain soal pekerjaan mereka di tengah pandemi virus corona. Pasalnya klub-klub saat ini fokus menjaga kondisi keuangan.

"Bisnis transfer hampir sepenuhnya mengering karena pada saat ini, klub hanya harus mencari tahu bagaimana mereka dapat bertahan dari krisis," ucap Backs kepada DW.

"Ini telah mengubah fokus kami. Sekarang pemain lebih cenderung datang kepada kami dengan pertanyaan seperti: Apa selanjutnya? Apa aspek hukum dari pemotongan gaji? Bisnis kami yang sebenarnya, transfer pemain, cukup sepi saat ini."

Dampaknya ada pada kehati-hatian dari klub sebelum merekrut pemain baru di bursa transfer.

"Semua pemain kami saat ini terikat kontrak, sehingga mereka berada dalam posisi yang relatif baik. Tetapi hal-hal berbeda untuk pelatih yang kami wakili," imbuh Backs.

"Ini lebih sulit karena klub tidak tahu bagaimana mereka harus merencanakan. Karena alasan ini, banyak hal yang ditahan," lanjut dia.

Pandemi virus corona memengaruhi kondisi keuangan klub dan berujung kepada menurunnya daya beli. Alhasil inflasi harga pemain tak terjadi dan banderol mereka diprediksi relatif normal. Bahkan gaji-gaji pemain juga dipotong demi menjaga kondisi finansial klub.

"Dalam jangka pendek hanya pemain terbaik yang akan terlibat dalam transfer besar, dan pemain Bundesliga yang 'normal' akan melihat nilainya menurun. Pemain seperti ini tidak akan lagi menarik biaya transfer tinggi," tambah Backs.

Terakhir Backs juga mengomentari isu pembatasan gaji yang akan diterapkan di Eropa dalam menyikapi pandemi terkini. Backs tidak setuju akan aturan yang juga diterapkan di MLS (Major League Soccer) Amerika Serikat itu.

"Menurut saya, batasan gaji tidak layak. Kita hidup di pasar bebas. Terserah semua orang untuk memutuskan sendiri berapa banyak uang yang ingin mereka belanjakan untuk seorang pemain," tegas Backs.

"Jika pembatasan digunakan, mereka harus diterapkan secara internasional. Saya percaya ini tidak mungkin. Klub harus mulai dengan membatasi diri mereka sendiri dan menahan diri dari transfer yang terlalu berisiko."

"Saya tidak mendukung peraturan yang diberlakukan, saya juga tidak berpikir mereka dapat dipertahankan secara hukum," pungkas Backs.