BolaSkor.com - Menjadi tuan rumah Piala Dunia itu ibarat buah simalakama. Di satu sisi memberikan keuntungan dari segi pariwisata karena kehadiran pelancong dari seluruh dunia. Di sisi lainnya, timnas negara tuan rumah tentunya akan mendapatkan tekanan ekstra untuk - setidaknya - tampil baik dan tidak mengecewakan masyarakat lokal.

Timnas Prancis menetapkan standar yang tinggi sejak Piala Dunia 1998 berlangsung di Prancis. Les Bleus menjadi juara di depan hadapan pendukungnya sendiri. Korea Selatan-Jepang, Jerman, Afrika Selatan (Afsel), dan Brasil setelahnya menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Tidak ada yang mengikuti jejak Prancis dari kelima negara tersebut. Pencapaian 'terparah' terjadi di tahun 2010, ketika vuvuzela - alat musik tiup khas Afrika Selatan - lebih heboh ketimbang performa tim tuan rumah. Perjalanan Afsel terhenti prematur hanya di fase grup.

Kekhawatiran yang sama dikhawatirkan legenda Manchester United, Andrei Kanchelskis terjadi pada timnas Rusia, tuan rumah Piala Dunia 2018. Kanchelskis, yang pernah memperkuat timnas Uni Soviet (US), CIS, Rusia, melihat perubahan signifikan dari generasi Rusia terkini dibanding eranya dahulu. Khususnya dari perbedaan kultur kepelatihan.

"Kami (warga Rusia) khawatir karena ini (timnas Rusia) tim Rusia terburuk yang pernah saya lihat. Semua juga mengatakannya," ucap Kanchelskis di Dailymail, Rabu (13/6). Jika Kanchelskis sampai berkata "tim terburuk" maka Rusia benar-benar sudah mengalami kemunduran besar.

Memang, mundurnya sepak bola Rusia tidak terjadi baru ini dan menghadirkan kejutan besar layaknya Belanda dan Italia. Namun, karena Rusia tahun ini menjadi event akbar dunia, maka otomatis sorotan publik juga terarah kepada mereka. Tidak seperti Prancis, Jerman, atau Brasil, ekpektasi kepada Rusia untuk bertahan lama di Piala Dunia tidaklah begitu besar.

Rusia bukanlah Uni Soviet di masa lalu yang memiliki Oleg Blokhin, Lev Yashin, Kanchelskis, dan Valeriy Voronin. Rusia bukanlah Uni Soviet yang pernah menjuarai Euro 1960 dan menempati peringkat empat di Piala Dunia 1966.

Ketika Uni Soviet pecah dan Rusia berdiri sendiri sebagai satu tim pada medio 1992, di saat itulah dekadensi dimulai. Salah satu elemen penting yang hilang adalah hierarki komunis yang mengedepankan kedisiplinan dalam metode kepelatihan.

"Garis komando terbentuk vertikal, bukan horizontal, seperti di Eropa. Hubungan pelatih-pemain seharusnya seperti itu. Kita semua memang sedikit berbicara mengenai diktator. Tapi jika hasilnya bagus, tidak masalah," ucap mantan pemain timnas Uni Soviet, Vagiz Khidiyatullin.