BolaSkor.com - Qischil Gandrum Minny membuat suasana Stadion Manahan di Kota Solo riuh atas tepuk tangan. Suasana itu terjadi ketika timnya, PSCS Cilacap menghadapi Hizbul Wathan (HW) FC dalam laga Grup C Liga 2 2021, Senin (11/10) kemarin.

Keriuhan itu bukan atas sebuah gol yang ia lesakkan. Tetapi sikap mulia Qischil yang memilih membuang bola ketimbang menceploskannya ke gawang lawan pada menit 68.

Dalam situasi itu, Qischil mengutamakan sikap fair play atas cederanya pemain HWFC di tengah lapangan. Padahal jika mau egois, bisa saja ia menambah keunggulan PSCS menjadi 2-0, lantaran sudah menembus kotak penalti.

Berawal dari umpan lambung bek PSCS, Qischil berusaha mengejar bola akurat itu hingga sepertiga lapangan. Namun, Syahrul Akbar Amdar yang berupaya membuang bola, salah terjatuh hingga membuatnya tersungkur.

Baca Juga:

Makna Selebrasi Huruf Z dari Herman Dzumafo

Dewa United FC Menang Tipis, Kas Hartadi Soroti Penyelesaian Akhir

Keputusan Qischil yang tanggap dan membuang bola sebagai sikap fair play, lantas mengundang decak kagum. Tepuk tangan meriah dari kedua tim termasuk awak media di tribun, menggema keras memuji sikap eks penyerang Persik Kediri dan Arema Cronus itu.

Lalu, apa motivasi yang melatarbelakangi Qischil Gandrum Minny melakukan hal paling langka di sepak bola nasional itu? Sehingga, cukup layak aksi sportif itu disejajarkan dengan Paolo Di Canio yang menjalani situasi serupa di masa lalu.

Berikut wawancara Bolaskor bersama pesepak bola kelahiran Kediri berusia 34 tahun tersebut.

Halo Qischil, Anda hebat dengan memilih membuang bola daripada membuatnya menjadi gol, ketika pemain lawan cedera?

Terima kasih, Mas. Ya sebenarnya itu sudah hal biasa di sepak bola. Tetapi memang pertandingan kemarin itu berbeda. Karena ada peluang untuk saya mencetak gol kedua PSCS dan tidak saya ambil.

Anda tidak rugi dengan sikap itu?

Tidak lah Mas. Mencetak gol bagi seorang striker memang penting. Tetapi kita bermain sepak bola kan juga harus mengutamakan sikap fair play.

Anda tidak dimarahi oleh pelatih?

Saya pikir, Coach Frans (Sinatra, Pelatih PSCS Cilacap), paham dengan situasi itu. Meski jika saya tidak membuang bola, besar kemungkinan saya mencetak gol kedua tim karena tinggal berhadapan dengan kiper lawan.

Tapi kembali lagi, saya menuruti hati kecil dan tidak boleh dibohongi.

Qischil Gandrum Minny. (Dok. Pribadi)

Apa yang Anda pikirkan ketika kejadian itu?

Saya refleks saja. Hal ini hanya feeling (perasaan) saja sebenarnya. Di satu sisi, saya ini sudah masuk senior dan harus memberi contoh yang bagus buat pemain muda, baik di tim saya dan tim lainnya.

Bagaimana kronologinya di lapangan?

Jadi memang tidak ada kontak fisik, karena dia (Syahrul Akbar Amdar) melompat untuk membuang bola. Tapi sepertinya dia salah jatuh, sampai saya dengar ada sebuah bunyi, entah itu engkel atau bagian lainnya.

Saya takut kalau itu bunyi leher atau kepalanya yang jatuh, sehingga harus ada penanganan darurat. Buktinya, dia langsung tak bisa berdiri sampai diganti (Achmad Bachtiar menit 70).

Pesan apa yang ingin Anda sampaikan?

Jadi sikap fair play itu harus yang utama di sepak bola, meski ada peluang cetak gol. Saya hanya berpikir, bagaimana jika yang mengalami saya sendiri, meski saya juga tidak ingin seperti itu.

Tetapi sebagai pesepak bola yang sama-sama mencari rejeki di lapangan, harus ada toleransi dan sikap sportif. Sekali lagi sebagai pemain senior, tentu kewajiban kita memberi hal positif kepada pemain muda. (Laporan Kontributor Bimaswara Dumugi)