BolaSkor.com - Manajer Manchester City Pep Guardiola merespons kritikan kepada pilihan taktik dan susunan pemain City ketika tampil melawan Chelsea di final Liga Champions, Minggu (30/05) dini hari WIB. Guardiola mengaku telah menurunkan yang terbaik.

Man City sukses menembus final Liga Champions untuk kali pertama dalam sejarah klub, tetapi penantian titel tak jua berakhir karena mereka kalah 0-1 dari Chelsea melalui gol tunggal Kai Havertz di menit 42.

Man City mendominasi penguasaan bola hingga 61 persen tapi mereka hanya bisa sekali melepaskan tendangan tepat sasaran ke gawang Chelsea yang dijaga Edouard Mendy (dari tujuh percobaan). Pemilihan pemain Guardiola juga cukup menarik.

Pada formasi 4-3-3 City bermain dengan banyak pemain ofensif dari Raheem Sterling, Riyad Mahrez, Kevin De Bruyne, Bernardo Silva, dan Phil Foden, menyisakan Ilkay Gundogan sebagai gelandang jangkar - Gundogan juga bukan gelandang bertahan murni.

Baca Juga:

Final Liga Champions 2020-2021: Chelsea Juara, Tuchel Kryptonite Pep Guardiola

Rating Pemain Chelsea dan Man City: Kante Fantastis, Sterling 'Hilang'

8 Fakta Menarik dari Final Liga Champions, Tuchel Harumkan Nama Jerman

Pep Guardiola dan Thomas Tuchel

Akan tapi tidak ada satu pun striker murni yang bermain meski Guardiola punya Gabriel Jesus dan Sergio Aguero di bangku cadangan. Keduanya baru turun di babak kedua.

Tak ayal pemilihan Guardiola dapat sorotan mengingat Chelsea tak mendapatkan banyak serangan berbahaya di kotak penalti mereka tanpa adanya penyerang murni City. Guardiola merespons kritikan tersebut.

"Saya melakukan apa yang saya pikir sebagai keputusan terbaik (soal pemilihan pemain). Ada tiga atau empat momen dengan umpan silang dari garis pinggir tetapi kami tidak sampai," terang Guardiola kepada BT Sport.

"Saya melakukan yang terbaik dalam pemilihan. Seperti musim lalu melawan Olympique Lyon, seperti saat melawan PSG dan Dortmund. Saya melakukan seleksi terbaik untuk memenangkan pertandingan, para pemain tahu itu. Saya pikir Gundogan bermain bagus, luar biasa."

"Kami melewatkan sedikit peluang, tetapi di babak pertama untuk melalui garis (pertahanan Chelsea). Di babak kedua itu jauh lebih baik. Itu pertandingan yang ketat. Kami memiliki peluang hampir yang sangat besar."

Musim Manchester City

Impian quadruple yang berubah menjadi treble Man City berakhir setelah disingkirkan oleh lawan yang sama (Chelsea) di Piala FA dan Liga Champions. Meski begitu perjalanan musim Man City tidaklah buruk.

Kevin De Bruyne dkk memiliki pertahanan terkuat di liga dan sukses memenangi Premier League bersama Piala Liga. Keberhasilan mencapai final untuk kali pertama juga menjadi catatan tersendiri untuk rival sekota Manchester United tersebut.