BolaSkor.com - Duel dua rival bertajuk North West Derby antara Manchester United dan Liverpool di Stadion Old Trafford berakhir imbang 1-1, Minggu (20/10). Liverpool selamat dari kekalahan berkat gol di periode akhir laga.

Sepanjang musim ini, meski meraih delapan kemenangan beruntun, Liverpool tidak selalu mampu menampilkan performa terbaik mereka. Akan tetapi The Reds selalu menemukan cara untuk meraih kemenangan.

Salah satu laga di mana Liverpool tampil minor namun mampu meraih tiga poin yaitu ketika menghadapi Sheffield United. Ya, dari delapan tim yang dihadapi di awal musim, tim promosi dari Sheffield yang mampu merepotkan Liverpool.

Baca Juga:

Manchester United 1-1 Liverpool: Kemenangan Beruntun The Reds Terhenti di Old Trafford

Sederet Fakta Menarik North West Derby, Liverpool Masih Kesulitan Menang di Old Trafford

Andrew Robertson dibayangi Aaron Wan-Bissaka (twitter)

Sheffield United yang diasuh Chris Wilder mendominasi permainan nyaris sepanjang laga. Akan tetapi mereka akhirnya tetap kalah 0-1 akibat kesalahan fatal yang dilakukan sang kiper Dean Henderson.

Satu hal yang bisa dilihat dari laga Sheffield kontra Liverpool adalah formasi yang digunakan Chris Wilder untuk menyaingi sang kampiun Eropa. Formasi yang terdiri dari para pemain yang notabene inferior dibandingkan lawan.

Menghadapi Liverpool, Chris Wilder mengusung formasi 3-5-2. Sistem yang dimaksudkan untuk meredam dua bek yang menjadi senjata mumpuni Liverpool dalam menyerang.

Wilder sepenuhnya menugaskan bek sayapnya melulu untuk mengawal Trent Alexander-Arnold dan Andrew Robertson dengan cara man-to-man. Dengan meredam Trent dan Robertson, Sheffield menghilangkan salah satu ancaman dari Liverpool. Dan, rupanya manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer menjadi salah satu yang memperhatikan laga ini.

Menjamu Liverpool di Old Trafford, Solskjaer menurunkan formasi 3-5-2. Dua bek sayap, Aaron Wan-Bissaka dan Ashley Young diberi tugas utama untuk meredam Trent dan Robertson. Meski memakai pola yang sama, United memang bermain berbeda dengan Sheffield, terutama dalam mengalirkan bola. Namun pada intinya United memakai pola yang sama dengan tujuan serupa.

Percaya atau tidak, taktik yang dipakai Solskjaer berjalan sesuai skenario. Beberapa kali United berhasil mematahkan serangan dari kedua sisi yang dibangun Liverpool. Tidak hanya itu, United sesekali berhasil mengancam lewat area yang acap ditinggalkan kedua bek Liverpool tersebut. Gol yang dibuat Marcus Rashford merupakan buah dari pola yang dirancang Solskjaer.

Ubah Formasi

Namun sukses Manchester United meradam serangan Liverpool tidak berlangsung lama. Semua berubah ketika Solskjaer memutuskan melakukan transformasi dari 3-5-2 menjadi 5-3-2 di sepertiga terakhir babak kedua.

Boleh jadi Solskjaer berpikir untuk membangun pertahanan dengan menumpuk pemain lebih dalam dengan formasi ini. Semua demi mempertahankan keunggulan satu gol. Ada juga yang menilai Solksjaer terpaksa melakukan ini karena makin kuatnya tekanan Liverpool.

Yang terjadi di lapangan, para pemain United, terutama di lini tengah seperti kebingungan, khususnya dalam penugasan siapa yang mengawal dua bek Liverpool, yang semula menjadi jatah Wan-Bissaka dan Young sebagai bek sayap.

Karena itulah ketika Liverpool melemparkan bola ke Robertson di sisi kiri, Wan-Bissaka ataupun Andreas Pereira sama sekali tidak bergerak menutup. Alhasil Robertson leluasa melepaskan umpan silang yang disambar Adam Lallana untuk membuat gol penyeimbang.

Jika Solskjaer tidak melakukan perubahan, boleh jadi saja Manchester United bisa memetik kemenangan pada laga tersebut. Apapun itu, laga melawan Liverpool adalah progres bagi United. Penampilan apik Marcus Rashford bisa menjadi modal bagi United ke depannya.