BolaSkor.com - Timnas Indonesia selalu memilik gelandang-gelandang yang mumpuni, baik itu di tim senior ataupun di kelompok umur. Mulai dari Fakhri Husaini, Firman Utina, Ponaryo Astaman, Evan Dimas, dan masih banyak gelandang berbakat lainnya.

Namun ada satu yang mencuri perhatian. Perawakannya mungil, namun ketika bermain gerakannya sangat kuat dan lincah. Pemain tersebut ialah Andre Oktaviansyah.

Namanya menjadi sorotan ketika membela Timnas Indonesia U-16 asuhan Fakhri Husaini. Sempat berada di titik tertinggi dan mengikuti program Garuda Select yang ada di Inggris.

Namun, Andre juga pernah mengalami titik terendah ketika mendapatkan cedera Anterior Cruciate Ligaments (ACL) yang mengharuskan dirinya untuk menempi selama kurang lebih enam bulan.

Baca Juga:

Pesan Ketum PSSI kepada Para Pemain Timnas Indonesia

Sekjen PSSI: Pemain Timnas Indonesia Sehat dan Bersemangat

Setelah kembali, pemain yang dijuliki 'Si Cobra' kembali memperkuat Timnas Indonesia U-19 untuk melakukan traning centre (TC). Andre pun bersedia membagikan pengalamannya kepada BolaSkor.com untuk bangkit dari keterpurkannya saat cedera dan kembali ke kondisinya saat ini.

Andre dikenal sebagai pemain yang energik, siapa sosok yang membuat kamu seperti itu?

Sebelum bertanding saya biasanya selalu menyempatkan diri menonton permainan dari gelandang-gelandang hebat, seperti Paul Pogba, Toni Kroos, Luka Modric, dan masih banyak lainnya. Itu saya lakukan untuk menambah kepercayaan dari saya, mungkin ini yang membuat saya bisa tampil penuh energi seperti itu.

Pernah ditimpa musibah yang sangat berat yaitu cedera ACL, bagaimana bisa bangkit kembali?

Pertama jelas karena dukungan dari orang tua yang tidak berhenti untuk bisa kembali bangkit. Selain itu ada teman dan pelatih juga yang memberikan dukungan. Tapi satu yang penting yang harus yakin pada diri sendiri kalau saya itu bisa kembali bermain lagi.

Tapi ketika itu temen-temen yang ada di Garuda Select punya andil besar untuk saya bisa sembug, karena saya kan cedera di sana dan jauh dari orang tua. Mereka selalu memberikan dukungan penuh kepada saya, akhirnya saya bisa kembali seperti sekarang.

Andre Oktaviansyah saat bermain di Garuda Select. (PSSI)

Andre sempat menimba ilmu di Inggris, apa pelajaran dan pengalaman yang Andre dapatkan?

Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan, satu diantaranya ialah bagaimana cara kita bermain cepat dan dituntut untuk bisa mengambil keputusan yang cepat pula. Satu lagi, di Inggis kita juga diajari bagaimana kita harus berani duel satu lawan satu.

Selama berkarier di Timnas atau klub, momen apa yang tidak pernah dilupakan?

Pertama bisa memberikan gelar juara di Piala AFF U-16 itu pengalaman yang luar biasa. Satu lagi itu ketika Timnas Indonesia U-16 kalah melawan Timnas Australia di babak perempat final Piala Asia U-16. Pertandingan itu tidak bisa saya lupakan karena kalau saja kami menang, kita bisa bermain di Piala Dunia U-17 di Peru.

Siapa pemain dan klub idola Andre, alasannya?

Banyak mulai dari Toni Kross, Gattuso, Xavi Hernandez, sampai Cristiano Ronaldo. Bagi saya semua pemain ini patut di contoh karena mereka semua mengajarkan kedisiplinan yang tinggi untuk para pemain muda seperti saya.

Toni Kross. (Istimewa)

Sebagai pemain muda, star syndrome salah satu momok yang paling menakutkan, bagaimana Andre menghindari hal tersebut?

Pasti jangan terlalu banyak main di sosial media karena di situ pasti banyak yang menghujat atau memuji pemain muda seperti kami. Ketika kita sedang bermain baik pasti banyak yang memuji, nah di sama kita harus berhati-hati dan di saat kita bermain buruk banyak yang menghujat kita tidak usah ambil pusing, jangan peduli tapi terus harus instropeksi diri.

Terakhir, apa harapan Andre untuk Timnas Indonesia U-19?

Saya tidak muluk, bisa bermain di Timnas Indonesia U-19 pada saat Piala Asia U-19 dan Piala Dunia U-20 sudah bersyukur. Dari situ saya akan memberikan yang terbaik untuk Indonesia dan bisa mewujudkan target yang diberikan oleh PSSI.