BolaSkor.com - Fenomena star syndrome pada dunia sepak bola bukan hal asing. Para pemain muda sangat mudah mencapai kata puas dan merasa sudah seperti bintang dalam perjalanan karier yang masih seumur jangung.

Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk seharusnya dijadikan pedoman para pemain muda. Bukan ketenaran yang justru membuat karier sepak bola mereka meredup ketika memasuki usia emas dalam sapak bola.

Fenomena ini menarik dalam dunia sepak bola. Ketika sedang berada dalam puncak performa, pemain-pemain justru seperti lupa daratan dan bermain tidak sesuai dengan ekspektasi.

Baca Juga:

TC Timnas Indonesia U-16 Akan Kembali Digelar di Bekasi pada 9 Agustus 2020

Segrup Timnas Indonesia U-16, Pelatih Jepang Beberkan Kekurangan Timnya

Syamsir Alam sempat digadang-gadang menjadi bintang di sepak bola Indonesia justru menghilang begitu saja. Syamsir yang merupakan jebolan SAD Uruguay kini tak aktif sebagai pesepak bola profesional dan malah banting setir ke dunia entertain.

Pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti perlahan sudah melihat fenomena ini. Bima Sakti membatasi para pemainnya agar tidak terkena sindrom tersebut. Salah satu hal yang dilakukannya adalah membatasi media sosial.

Pelatih Timnas Indonesia U-16, Bima Sakti. (PSSI)

"Saya ingin mereka bijak menggunakan media sosial. Kami sangat mewanti-wanti masalah media sosial itu karena dapat berpengaruh ke mental pemain. Handphone-nya dikumpulkan semua, nanti setelah asar baru diizinkan menggunakannya sampai jam 21.00 WIB," ujar Bima.

Media sosial tampak punya peran penting dalam perjalanan karier pesepak bola. Hal tersebut diakui oleh pelatih penjaga gawang Timnas Indonesia U-16, Markus Haris Maulana atau yang biasa lebih dikenal dengan Markus Horison.

Baca Juga:

Bima Sakti Berharap TC Timnas Indonesia U-16 Selanjutnya Bisa Lebih Optimal

Penegasan Ambisi dari Gelandang Jepang Jadi Peringatan bagi Timnas Indonesia U-16

Mantan penjaga gawang PSMS Medan itu menegaskan bahwa pemain sepak bola seharusnya mengurangi penggunaan sosial media. Bahkan Markus menyebutkan bahwa pemain bola itu atlet bukan seorang artis.

"Salah satu yang membuat penampilan pesepak bola menurun adalah sosial media. Jadi pemain harus kurangi sosial media, karena mereka itu atlet bukan artis. Jadi yang harus ditonjolkan itu prestasi bukan sensasi," ujar Markus ketika dihubungi oleh BolaSkor.com.

Senada dengan Markus dan Bima, Ponaryo Astaman juga turut mengomentari hal ini. Bahkan mantan pemain PSM Makassar itu menilai perlu mendatangkan psikolog untuk bisa mengembalikan mental pemain. Karena bagaimana pun mereka harus kembali ke performa terbaik mereka.

“Latihan yang maksimal dan kembali fokus untuk meraih apa yang sudah menjadi tujuan utama mereka. Bahkan kalau perlu mereka harus mendatangkan psikolog untuk kembali membangun mental mereka dan bisa kembali bermain seperti semula,” ujar Ponaryo Astaman.

Bambang Pamungkas. (BolaSkor.com/Hadi Febriansyah)

Sementara, Indriyanto Nugroho berharap pemain muda Indonesia bisa menjaga diri. Dengan attitude baik, pemain seharusnya bisa membalas pujian dengan prestasi bukan kesombongan.

Dia juga mengakui, era memang sudah berubah. Berbeda ketika jaman dulu saat masih eksis bermain. Rekan satu angkatannya seperti Kurniawan Dwi Yulianto dan Bambang Pamungkas sempat menerima hal ini, tapi mereka bisa menjaga attitude sehingga menjadi seperti sekarang.

“Pertama jelas kembali ke attitude pemain itu sendiri bagaimana mereka menyikapi itu semua, karena itu yang membuat performa pemain mau bagus atau buruk. Saya rasa mereka juga tidak siap menerima hal ini, sebenarnya kalau mereka pintar dan mau, ini bisa dijadikan ajang mereka untuk bisa terus mengembangkan penampilan mereka,” kata Indri.

“Sekarang siapa yang tidak kenal Bepe dan Kurniawan, pada jaman ya mereka juga mungkin mendapat hal yang sama seperti pemain muda sekarang. Tapi mereka sudah siap dah kedua orang itu mampu menampilkan performa mereka hingga sekarang. Diatas langit masih ada langit itu yang harus mereka tahu,” pungkas Indri.