BolaSkor.com - Inflasi harga pemain di bursa transfer terus meningkat tiap musimnya, di mana titik poin transfer tertinggi itu terjadi di awal musim 2017/18, kala Paris Saint-Germain (PSG) mengeluarkan uang sebesar 222 juta euro untuk merekrut Neymar dari Barcelona.

Efek domino langsung terjadi setelahnya. Barca yang mendapatkan pemasukan segar, langsung mengeluarkan uang sebesar 105 juta euro untuk merekrut Ousmane Dembele dari Borussia Dortmund, serta Philippe Coutinho dari Liverpool seharga 142 juta poundsterling.

Mega transfer yang dilakukan PSG hanya untuk membeli satu individu memang banyak dikritisi, karena dianggap merusak esensi sepak bola, yang membangun tim dengan kesabaran, proses, sebelum sukses meraih trofi. Hal yang dilakukan PSG merupakan bagian sepak bola era milenial dengan tuntutan kesuksesan instan.

Namun, PSG juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena transfer dengan harga besar sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam, ketika taipan atau konsorsium kaya-raya datang membeli klub dan memboyong pemain-pemain bintang, seperti yang terjadi di Chelsea dan Manchester City.

Pun demikian dengan Real Madrid, dengan kebanggaan julukan Los Galacticos, yang mengacu dengan kebiasaan mereka merekrut bintang-bintang dunia. Zinedine Zidane salah satunya. Pria yang kini menjabat sebagai pelatih Madrid, pernah dibeli Madrid dari Juventus di tahun 2001 seharga 77,5 juta euro. Zidane juga memprediksi, inflasi harga pemain akan semakin gila tiap tahunnya.

"Saya pikir saya seharga 70-72 juta euro di masa lalu. Kala itu saya sudah memikirkannya sebagai harga yang gila. Mungkin, dalam 10 tahun ke depan akan menjadi 400 juta euro, atau mungkin sebelumnya," kata Zidane di AS, Sabtu (10/3).

400 juta euro. Tidak pernah terbayang untuk saat ini, ada pemain seharga Rp6 triliun. Jika prediksi Zidane itu menjadi kenyataan di masa depan, nalar pikiran manusia akan semakin sulit memahami transfer yang di luar akal sehat itu.