BolaSkor.com - AS Roma telah menemukan pengganti Eusebio Di Francesco dan Claudio Ranieri sebagai pelatih anyar klub. Sosok itu adalah pelatih asal Portugal berusia 46 tahun, Paulo Fonseca, yang didatangkan dari Shakhtar Donetsk.

Sebagaimana dilansir laman resmi Roma, Fonseca menandatangani kontrak dua tahun dengan opsi perpanjang setahun hingga musim panas 2022. Kedatangannya disambut Jim Pallotta, Supremo Roma.

"Kami dengan senang hati menyambut Paulo Fonseca ke klub. Paulo pelatih muda dan ambisius dengan pengalaman internasional, mentalitas pemenang dan memiliki reputasi untuk sepak bola ofensif yang akan menyenangkan fans kami," tutur Pallotta.

Fonseca telah melatih Shakhtar selama tiga tahun (2016-2019), memainkan 139 pertandingan, memenangi tiga titel Premier League Ukraina, tiga Piala Ukraina, dan satu Piala Super Ukraina.

Baca Juga:

AS Roma Intip Peluang Rekrut Mauro Icardi

Daniele De Rossi, Akhir Kisah Sang Pelindung Roma

Daniele De Rossi Gagal Jadi One Man Club di AS Roma

Paulo Fonseca

"Paulo Fonseca telah meninggalkan warisannya dalam sejarah klub, namanya akan selalu ada di hati fans," ucap Presiden Shakhtar, Rinat Akhmetov, menyikapi kepergian Fonseca ke Roma.

Mantan pelatih Pacos Ferreira, Braga, dan Porto itu juga sudah tidak sabar melatih Roma dan bertemu dengan pemain-pemain skuat.

"Saya sangat senang ditunjuk sebagai pelatih AS Roma. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada manajemen klub karena memberikan kesempatan ini kepada saya. Saya antusias dan termotivasi untuk tantangan di depan," tutur Fonseca.

"Saya tak sabar menanti pindah ke Roma, bertemu fans kami dan segera memulai (petualangan baru). Bersama, saya percaya kami bisa menciptakan suatu hal spesial," yakinnya.

Fonseca, sebelum menekuni karier kepelatihan dari tahun 2005, merupakan bek tengah yang pernah membela Porto, Maritimo, Vitoria Guimaraes, dan Estrela Amadora.

Menilik ucapan kolega Fonseca yang sekarang melatih Braga, Abel Ferreira, Fonseca dapat memberikan warna baru dalam permainan Roma yang berdasarkan pada penguasaan bola, garis pertahanan tinggi, sepak bola ofensif, dan pemain yang menekan lawan dalam fase bertahan.

"Tidak peduli formasinya, filosofinya dan caranya berpikir tetap sama. Saya pikir pelatih-pelatih Italia seringkali menanti lawan melakukan kesalahan, tapi tidak untuk Fonseca. Dia selalu mencoba mengambilalih laga melalui penguasaan bola," papar Ferreira kepada Il Romanista.

"Seperti yang telah dikatakan, filosofinya sangat sama dengan (Maurizio) Sarri. Timnya, meski pun tak menguasai bola, terdorong untuk menyerang lawan tinggi di lapangan pertandingan (pertahanan lawan) dan memenangi penguasaan bola kembali."