BolaSkor.com - Jose Mourinho is back. Sempat dicibir Mourinho telah "habis" karena prestasinya yang menurun dalam beberapa tahun terakhir, Mourinho kini telah memulihkan status The Special One di Eropa.

Mourinho membawa Roma ke final UEFA Conference League melalui kemenangan 1-0 atas Leicester City, Jumat (06/05) dini hari WIB, pada leg dua semifinal di Stadio Olimpico. Roma menang melalui gol Tammy Abraham (11').

Il Giallorossi lolos ke final dengan agregat gol 2-1 dan akan menghadapi tim Eredivisie, Feyenoord, di final yang akan dihelat di Air Albania Stadium, Kamis (26/05) pukul 02.00 dini hari WIB.

Baca Juga:

Roma Habiskan 100 Juta Euro di Bursa Transfer, Jose Mourinho Belum Puas

Jose Mourinho, Sosok Tepat Bangkitkan Kejayaan AS Roma?

Rekor Gol Tammy Abraham Hanya Kalah dari Robert Lewandowski

"Sebelum pertandingan dimulai, para penggemar memenangkan pertandingan ini untuk kami," kata Abraham kepada BT Sport selepas laga berakhir.

“Kami bisa mendengar mereka sebelum masuk ke stadion dan selama pemanasan. Kami bahkan tidak berada di lapangan dan kami mendengarnya. Kemenangan itu untuk mereka dan tim saya. Mudah-mudahan kami bisa terus menjaga momentum ini."

Roma belum memenangi trofi tapi pencapaian mereka mencapai final dengan potensi meraihnya layak diapresiasi, khususnya kepada Mourinho. Dia jadi manajer pertama yang mencapai final turnamen besar di Eropa dengan empat klub berbeda.

Klub itu yakni Porto (Liga Europa dan Liga Champions), Inter Milan (Liga Champions), Manchester United (Liga Europa), dan kini dengan Roma (Conference League). Dia juga jadi pelatih pertama yang mencapai final Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League.

Betapa pentingnya kompetisi ini untuk Mourinho bisa dilihat kala ia menangis selepas keberhasilan Roma mencapai final. Ya, Mourinho berpegang teguh dengan keyakinan pentingnya turnamen ini, meski Conference League dipandang sebelah mata karena kalah tenar dari Liga Europa dan Liga Champions.

“Ketika Anda bekerja di Roma, tinggal di Roma dan menghirup Roma, Anda menghirup klub ini karena ini adalah klub kota yang sebenarnya,” terang Mourinho.

“Saya merasa sejak hari pertama itu sangat besar. Tapi tidak ada kemenangan dan tidak banyak final. Sejarah tidak terkait dengan dimensi sosial klub."

“Saya sangat emosional. Tentu saja saya memiliki momen yang lebih besar dari ini, tetapi saya tidak merasakan untuk diri saya sendiri, saya merasakan untuk orang-orang dan para pemain saya. Ini bagi kami, adalah Liga Champions kami.”

Roma menapaki final turnamen di Eropa untuk kali pertama sejak 1991. Mourinho menilai Roma sebagai satu keluarga dan menegaskan target memenangi trofi tersebut.

“Gaya menekan kami berisiko, tetapi kami tidak mampu melakukannya selama 90 menit. Kami duduk lebih dalam, berubah menjadi formasi 5-3-1-1, menjaga garis ketat dengan upaya luar biasa dari para gelandang," terang Mourinho.

"Tidak mudah menjaga bola tanpa (Henrikh) Mkhitaryan, tetapi mereka bekerja sangat keras. Sekali lagi, ini adalah keluarga, begitulah cara saya menggambarkan tim ini."

“Para pemain pantas mendapatkan ini, kami memiliki tiga pertandingan Serie A tersisa untuk diakhiri sebaik mungkin. Kami memiliki lintasan yang fantastis untuk mencapai final, kami kehilangan poin di Serie A untuk mencapai itu, tetapi sekarang kami berada di final dan kami ingin menang," tegas dia.