BolaSkor.com - Bajingan genius! Julukan itu yang paling tepat menggambarkan kehebatan Diego Armando Maradona mengolah bola. Setidaknya begitu Jorge Valdano memandang sosok Maradona, eks duetnya di lini depan Argentina saat membawa pulang Piala Dunia Meksiko pada 1986 silam.

Pujian ajaib itu terlontar setelah Maradona mencetak gol kedua lawan Inggris di Stadion Azteca, Meksiko, babak perempat final Piala Dunia 1986. Gol solo run ajaib yang mengelabui lima pemain Inggris, termasuk kiper Peter Shilton, dan tujuh adangan sekaligus, yang didapuk FIFA sebagai Gol Terbaik Abad ke-20.

Baca Juga:

Suap Militer Argentina dan Cerita Berbeda Diego Maradona jika Gabung Sheffield United

10 Kutipan yang Menggambarkan Kehebatan Diego Maradona

Maradona Meninggal Dunia, Pele: Semoga Bisa Bermain bersama di Surga

Sesaat setelah gol itu, Valdano menghampiri Maradona memujinya sebagai pemain terbaik dunia. Namun, balasan Maradona malah membuatnya semakin kagum tergeleng-geleng. Pencetak gol pertama 'Tangan Tuhan' di laga itu malah minta maaf karena tidak memilih opsi memberi umpan.

"Aku bisa melihat bahwa kamu berlari bersamaku, tapi aku tidak mengoper bola kepadamu karena aku pikir aku bisa melakukannya (cetak gol) sendiri," kenang Voldano akan balasan Maradona.

Saat mengenang momen itu, Voldano dalam kolumnya di Guardian 20 tahun berselang, lugas menulis, "Bajingan, di atas semua yang telah dia (Maradona) lakukan (melewati tekel, solo run dan mencetak gol), dia ternyata masih bisa melihatku!"

Gol kelas dunia yang melambungkan nama Maradona sebagai pemain jenius di usia 26 tahun. Bahkan, FIFA menobatkan dia bersama Pele dari Brasil sebagai pemain nomor 1 terbaik dunia sepanjang masa. Kolumnis sepak bola Indonesia Zen RS secara indah menggambarkan gol terbaik dunia itu layaknya gerakan tarian balet di atas lapangan hijau.

Grand Jete

Sendirian, Maradona membawa bola sepanjang 60 meter untuk mencetak gol, alias solo run. Dan semuanya berlangsung hanya dalam 10-12 detik. Namun, Zen melihat yang membuatnya menjadi gol terbaik bukan hanya itu, karena banyak pemain lain mampu mencetak gol solo run di Piala Dunia atau ajang lainnya. Dia menekankan Maradona setidaknya mampu 2 kali melakukan gerakan sulit yang belum tentu mampu dilakukan semua penari balet profesional: Grand Jete.

Grand Jete secara harafiah berarti lompatan besar. Gerakan khas balet lompatan di udara yang dimulai dengan salah satu kaki dan lantas mendarat dengan kaki berbeda. Saat melayang, dua kaki penari biasanya merentang. Kadang antara kaki yang di depan dan belakang bisa membentuk satu garis vertikal atau sudut tertentu.

Gerakan yang terhitung sulit dan biasanya hanya dilakukan penari terlatih. Lompatan grand jete ke arah depan biasa disebut en avant. Maradona terlihat melakukannya saat menghindari kejaran Peter Reid dan mengelabui tekel Terry Fenwick tepat sebelum memasuki kotak penalti Inggris. Lebih hebat lagi, tingkat kesulitan bertambah mengingat kondisi lapangan di Stadion Azteca yang buruk, seperti yang diungkapkan eks penyerang Inggris Gary Lineker pada tributnya kepada Maradona di BT Sports.

Trik Maradona menyentuh dan mengubah arah gerak bola sembari melompat jauh memang beda dari pemain kebanyakan. Rata-rata pesepak bola memilih dribbling cepat dengan langkah pendek.

Apa yang dilakukan Kapten Argentina itu mensyaratkan ada ketepatan yang presisi. Saat kaki kiri mendarat, saat itu pula punggung kaki menyentuh sisi bola. Jika salah perhitungan dan koordinasi buruk, salah-salah kaki Maradona bisa menginjak bola dan berujung cedera parah.

Menurut Zen RS, yang dilakukan Maradona masih disebut petit jete en avant, atau jete kecil melangkah maju membentuk sudut 45 derajat. Jete kecil ala Maradona ini adalah gerak dasar yang bila dikembangkan dapat menjadi Grand Jete dengan satu kaki ke depan membentuk suduh 90-180 derajat. Grand jete sendiri adalah gerakan tingkat lanjut dalam balet.

Namun, Zen tidak ragu menganggap apa aksi Maradona sebagai Grand Jete di dunia sepak bola. Alasannya, karena tingkat kesulitan melakukannya saat bermain bola dan keindahan yang diberikan kepada pencinta sepak bola.

"Saya tidak ragu mengatakan itu adalah Grand Jete, apalagi melihat hasil dan tingkat kesulitan yang dihadapi Maradona, termasuk rumput yang licin dan laju bola yang berubah," puji dia.

Berpulang Tapi Abadi

Generasi selepas 1997 mungkin tak bisa melihat aksi-aksi ajaib Maradona langsung di atas lapangan hijau atau layar kaca. Apalagi kini setelah sosok pemegang nomor punggung 10 Timnas Argentina di era 1980-90-an mengembuskan nafas terakhir akibat serangan jantung di Buenos Aires, Rabu (25/11).

Tak ada lagi sepak terjang kontroversialnya, entah sebagai komentator ataupun di dunia kepelatihan. Meski begitu dunia sepak bola takkan melupakan pesepak bola kelahiran Lanus Buenos Aries 30 Oktober 1960 itu. Kisah keajaiban dan bagaimana dia menghibur serta memotivasi penggemar di dunia selalu abadi.

Mulai dari aksi-aksi memukau ketika masih bermain di Timnas Argentina, Sevilla, Napoli, Barcelona, atau saat menutup kariernya di Boca Juniors 1997 silam. Jatuh bangun terjerat kecanduan narkoba dan kasus doping hingga akhirnya berhasil bangkit kembali. Serta rekam jejak kepelatihan menukangi Timnas Argentina (2008-2010) hingga petualangannya ke kota kartel narkoba Culiacán, Meksiko, membesut klub lokal Dorados de Sinaloa.

Meski meraih sukses dan kekayaan luar biasa, Maradona tak pernah melupakan dirinya yang tumbuh dari keluarga miskin di perkampungan kumuh dan keras Buenos Aires. Paling tidak itu yang diwujudkannya secara nyata ketika melatih Dorados. Kebijakan pertama Maradona ketika kembali ke Meksiko pada 2018 silam itu langsung menaikkan gaji staf dan para pemain.

Alasannya, dia tak mau staf dan pemain Dorados hidup kekurangan karena lebih memilih berkarier di sepak bola, ketimbang menjadi bandar narkoba atau bekerja di kebun opium yang sebetulnya lebih menjanjikan uang berlimpah.

"Mereka adalah pria yang pantas dihargai, mereka banyak berkorban. Mereka bukan Cristiano Ronaldo atau Messi. Bukan juga Neymar yang memiliki banyak keuntungan. Anak-anak ini hidup dari gaji," kata Maradona, dalam serial dokumenter 'Maradona in Mexico' produksi Netflix Origional 2020.

Penulis: Wisnu Cipto/merahputih.com