BolaSkor.com – Azrul Ananda. Tokoh asal Surabaya ini dikenal getol mengurus anak muda dan olahraga. Selain menjadi operator liga basket antarsekolah terbesar di Indonesia, Azrul juga menjabat sebagai Presiden klub Persebaya.

Nama Azrul Ananda memang tak bisa lepas dari dunia olahraga. Tak hanya sebagai operator dan pemilik klub, Azrul juga pernah menjadi pemain, bahkan pelatih sepak bola di Amerika Serikat.

BolaSkor.com berkesempatan mewawancarai Azrul di tengah peluncuran sepatu barunya, AZA 6 ‘Hari Merdeka’, Senin (12/8) sore. Bapak tiga anak itu bercerita tentang sepak bola, basket, dan sport industry di Indonesia.

Selamat sore, Mas Azrul. Selamat atas peluncuran sepatu barunya, AZA 6 ‘Hari Merdeka’.

Terima kasih, Mas. Ini adalah sepatu saya yang keenam. Tujuannya untuk memudahkan anak-anak Indonesia bermain basket. Sebab harga sepatu basket kan mahal. Jutaan Rupiah. DBL bersama Ardiles membuat sepatu basket dengan harga di bawah Rp500 ribu. Kemudian sepatu itu menjadi sepatu yang paling laris di Indonesia.

Apa target berikutnya perihal sepatu basket ini, Mas Azrul?

Kami punya tantangan baru. Bagaimana menjadikan sepatu Indonesia sebagai sepatu yang bisa bersaing dengan sepatu-sepatu asing. Berarti harus punya sepatu Indonesia yang bisa dikoleksi. Akhirnya lahirnya AZA 6 ‘Hari Merdeka’ yang terbit menyambut 17 Agustus, dan hanya diproduksi 1945 pasang.

Kami bersyukur karena sambutan terhadap sepatu ini luar biasa. Orang rela antri sembilan jam hanya untuk membeli sepatu ini. Mungkin baru kali pertama ada sepatu made in Indonesia yang bernilai koleksi.

Setelah basket dan sepak bola, apakah ada rencana merambah ke olahraga lainnya?

Saya kira untuk hal apparel, kalau basket saja bisa melakukan ini, berarti tidak ada alasan olahraga lain tidak bisa. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan berinovasi untuk bisa menghasilkan itu. Tinggal mau atau tidak. Itu saja.

Azrul Ananda. (BolaSkor.com/Keenan Wahab)

Menjadi pengelola kompetisi basket antarsekolah terbesar di Indonesia, sebenarnya seberapa jago Mas Azrul dalam bermain basket?

Saya bisa bermain basket. Akan tetapi, saya bukan pemain basket yang jago. Saya bersyukur mendapatkan beasiswa di Amerika. Saya menjadi fotografer tim basket sekolah saya. Saya berkeliling bersama tim basket sekolah, dan (belajar) bagaimana mengelola tim basket sekolah.

Ketika saya pulang, saya ingin DBL bisa seperti itu, bagaimana basket sekolah itu menyeimbangkan antara pelajar dan atlet. Kemudian berkembang terus. Ternyata bakat saya mungkin bukan bermain basket, tetapi di manajemen. Jadi selama bakat itu bisa disalurkan dan bisa bermuan baik, kenapa tidak?

Bagaimana dengan skill bermain sepak bola? Mas Azrul kan Presiden klub Persebaya.

Saya lebih jago bermain sepak bola dan bulu tangkis daripada basket. Ketika bulu tangkis, saya pernah ikut di PB Djarum selama tiga tahun. Tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Saya juga pernah juara Porseni, akhir tahun 80an.

Kalau sepak bola, saya pernah ikut PS Indonesia Muda. Ketika di Amerika, pekerjaan pertama saya adalah menjadi pelatih sepak bola anak-anak SD. Di sepak bola, saya sempat bermain dengan mantan-mantan pemain tim nasional. Jadi sebenarnya saya lebih jago sepak bola dan bulu tangkis daripada basket.

Sekarang masih aktif bermain sepak bola, basket dan bulu tangkis?

Saya pernah cedera lutut ketika bermain sepak bola, 2006 silam. Lutut saya hancur. Harus ada bautnya dan lain-lain. Jadi saya sudah tidak bisa bermain basket, sepak bola, lari dan bulu tangkis. Jadi olahraga saya saat ini adalah bersepeda. (Laporan Kontributor Keenan Wahab/Surabaya)