BolaSkor.com - 15 tahun lalu, timnas Ukraina melalui fase grup Piala Dunia yang berisikan Spanyol, Tunisia, dan Arab Saudi sebagai runner-up. Ukraina melaju terus hingga ke perempat final setelah menyingkirkan Swiss dan kemudian kalah 0-3 dari Italia (tim yang kemudian menjadi juara dunia).

Kala itu Ukraina dipimpin penyerang berusia 29 tahun dengan 64 caps dan memperkuat AC Milan, Andriy Shevchenko. 15 tahun berlalu dan kini berusia 44 tahun, Sheva - sapaan akrab Shevchenko - membawa Ukraina ke perempat final Piala Eropa 2020.

Pada 2006 Sheva memimpin Ukraina ke perempat final pertama mereka dalam sejarah Piala Dunia, kini sosok yang sama membawa Zbirna - julukan Ukraina - ke perempat final Piala Eropa pertama dalam sejarah.

Ukraina melawan Swedia di 16 besar Piala Eropa 2020. Sempat unggul dari gol Oleksandr Zinchenko, Swedia sempat menyamakan kedudukan dari Emil Forsberg, sebelum di babak tambahan Artem Dovbyk mencetak gol kemenangan 2-1 Ukraina.

Baca Juga:

Sederet Fakta Keberhasilan Ukraina Melaju ke Babak Perempat Final

Piala Eropa 2020: Jumpa Inggris, Ukraina Berpeluang Dapat Kekuatan Tambahan

Hasil Analisis Terbaru: Inggris Favorit Juara Piala Eropa 2020

Andriy Shevchenko

"Dengan performa dan komitmen, tim kami layak mendapatkan cinta dari seluruh negara," ucap Andriy Shevchenko selepas laga berakhir.

"Ini pencapaian bersejarah. Pesan saya kepada semuanya - mari merayakannya, kita semua hanya hidup sekali dan kita mungkin tidak pernah mengulang momen-momen seperti ini lagi," imbuh Zinchenko.

Live your life. Jalani hidup Anda dan nikmati setiap momennya. Kurang lebih seperti itu yang ingin disampaikan Zinchenko. Apapun hasil Ukraina melawan Inggris di perempat final Piala Eropa tidak jadi masalah. Ukraina sudah mengukir sejarah dan Sheva berperan penting di balik perubahan timnya.

Sosok Legendaris, Otak Diprogram untuk Memercayai Ilmu Pengetahuan

"Dia (Sheva) dan stafnya mengubah mentalitas dalam tim," kata junarlis TV di saluran 1+1, Volodymyr Zverov dikutip dari BBC Sport beberapa waktu lalu.

"Mereka mencoba menjelaskan kepada para pemain bahwa mereka dapat bersaing dengan yang terbaik. Dan itu berhasil. Misalnya, Vitaly Mykolenko, bek kiri di Dynamo Kiev, benar-benar 'memakan' Cristiano Ronaldo ketika mereka bermain imbang 0-0 dengan Portugal di Lisbon pada tahun lalu di Kualifikasi.

"Dia membuat para pemain percaya diri. Tim kami mulai bermain lebih baik, mereka lebih terorganisir. Saya yakin status legendarisnya membantunya. Ada atmosfer hebat di tim," tambah Oleksiy Byelik, mantan rekan setim Shevchenko di Ukraina.

Sheva sosok legendaris dan predator kotak penalti kala bermain

Menyoal status legendaris Sheva tidak perlu diragukan lagi. Satu Scudetto, satu titel Liga Champions, serta memenangi Ballon d'Or pada 2004 sudah cukup 'berbicara' banyak mengenai status Sheva sebagai pemain.

Sheva mantan penyerang top Eropa dan salah satu pemain terbaik pada abad 21 dan di generasi sepak bola Ukraina. Kariernya hanya sedikit ternodai dengan karier singkatnya di Inggris dan mendapatkan pemberitaan negatif dari media sana kala membela Chelsea.

Akan tapi hal itu tak menghilangkan warisannya sebagai penyerang top dalam generasi terbaik skuad Milan. Bahkan Pemilik Chelsea, Roman Abramovich respek kepadanya dan menurut Independent, bos asal Rusia itu sering meminta saran dari Sheva untuk keputusan terpenting di klub.

"Dia (Sheva) selalu jadi pemimpin. Sepertinya itu juga di dalam dan luar lapangan pertandingan. Itulah mengapa tak mengejutkan lagi dia menjadi pelatih," tambah Byelik.

Paras wajah Sheva selalu kalem, tetapi setiap keputusan diambilnya dengan pengamatan cermat. Apabila saat bermain wajah kalemnya itu 'menipu' dengan keganasannya mencetak gol, maka saat ini wajahnya yang kalem mengandung 1001 arti: pemikiran terperinci di otak mengenai sistem bermain Ukraina.

Valeriy Lobanovskyi dan Andriy Shevchenko

Sheva adalah murid dari dua pelatih legendaris, Valeriy Lobanovskyi dan Carlo Ancelotti. Lobanovskiy menggunakan komputasi dan nilai dari tes kepada pemain-pemainnya untuk memastikan timnya bermain seperti program komputer.

Kala Shevchenko ke Milan, Lobanovskiy memberikannya pesan terperinci mengenai segala persiapan. Sheva semakin jadi dengan Milan Lab dan kemudian pernah berkata kepada James Horncastle di Guardian, "Matematika tidak pernah berbohong."

Di sinilah segalanya mulai menarik. Sheva bahasa ibunya adalah Rusia dan menguasai bahasa Inggris dan Italia, tetapi tidak begitu memahami Ukraina hingga sempat ada kritikan meski Ukraina selalu mencintainya.

Tapi sosoknya sudah sangat 'Ukraina' dengan keyakinan pada ilmu pengetahuan dan statistik. Sheva datang dengan mempersiapkan tim kepelatihan terbaiknya.

"Kami ingin lebih ekspansif dan memiliki kontrol permainan lebih melalui penguasaan bola, transisi positif. Kami ingin menjadi tim yang menciptakan banyak peluang," tutur Sheva kala ditunjuk menjadi pelatih Ukraina pada 2016.

"Italia di beberapa kasusnya tim yang sama seperti kami. Melawan tim-tim serius (kuat), semakin banyak kami mendapatkan waktu, maka akan semakin sulit lawan melawan kami," tutur staf kepelatihan Ukraina, Andrea Maldera.

Staf Kepelatihan bak Tim Impian

Sheva bukan pemikir dalam dan perfeksionis seperti Pep Guardiola dengan banyak ide bermain, tetapi ia tahu persis bagaimana ia ingin timnya bermain dan juga peran para pemainnya.

Tidak usah heran jika di sesi latihan Ukraina Shevchenko sering terlihat mengikuti program yang dijalankan. Partisipasinya - tidak sekedar memerintah - sederhana tapi berarti banyak untuk Ukraina.

Pertama, para pemain muda Ukraina (Ukraina tim termuda keempat di Piala Eropa 2020) mendapatkan kehormatan dan belajar dari sosok legendaris sepertinya, lalu yang kedua Sheva ingin mengetahui sendiri bagaimana sistem bermain yang diterapkannya.

Andriy Shevchenko turut berlatih di sesi latihan Ukraina

Asisten pelatihnya memantaunya dan juga menerbangkan drone selagi Sheva memeragakan sudut untuk mengoper bola, ruang terbuka, dan lainnya. Itu semua terjadi dengan terperinci.

Sheva membentuk 'tim impian' dalam skuad kepelatihan bernuansa Italia yang memang terkenal dengan teknik dan taktik bermain sepak bola.

Mauro Tassotti menjadi asisten pelatih Sheva, Tassotti legenda Milan dan dibujuknya pergi dari klub setelah 36 tahun. Maldera menjadi pakar dari segi analisis, lalu permainan progresif ada murid dari Maurizio Sarri, Luigi Nocentini.

Terakhir untuk kebugaran ada pelatih Andrea Azzalin, dia sosok di balik layar kebugaran Leicester City kala menjadi juara Premier League pada 2015-2016.

Staf kepelatihan timnas Ukraina

Seperti kebanyak tim lainnya di Piala Eropa 2020, rompi StatSports GPS juga digunakan Ukraina untuk melihat lebih dalam informasi dari data pemain. Bedanya, Ukraina satu-satunya tim yang mengenakannya di dalam pertandingan.

Data sangat penting untuk Sheva. Berdampak kepada permainan Ukraina yang secara kolektif, menurut Opta, total berlari sebanyak 456,8 kilometer sejauh ini di Piala Eropa 2020. Itu ketiga tertinggi setelah Italia dan Spanyol (50 kilometer lebih dari Inggris).

"Data atletik sangat penting bagi kami. Mereka memungkinkan kami untuk membandingkan kinerja kami dengan kejuaraan terbaik dalam peran tertentu, atau membandingkan gelandang kami dengan tim nasional Italia untuk memahami potensi secara kuantitatif," kata Maldera kepada proyek PASS.

Lima tahun berlalu sejak Sheva datang melatih Ukraina dan ia sudah melakukan revolusi mental, dari tim yang biasanya bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik, menjadi tim yang banyak berlari dan sebisa mungkin mengambilalih penguasaan bola.

"Anda harus selalu percaya. Anda dapat membalikkan permainan di detik terakhir. Ada banyak contoh pertandingan besar yang diputuskan di akhir, seperti Manchester United melawan Bayern pada 1999. Hanya butuh dua menit."

"Tim-tim hebat memiliki mentalitas ini. Ketika Anda melatih pemain top, mereka harus percaya bahwa permainan bisa berlangsung hingga 10 detik terakhir."

Itulah mentalitas yang ditanamkan Shevan dan sudah dimiliki skuad timnas Ukraina saat ini.

Simak Rangkuman keseruan Piala Eropa 2020 di sini