BolaSkor.com - 28 Juni 2014, Estadio do Maracana di Rio de Janeiro riuh dengan suara dukungan suporter antara dua negara tradisional sepak bola dari Amerika Selatan, Kolombia dan Uruguay. Itu terjadi dalam turnamen besar Piala Dunia 2014.

Uruguay yang sudah dua kali menjuarai Piala Dunia dilatih Oscar Tabarez, punya pemain-pemain berpengalaman seperto Diego Godin, Fernando Muslera, Edinson Cavani, Diego Forlan, dan Cristian Rodriguez.

Tidak ada di antara satu nama pun di antara mereka yang mencuri perhatian penonton kala itu, melainkan satu nama pengguna nomor punggung 10 di Kolombia. Dengan kaki kidal dan kecerdasannya bermain sepak bola ia menyihir publik Estadio do Maracana.

Dia masih berusia 23 tahun saat itu dan sudah menanggung ekspektasi masyarakat Kolombia. Menit 28 jalannya laga, dia mengontrol bola dengan dadanya dan melepaskan sepakan jarak jauh dengan kotak penalti.

Baca Juga:

Carlo Ancelotti Ungkap Alasan Madrid Diimbangi Villarreal

Hakimi Bantah Zidane Jadi Dalang Kepergiannya dari Real Madrid

Rekap Hasil Pertandingan: Real Madrid Tertahan, AC Milan ke Puncak Klasemen

Gol James Rodriguez di Piala Dunia 2014

Timing, penempatan posisi, hingga momen kala menendang bola bak sudah diprediksi olehnya. Bola masuk kencang ke gawang Uruguay tanpa bisa ditepis Muslera dan itu menjadi gol terbaik turnamen (salah satu yang terbaik sepanjang masa).

Siapa pencetak gol itu? Dia adalah James Rodriguez, pemain yang sudah memulai debutnya pada usia 14 tahun di sepak bola profesional dan menjadikannya pemain dari Kolombia yang pertama melakukannya.

James mencetak dua gol dan Kolombia menang 2-0 atas Uruguay sebelum perjalanan mereka kandas di perempat final melawan tuan rumah, Brasil. Tangis air mata dari James sudah menggambarkan perasaan warga Kolombia selepas kekalahan itu.

“Dia (David Luiz) mengatakan kepada saya bahwa saya adalah pemain yang bagus. Kenyataannya adalah memiliki begitu banyak superstar yang memeluk saya membuat saya bahagia," James bercerita.

"Kami harus mengangkat kepala kami sekarang dan berterima kasih kepada Kolombia atas dukungan mereka. Kami sedih karena kami ingin terus melaju dan membuat rekor baru."

“Kami memberikan segalanya untuk mencapai semifinal, tetapi kami harus bangga karena kami bermain melawan tim yang hebat. Saya menangis karena kami telah memberikan segalanya. Kami sedih tetapi kami juga harus merasa bangga karena kami sudah berupaya habis-habisan."

James Rodriguez dihibur Dani Alves dan David Luiz

Piala Dunia Mengangkat Nama James Rodriguez

Kala Piala Dunia 2014 mengangkat nama James yang memenangi penghargaan Gol Terbaik Turnamen, Sepatu Emas Piala Dunia (enam gol), dan kemudian Penghargaan Puskas, James sudah bermain di Eropa dengan Monaco.

James berkarier selama delapan tahun dari Envigado, Banfield, Porto, dan kemudian Monaco. Dalam kurun waktu itu James berkembang dengan raihan tiga titel Primeira Liga (Divisi Teratas Sepak Bola Portugal) dan trofi Liga Europa.

Madrid mengetuk pintu Monaco dan merekrut James di tahun yang sama kala Piala Dunia berlangsung. Madrid merekrutnya dengan mahar sekitar 63 juta poundsterling dan mengontraknya selama enam tahun.

James di Real Madrid

"Angka-angka tidak berarti apa-apa bagi saya. Saya hanya ingin membantu membuat sejarah dan membawa kegembiraan bagi para penggemar Madrid. Ini adalah klub yang terbiasa menang dan saya siap secara mental dan fisik untuk melakukannya," kata James mengomentari kepindahannya ke Madrid.

"Senang berada di antara begitu banyak bintang dan saya yakin saya akan belajar banyak dari semua orang. Saya selalu mengikuti Real Madrid dan selalu bermimpi bermain di sini."

Betapa besarnya Madrid melihat James terlihat dengan pemberian nomor punggung bersejarah 10, nomor yang pernah dikenakan Luis Figo, Ferenc Puskas, dan Zinedine Zidane.

Cerita perjalanan James terlihat mulus dalam kurun waktu enam tahun di klub Ibu Kota Spanyol, memenangi dua titel Liga Champions dan dua titel LaLiga, tetapi faktanya ia jarang main reguler di sana.

Itulah alasan James sempat menjalani masa pinjaman di Bayern Munchen dari medio 2017-2019. Ironisnya, James yang juga sukses di Bayern juga tidak terlalu banyak bermain reguler di sana dan kembali ke Madrid.

Kemunduran Karier James Rodriguez

Ketika kariernya mulai menurun karena inkonsistensi penampilan, cedera, dan kurangnya kepercayaan pelatih, James melihat peluang untuk membangkitkan performanya dengan pelatih favoritnya Carlo Ancelotti.

James gabung Everton pada 2020 dan menjadi rekrutan top klub Merseyside. Pada musim 2020-2021 James seakan menjadi rekrutan terbaik The Toffees dengan performa bagusnya bersama Dominic Calvert-Lewin dan Richarlison di lini depan.

Carlo Ancelotti dan James Rodriguez

Akan tapi sepak bola tak pernah bisa ditebak. Di satu hari James tampil bagus dan di hari-hari berikutnya masalah klasik menghampirinya: cedera yang membuatnya absen di beberapa laga, lalu kembali bermain dalam kondisi cedera.

Situasi semakin menyulitkan James karena di akhir musim Ancelotti pergi dan penggantinya adalah Rafael Benitez. James sudah memberi indikasi waktu-waktunya di Everton tinggal menghitung hari.

“Sergio Kun Aguero pergi ke Barcelona, dan sekarang Messi pergi. Mereka hanya kebetulan partner dan saling terikat satu sama lain," tutur James.

“Itulah hal-hal yang dimiliki sepak bola. Hal yang sama terjadi pada saya. Saya pergi ke Everton, praktis karena Ancelotti ada di sana dan lihat, sekarang Carlo sudah pergi. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Dalam sepak bola dan kehidupan, kami tidak tahu apa-apa. Mari lihat apa yang terjadi."

Rafael Benitez

Seketika karier James di Everton tak jelas. Manajer terkenal di Inggris, Sam Allardyce sudah memprediksi James tidak akan masuk skema bermain Benitez.

“Dia (James) tidak akan menjadi pemain Rafa. Mereka (pemain Benitez) tahu bagaimana melakukan pekerjaan itu, mereka semua tahu bagaimana memainkan sistem dan tahu bahwa mereka harus melakukan ini dan itu. Mereka menghabiskan banyak waktu di tempat latihan," tutur Big Sam kepada Sky Sports.

“Rodriguez adalah pemain naluriah, menginginkan kebebasan, dia tidak ingin borgol (ditahan). Dia bukan pemain Rafa, di situlah letak konfliknya.”

Usut boleh usut Benitez juga yang membuat James tak betah di Madrid hingga muncul isu hengkang. Konflik kecil di antara keduanya berlanjut ke lembaran baru di Everton, tapi bedanya Benitez membuka peluang bagi James.

James dan Rafael Benitez

“Saya pikir dia (James) menyadari bahwa dia harus berkembang dalam banyak hal. Dia harus fokus, dia harus menunjukkan komitmennya," ucap Benitez soal James.

"Itulah yang dia coba lakukan dan itu adalah kabar baik bagi kami karena dia bisa memberi kami sesuatu yang lebih."

Sayang, harapan Benitez itu tak dijawab dengan tepat oleh James yang kariernya sudah meredup pasca pulih dari cedera. Pengemas 80 caps dan 23 gol dengan timnas Kolombia bahkan sudah terlihat malas-malasan membela Everton.

Pada September ketika Everton memulai liga dengan baik, James terlihat mengunakan vape kala berpesta di kapal pesiar di Ibiza. "Saya bahkan tidak tahu siapa yang dilawan Everton, bisa Anda beritahu saya?" ucap James di Twitch kala Everton imbang 2-2 melawan Leeds United.

Entah dari kombinasi kesialan, sikap yang buruk, atau lainnya, karier James praktis telah berakhir di Everton. Kala bursa transfer sudah ditutup tak banyak opsi yang dapat ditujunya.

James Rodriguez gabung Al-Rayyan

James pun akhirnya menerima pinangan klub Qatar Al-Rayyan. Di sana memang ada Laurent Blanc, eks bek Manchester United yang pernah melatih PSG dan Yacine Brahimi, mantan pemain Porto.

Akan tapi dari perspektif olahraga James, yang seyogyanya masih dapat bermain di Eropa dengan kualitasnya, telah membuang kariernya meski di Al-Rayyan James akan mendapatkan penghasilan besar.

James bukan pemain yang cepat, lincah, dan dapat mendribel bola melewati lawan, tapi dalam kondisi terbaik ia dapat mengubah jalannya pertandingan dengan visi bermain, operan bola, serta naluri mencetak gol.