BolaSkor.com - Ketika menyaksikan pertandingan Srikandi Cup, terutama Merpati Bali, terdapat sepasang pemain yang mencuri perhatian. Apalagi kalau bukan pebasket kembar, Lamia dan Tania Rasidi.

Mia dan Nia, demikian mereka biasa dipanggil, merupakan bagian dari skuat Merpati Bali saat memenangi Srikandi Cup 2019. Rupanya, selain berprestasi di lapangan, keduanya juga sukses di luar lapangan.

BolaSkor.com sempat berbincang dengan Mia dan Nia saat Srikandi Cup 2020 menjalani seri kedua yang berlangsung di Jakarta. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan kedua pebasket kembar tersebut.

Baca Juga:

Srikandi Cup 2020: Sapu Bersih Seri Kedua, Merpati Bali Puncaki Klasemen

Srikandi Cup 2020: Menang Atas Sahabat Semarang, Merpati Bali Masih Butuh Konsistensi

Tania dan Lamia Rasidi. (BolaSkor.com/Budi Prasetyo Harsono)

Bagaimana awal kalian suka basket?

Mia: Awal suka basket itu kelas 3 SD, diajak pelatih. Sebenernya kita suka olahraga, tapi sama gurunya dibilang coba aja main basket. Akhirnya kita coba terus tertarik aja. Kenapa sih bola harus masuk ke ring? Ringnya di atas lagi.

Nia: Padahal jaringnya bolong.

Mia: Ringnya bolong lagi. Terus jadinya tertarik jadi latihan aja.

Siapa yang suka basket duluan?

Nia: Hampir sama, bareng.

Kalian kan udah punya pengalaman main basket lama, sempat di WIBL juga, ada chemistry spesial tidak karena sudah main bersama dari kecil?

Nia: Iya sih, kadang-kadang kalau lagi bawa bola tuh matanya udah tau, jadi sometimes passing yang orang gak bisa tangkep, Mia bisa tangkep karena udah tau posisi masing-masing.

Apa pengalaman paling menyenangkan selama main basket?

Mia: Bisa keliling Indonesia, bisa dapet ilmu macem-macem, tentang keluarga, tentang disiplin.

Nia: Ketemu temen-temen baru.

Apa yang paling membanggakan dari main basket?

Nia: Karena basket aku bisa kerja di tempat yang aku pengen, bisa kuliah di negeri juga.

Mia: Sama sih, karena kita kan bareng terus kan. Sebenernya prestasi basket banyak sih, tetapi kita lebih dari basket itu kita bisa apa sih. Kita bisa masuk universitas negeri di Gajah Mada, terus kerjaan yang sekarang, itu ada pengaruh dari basket.

Siapa orang paling berjasa untuk karier basket kalian?

Mia: Mama sama papa sih, dari kecil disupport, dianterin. Jadi support paling pertama dan berjasa ya orang tua kita.

Orang tua sempat melarang?

Nia: Nggak ada sih.

Mia: Yang penting satu sih, kalau basket jalan pendidikan harus jalan. Kalau ada nilai drop gitu, basketnya stop dulu. Kalau ada nilai jelek atau IPK jelek, eh tapi nggak pernah sih jelek sampe gitu banget. Cuma ya orang tua wanti-wanti, kalau mau basket ya kuliah harus basket.

Tania dan Lamia Rasidi. (BolaSkor.com/Budi Prasetyo Harsono)

Kalian pendidikannya kan juga bagus ya, gimana caranya menjaga antara kuliah, basket, dan kehidupan di luar itu?

Mia: Kita manajemen waktu aja, jadwal kuliahnya bisa milih. Basketnya itu pagi dan sore, jadi kita menyesuaikan aja. Jam kuliahnya disesuaikan dengan basket dan kuliah. Tapi kalau ujian ya kita izin basketnya.

Nia: Atau kalau bentrok latihan dan kuliah, kita pilih kuliahnya. Kita latihan sendiri, karena kita nggak suka menunda pekerjaan.

Ada tidak yang tak banyak orang tahu soal kalian yang main basket kembar?

Nia: Yang nggak banyak orang tahu, kalau kembar itu bisa beda pendapat di lapangan basket. Kan orang-orang lihatnya wah kompak banget ya. Tapi sebenarnya juga ada perdebatan-perdebatan.

Kalian pernah jadi lawan?

Mia: Alhamdulillah sampai sekarang belum, kalau latihan doang jadi lawan.

Nia: Kalau beda tim belum.

Pernah ada pengalaman yang bikin ngedown? Cedera atau apa?

Mia: Kalau aku pribadi sih nggak ada ya, nggak sampe ngedown, cuma instropeksi aja supaya lebih bagus lagi?

Kalian selesai pertandingan suka saling koreksi?

Mia dan Nia: Iya

Kalian kan punya kesibukan masing-masing, masih suka jalan bareng di luar basket?

Mia: Masih kok, biasanya abis basket kita suka makan bareng, tinggalnya juga bareng di mess. Kalau weekend juga jalan bareng keluarga.

Kalian suka berdebat nggak sih?

Mia: Setelah pertandingan kita evaluasi, harusnya lo gini, lo gini.

Nia: Tim kan juga ada sistemnya. Kalau misalnya itu kan saling ngingetin.

Mia: Kita kaya punya chemistry sendiri kan, jadinya kalau di tim itu sudah sama-sama tau, jadi lebih satu frekuensi dibandingkan teman-teman lain.