BolaSkor.com - Penjaga gawang tim nasional Italia, Gianluigi Donnarumma, menjalani satu di antara musim terburuk dalam kariernya. Semua itu dimulai ketika ia memilih meninggalkan AC Milan.

Gianluigi Donnarumma bak anak kandung sendiri untuk Milan. Bagaimana tidak, sang kiper sudah menjadi bagian akademi Rossoneri sejak musim panas 2013.

Kemudian, penampilan impresif di bawah mistar gawang membawanya promosi ke tim utama. Bahkan, tak lama berselang, ia langsung mendapatkan kesempatan tampil sebagai starter.

Setelah itu, kemampuan Donnarumma berkembang pesat. Ia pun memegang tongkat estafet dari Gianluigi Buffon sebagai penjaga gawang tim nasional Italia.

Namun, perpisahan Donnarumma dan Milan tak terelakkan. Dalangnya adalah proses perpanjangan kontrak yang menemui titik buntu. Milan tidak sanggup memenuhi permintaan gaji yang disodorkan Donnarumma.

Baca Juga:

Timnas Italia: Juara Piala Eropa, Merana di Piala Dunia

Daftar 19 Tim yang Memastikan Diri Berlaga di Piala Dunia 2022: Jangan Cari Italia

Hasil Play-off Piala Dunia 2022: Portugal ke Final, Italia Gugur

Sang penjaga gawang pun mulai menjadi musuh bersama bagi suporter Milan. Bahkan, pada ketegangan pertama, Donnarumma sempat mendapatkan lemparan uang yang menggambarkan jika dirinya mata duitan.

Akhirnya, Donnarumma dan Milan resmi berpisah pada musim panas kemarin. Tujuan Donnarumma adalah klub kaya raya asal Prancis, Paris Saint-Germain. Bersama Les Parisiens, Donnarumma mendapatkan apa yang ia inginkan dari sisi upah.

Jelang bergabung dengan PSG dan memulai musim baru, Donnarumma tampil brilian bersama timnas Italia di Piala Eropa 2020. Ia merupakan satu di antara kunci Gli Azzurri menjadi juara.

Namun, capaian itu tak lantas membuat Donnarumma jadi penjaga gawang utama PSG. Ia mendapatkan persaingan ketat dari Keylor Navas yang lebih kaya dari sisi pengalaman.

Statistik mencatat, dari 29 pertandingan yang dimainkan PSG di Ligue 1, Donnarumma hanya 12 kali tampil sebagai starter. Itu artinya, persentase penampilan sang kiper di bawah 50 persen.

Dari kesempatan itu, performa Donnarumma juga tidak bisa dikatakan gemilang. Ia hanya menorehkan empat clean sheet dan kebobolan 11 kali.

Donnarumma kian tersudut usai tampil buruk di Liga Champions. Menghadapi Real Madrid pada leg kedua babak babak 16 besar, penjaga gawang 23 tahun itu melakukan kesalahan yang membuat Karim Benzema bisa mencetak gol dan membangkitkan semangat juang. Padahal, saat itu PSG sedang memimpin 1-0.

Hasil akhirnya, PSG dipermalukan Madrid dengan skor 3-1. Los Blancos pun lolos dengan keunggulan agregat 3-2.

Musim ini kian terasa buruk usai Donnarumma kembali memperkuat Italia pada ajang play-off Piala Dunia 2022. Italia menghadapi laga hidup mati melawan Makedonia Utara.

Di atas kertas, Italia jelas lebih kuat. Apalagi, kalli ini pertandingan dilangsungkan di kandang sendiri, Renzo Barbera.

Namun, justru Makedonia Utara yang pulang dengan senyuman. Gol Aleksandar Trajkovski pada menit ke-90+2 membuat mimpi Italia pupus.

Pada gol tersebut, Donnarumma dianggap bertanggung jawab. Sebab, Donnarumma dinilai seharusnya bisa mengamankan bola hasil tendangan Trajkovski karena dihasilkan dari jarak yang jauh dan laju tidak terlalu kencang.

Dengan dua kegagalan besar itu, tak bisa dimungkiri jika Donnarumma tidak berada di musim terbaiknya. Apalagi, ia juga tak mendapatkan kesempatan bermain reguler di PSG.

Semua hasil minor itu dituai usai meninggalkan Milan pada musim panas lalu. Jadi, sudah menyesal meninggalkan Milan, Donnarumma?