BolaSkor.com - Nama Sebastian Coates sempat mencuri perhatian pecinta sepak bola ketika direkrut Liverpool pada musim panas 2011. Kini pemain berkebangsaan Uruguay itu meniti jalan menjadi legenda Sporting Lisbon.

Sporting memang berpeluang mengakhiri musim 2020-2021 dengan trofi liga Portugal. Leoes kini memimpin klasemen dengan keunggulan sembilan poin dari pesaing terdekatnya, Braga.

Andai hal itu terjadi, Sporting berarti mengakhiri masa puasa gelar Liga Portugal yang sudah berjalan selama 19 tahun. Terakhir kali mereka tampil sebagai juara pada musim 2001-2002.

Baca Juga:

Profil Radu Dragusin, Pengagum Van Dijk yang Pernah Menolak Chelsea

Profil Omar Richards, Pemain 'Kelas Dua' yang Bikin Bayern Kesengsem

Profil Jahkeele Marshall-Rutty, Wonderkid Kanada dalam Pantauan Klub-klub Eropa

Sebastian Coates

Sporting memang tampil mengesankan sepanjang musim ini. Tim asuhan Ruben Amorim belum terkalahkan dari 22 laga yang sudah dijalani.

Mantan klub Cristiano Ronaldo itu juga menegaskan diri sebagai tim dengan lini pertahanan terkuat di Portugal. Mereka baru kebobolan sebelas gol sejauh ini.

Catatan apik tersebut tak lepas dari peran Coates. Berstatus kapten tim, ia merupakan andalan Sporting di lini pertahanan.

Coates seolah ingin membuktikan masih pemain yang berkualitas meski sempat gagal bersama Liverpool. Ia memang gagal menjawab ekspektasi tinggi publik Anfield meski diberi kesempatan selama tiga musim.

Coates kala berseragam Liverpool

Pada awal tahun 2016, Coates akhirnya meninggalkan gemerlapnya Premier League untuk menerima pinangan Sporting. Jatuh bangun juga sempat dialaminya bersama salah satu raksasa Portugal tersebut.

Salah satu momen terburuk Coates bersama Sporting terjadi pada Agustus 2019. Pada laga kontra Rio Ave, ia membuat tiga kali pelanggaran yang berbuah penalti sehingga timnya harus kalah dengan skor 2-3.

Akibat hal itu, Coates sempat dituding sebagai pembawa sial bagi Sporting. Namun tudingan itu perlahan berubah sejak Amorim ditunjuk sebagai pelatih pada Maret 2020.

Amorim ternyata sangat mempercayai kemampuan Coates dalam mengawal pertahanan. Dukungan penuh tersebut berefek langsung terhadap permainan sang pemain.

Namun sebuah kabar buruk sempat mengganggu fokus Coates pada awal februari lalu. Ia harus ditinggal pergi sahabatnya yang meninggal karena bunuh diri.

Orang yang dimaksud sahabat Coates adalah Santiago Garcia. Pria yang akrab disapa Morro itu ditemukan tewas di apartemennya usai menembakkan pistol ke kepalanya sendiri.

Sebagai informasi, Morro merupakan rekan setim Coates saat menimba ilmu di akademi klub Uruguay, Nacional. Keduanya kemudian mampu menembus tim utama.

Sayang, jalan karier Morro jauh lebih buruk dari Coates. Kualitasnya tak mampu menarik minat klub-klub Eropa.

Morro diduga bunuh diri karena depresi. Hal itu menjadi pukulan telak bagi Coates.

Coates dan Morro saat memperkuat uruguay U-20

"Saya biasa menjaganya selama sesi latihan sejak kami masih kecil. Kami mengembangkan hubungan yang sangat istimewa," kata Coates dilansir dari Goal.

"Kami hampir menjadi belahan jiwa. Tak satu pun dari kami yang bisa melupakan kematiannya."

Namun Coates tak punya waktu untuk larut dalam kesedihan. Tiga hari pasca kematian sang sahabat, ia harus memperkuat Sporting saat bertandang ke markas Gil Vicente.

Sporting mampu mengakhiri pertandingan tersebut dengan kemenangan 2-1. Hebatnya, kedua gol tersebut dicetak oleh Coates.

Itu menjadi kali pertama sejak 2009, Coates mencetak dua gol dalam sebuah pertandingan liga. Terakhir kali melakukannya, ia masih menjadi rekan setim Morro di Nacional.

Dua gol tersebut seolah menjadi persembahan Coates untuk Morro yang berposisi sebagai penyerang. Secara tak langsung, kontribusi itu juga melapangkan jalan Sporting ke tangga juara.