BolaSkor.com - Mantan pelatih Timnas Indonesia, Luis Milla, baru-baru ini diwawancarai media ternama Spayol, As.com. Pelatih asal Spanyol itu dicecar beberapa pertanyaan, salah satunya tentang transfer dirinya dari Barcelona ke Real Madrid.

Luis Milla merupakan pemain yang tidak buruk-buruk amat ketika membela Barcelona 1984-1990. Bahkan, ia lahir sebagai bibit pemain muda Barcelona dari akademi La Masia. Luis Milla pun dipromosikan Johan Cruyff ke tim utama Barcelona.

Namun, sang pemain justru hijrah ke rival, Real Madrid. Ia pun membela El Real selama tujuh musim, sebelum mengakhiri karier profesionalnya sebagai pesepak bola bersama Valencia.

Tak hanya itu saja, Luis Milla juga ditanyai tentang filosofi sepak bola modern ala Jurgen Klopp bersama Liverpool yang tampil apik dalam dua musim terakhir. Seakan-akan filosofi sepak bola modern Pep Guardiola dengan tiki-taka dikalahkan semangat ala Jurgen Klopp.

Baca Juga:

Luis Milla Beberkan 3 Masalah Sepak Bola Indonesia Tidak Bisa Berkembang

Alasan Luis Milla Belum Kembali Melatih Selepas Dicoret dari Timnas Indonesia

Luis Milla
Luis Milla. (Instagram Luis Milla)

Berikut kutipan wawancara Luis Milla dengan media ternama Spanyol, AS.com:

Anda pemain yang lahir dari akademi Barcelona, lalu dipromosikan Johan Cruyff ke tim utama. Setelah itu Anda hengkang ke Real Madrid. Apakah itu tindakan kemauan sendiri?

Saya punya kenangan indah dan buruk (bersama Barcelona). Saat itu, situasinya sulit karena bursa transfer. Menurut saya, Barcelona mendorong saya ke Real Madrid. Di antara itu, saya tak dipanggil ke tim nasional Spanyol, saya mengalami periode berat selama lima atau enam bulan.

Saya tidak bermain karena pelatih Barcelona membuat serangkaian keputusan yang menguntungkan klub. Tapi pada akhirnya saya tiba di Madrid, di mana saya mengalami tujuh tahun yang indah, meski saya mengalami cedera sesaat setelah tiba.

Menurut Anda mana yang lebih efektif soal pembinaan pemain muda, Barcelona atau Real Madrid?

Ini pilihan sulit karena mereka memproduksi pemain muda yang bagus. Real Madrid punya kebijakan bagus dengan mempunyai pencari bakat hebat.

Barcelona merupakan tim yang bagus dengan menjaga gaya sepak bolanya. Barcelona telah melakukannya dengan baik selama beberapa tahun terakhir karena pemain inti dan cadangan sama-sama bagus.

Itu sebuah keuntungan bagi pemain untuk bisa menembus tim utama, seperti slogan'La Quinta del Buitre' di Madrid atau 'La Quinta del Mini' di Barca.

Siapa lawan atau kawan yang paling kasar saat Anda masih bermain?

Saya ingat saat jadi pemain Barceloa, saya lakukan duel sengit di tengah lapangan dengan pemain Real Madrid, Ricardo Gallego. Lalu kami jadi teman dan beberapa kali bicara soal sepak bola. Tapi laga itu sangat intens, saya tidak lupa ketika meninggalkan lapangan dengan mulut berdara setelah disikut olehnya.

Baca Juga:

Cerita Uyung Si Dara Manis Persib Putri: Peran Ayah dalam Karier hingga Kekaguman pada Sosok Kartini

Wawancara Eksklusif Annisa Qosasi: Mundurnya Ratu Tisha hingga Potensi Jadi Suksesor di Pos Sekjen PSSI

Menurut pandangan Anda soal mana yang lebih berkuasa saat ini di sepak bola modern.Sepak bola ala Pep Guardiola atau Jurgen Klopp?

Barcelona era Pep Guardiola menampilkan sepak bola yang hebat, karena dia memberi pelintiran gaya Cruyff dalam permanan dan membawanya ke level yang sangat tinggi.

Untuk melawan permainan itu, sepak bola berevolusi, Liverpool asuhan Klopp contohnya, yang mampu menerapkan permainan seimbang valid dan sangat bagus, dengan kekuatan fisik. Mereka memiliki banyak kualitas, yang bisa mengejutkan dengan kecepatan transisi membingungkan.

Kenapa Spanyol gagal di Olimpiade 2020 meski ada pemain seperti David De Gea, Jordi Alba, Javi Martinez, Koke, Thiago Mata, Rodrigo dll?

Meski kami menang Piala Eropa 2011 dan lolos ke Olimpiade London 2012, kami gagal. Saat itu memang atmosfer tegang. Saya mengkritik diri sendiri, kami tidak melakukan dengan baik, terlepas dari fakta persiapan sangat singkat.