BolaSkor.com - Kopi dan sepak bola rasanya keduanya memiliki hubungan erat. Kopi acap dijadikan rekan pendamping saat bergadang menonton laga sepak bola.

Hubungan kopi dan sepak bola sejatinya lebih daripada itu dan sudah ada sejak dahulu kala. Ambil saja contoh pada dekade 1930-an. Pada era tersebut muncul kisah Matthias Sindelar.

Siapakah Matthias Sindelar? Dia adalah seorang pemain sepak bola asal Austria yang menjadi bintang pada eranya. Sindelar termasuk salah satu dari daftar panjang orang terkenal yang gemar menghabiskan waktunya di kedai kopi. Nama Sindelar mencuat karena perannya sebagai sumber gol andalan.

Baca Juga:

Wawancara Eksklusif Jacksen F. Tiago: Kopi Jadi Teman dalam Karier di Sepak Bola

4 Pemain dan Figur Sepak Bola yang Berkecimpung di Bisnis Kedai Kopi

Timnas Austria

Pada era tersebut, Austria merupakan salah satu raksasa sepak bola. Bahkan timnas Austria disemati julukan Wunderteam alias Tim Ajaib. Timnas Austria pula yang belakangan dikenal sebagai pionir taktik sepak bola Total Football.

Sindelar merupakan kunci dari taktik legendaris tersebut. Secara tradisi, seorang penyerang tengah adalah sosok tinggi besar dengan pergerakan yang statis. Tugas penyerang kala itu adalah berdiri di depan gawang dan melakukan sentuhan akhir yang menjadi gol.

Tapi Sindelar berbeda. Dia sering ikut turun membantu pertahanan. Dia menjadi baris pertama pertahanan saat timnya kehilangan bola. Sindelar juga kadang berada di lini tengah ikut dalam aliran bola tanpa meninggalkan tugas utamnya sebagai pencetak gol.

Apa yang dilakukan Sindelar pada zaman ini rasanya sudah biasa. Namun kala itu yang dilakukan Sindelar disebut revolusioner. Sepak bola Eropa tidak lagi hanya menendang bola dari belakang ke depan. Penikmat sepak bola yang tadinya hanya berkiblat ke Inggris, menemukan pilihan lain dalam hal taktik.


Sindelar, Total Football, dan Kopi

Kolomnis sepak bola Jonathan Wilson dalam bukunya "Inverting the Pyramid" menguraikan bahwa kelahiran Wunderteam dan Sindelar merupakan perwakilan dari spirit of the coffee house yang saat itu kental di Wina, Austria.

"Para pemain, suporter, petinggi klub, pelatih, dan jurnalis bercampur. Fans Austria Vienna, misalnya, mereka rutin bertemu di Cafe Parsifal, sedangkan pendukung Rapid di Cafe Holub," tulis Wilson.

Bayangkan kedai kopi saat itu seperti bar tempat ultras berkumpul saat ini. Perbedaannya adalah bahwa tempat-tempat ini dipenuhi dengan laki-laki necis yang mengungkapkan pikiran mereka tentang permainan yang indah. Mereka juga meminum kopi, bukan bir. Mereka berbincang, bukan berteriak menyanyian chant.

Di kedai kopi, pelanggannya beragam, begitu pula topik yang didiskusikan. Mereka memunculkan pemahaman dari permainan secara mendalam.

“Awalnya adalah klub kafe dari komunitas kriket elite. Itu segera menjadi titik pertemuan untuk skena sepak bola Wina. Sebagai tempat di mana turis asing ikut berdiskusi soal sepak bola. Semua orang bisa menaruh kata di meja bundar," tulis Wilson.

Dalam lingkungan ini, tidak ada bias suporter. Mereka bisa berinteraksi dengan pemain yang merupakan kesayangan. Salah satu pahlawan gerakan ini adalah Sindelar.

Matthias Sindelar

Kritikus teater Alfred Polgar termasuk yang antusias tentang permainan Sindelar yang disebutnya seperti catur. Polgar pun menulis tentang kepiawaian Sindelar. Dalam tulisannya Polgar bagaimana di dan rekan-rekan penulisnya membahas cara Sindelar mencetak gol. Dari sinilah kepiawaian Sindelar dan taktik permainan Austria mulai menyebar.

Sukses di Austria, permainan total football mulai menyebar. Hungaria menjadi yang pertama yang mengadaptasinya. Lewat taktik yang disadur dari Austria inilah Hungaria mencapai puncak kejayaannya pada era 1950-an. Saat itu muncul julukan Magical Magyars.

Hungaria mampu mengembangkan taktik yang diadaptasi dari Wunderteam. Dunia disuguhkan taktik sepak bola yang belum pernah dilihat sebelumnya. Pola di mana posisi pemain hanyalah patokan awal. Ketika peluit dibunyikan, para pemain bergerak dinamis, sistem yang belakangan diadaptasi lebih lanjut oleh Totaal Voetbal ala Belanda.

Tradisi bermain Hungaria ini kemudian dibawa ke Belanda oleh Ernst Happel dan diperbarui oleh Rinus Mitchel. Posisi Hidegkuti diwariskan kepada Johann Cruyff. Setelah itu Cruyff bersama Rinus Mitchel menularkan taktik ini saat berada di Barcelona.

Semua itu bisa ditarik sebuah benang merah ke kedai kopi di Wina, Austria, pada era 1930-an. Para penulis, kritikus, dan pelatih yang terlibat dengan gerakan ini benar-benar ingin melihat sepak bola berkembang. Dan untuk sementara waktu, dengan Sindelar dan Wunderteam, itu benar-benar terjadi.

Tempat-tempat seperti kedai kopi Wina itu sudah lama hilang. Sebagai gantinya, ruang itu telah pindah ke platform seperti Twitter. Alih-alih aroma sup hangat dan campuran kopi aromatik yang menggoda, penggila sepak bola berbagi pendapat yang dikelilingi segudang gangguan.