BolaSkor.com - Liverpool mengakhiri masa penantian selama 30 tahun untuk meraih trofi Premier League. Jurgen Klopp punya andil terbesar di balik kesuksesan ini.

Bagaimana tidak? Sebelum Klopp datang, sejumlah manajer bernama besar sudah berusaha mewujudkan hal ini. Namun kegagalan selalu menjadi akhir cerita kisah Liverpool.

Rafael Benitez yang sudah mempersembahkan trofi Lioga Champions nyaris mengakhiri masa penantian Liverpool akan trofi Premier League pada musim 2008-2009. Steven Gerrard dan kawan-kawan saat itu sempat beberapa kali memuncaki klasemen.

Namun pada akhirnya, Liverpool hanya finis di peringkat kedua. Mereka tertinggal empat poin dari Manchester United pada klasemen akhir.

Baca Juga:

8 Fakta Mengesankan Usai Liverpool Menyegel Gelar Premier League: Akhir Penantian Panjang

7 Pertandingan Kunci Liverpool Merajai Premier League 2019-2020

Jordan Henderson Dianggap Layak Disebut Legenda Liverpool

Liverpool kembali punya peluang besar untuk menjuarai Premier League pada musim 2013-2014. Ditangani Brendan Rodgers, Merseyside merah tampil sangat mengesankan sepanjang musim.

Sayang jelang musim berakhir, Liverpool justru tersandung. Terpelesetnya Gerrard saat menghadapi Chelsea pada laga pekan ke-36 menjadi gambaran kecil dari kegagalan mereka saat itu.

Musim lalu, penggemar Liverpool kembali dibuat patah hati. Raihan 97 poin yang direbut tim asuhan Klopp masih tak cukup untuk menyegel trofi Premier League.

Beruntung musim tersebut tidak sepenuhnya buruk bagi Liverpool. Mereka mampu menjuarai Liga Champions yang menjadi sebuah penawar luka.

Jika berkaca dari dua momen sebelumnya, Liverpool akan tampil melempem semusim setelah bersaing ketat merebut gelar juara. Ketakutan ini juga sempat menghantui penggemar mereka saat musim 2019-2020 dimulai.

Namun Klopp dan pasukannya mampu melewati trauma itu. Bukannya melempem, Liverpool tampil kian solid.

Liverpool mampu mengemas 28 kemenangan dan hanya sekali kalah dari 31 pertandingan yang sudah dilalui. Mereka meninggalkan jauh para pesaingnya.

Klopp berhasil membuat Liverpool tampil konsisten selama dua musim beruntun. Sesuatu hal yang tak mampu dilakukan manajer sebelumnya.

Namun untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Klopp juga sempat melalui masa-masa sulit sejak datang ke Anfield pada 2015 silam.

BolaSkor.com telah merangkum lima langkah Jurgen Klopp untuk mwmpersembahkan trofi Premier League untuk Liverpool di bawah ini:

1. Menyempurnakan Gegenpressing

Sejak ditunjuk menangani Liverpool, Klopp langsung menerapkan filosofi bermain yang menjadi ciri khasnya yaitu gegenpressing. Di inggris, gaya ini dikenal dengan heavy metal football.

Gegenpressing ala Klopp secara garis besar adalah strategi melakukan pressing ketat secara kolektif untuk merebut bola secepat mungkin dari lawan. Hal ini akan membuat tim lawan melakukan transisi dari bertahan ke menyerang.

Pada awalnya, strategi gegenpressing ini sangat ampuh ketika Liverpool menghadapi klub-klub besar. Manchester City-nya Pep Guardiola bahkan sering menderita karena strategi ini.

Sebaliknya, strategi ini tak berjalan maksimal saat berjumpa tim-tim yang fokus bertahan. Liverpool kerap menemui jalan buntu saat menghadapi klub yang secara kualitas berada di bawah mereka.

Seiring berjalannya waktu, Klopp mulai sadar akan kekurangan gegenpressing-nya. Ia pun coba menyempurnakan hal tersebut hingga mencapai puncaknya dalam dua musim terakhir.

Liverpool kini tak lagi terus-terusan melakukan gegenpressing dalam setiap pertandingan. Klopp mulai memasukkan variasi-variasi untuk membuat lawan bingung dan menghemat stamina para pemainnya.


2. Pemilihan Asisten yang tepat

Jurgen Klopp dan para asistennya.

Kesuksesan Liverpool memang bukan hasil kerja keras Klopp seorang. Ia juga dibantu sejumlah tangan kanan untuk menjalankan programnya.

Salah satu tangan kanan Klopp yang paling berpengaruh dalam kesuksesan Liverpool adalah Pepijn Lijnders. Ia sebenarnya sempat dua kali menjabat sebagai asisten pelatih Liverpool.

Periode pertama ia jalani pada 2014 hingga awal tahun 2018. Ia kembali ke Anfield pada 5 Juni tahun yang sama untuk menggantikan Zeljko Buvac.

Lijnders dikenal sangat detail dalam menganalisis gaya bermain tim lawan. Salah satu contohnya tersaji saat Liverpool melakukan comeback gemilang atas Barcelona pada leg kedua semifinal Liga Champions 2018-2019.

Selain Lijnders, tangan kanan Klopp yang berperan penting dalam kesuksesan Liverpool adalah ahli gizi, Mona Nemmer dan pelatih kebugaran, Andreas Kornmayer. Kedua sosok ini mampu menjaga kondisi para pemain sehingga relatif bugar dan jarang mengalami cedera.

Klopp juga mendatangkan pelatih khusus untuk lemparan ke dalam bernama, Thomas Gronnemark. Meski terdengar konyol, tapi Liverpool mampu menjadi klub Premier League terbaik dalam menguasai bola dari lemparan ke dalam dengan persentase 68,4 persen.


3. Strategi transfer yang tepat

Mohamed Salah salah satu pembelian terbaik Liverpool di era Jurgen Klopp.

Selama menjadi manajer Liverpool, banyak pemain yang sudah direkrut Klopp. Memang tak semua nama-nama yang didatangkannya berakhir sukses.

Namun Liverpoool setidaknya tidak mengalami kerugian karena mampu menjual pemain dengan kategori tersebut dengan harga yang bagus.

Sebagai contoh, Liverpool bisa mendapatkan dana segar mencapai 100 juta poundsterling dari hasil penjualan Jordon Ibe, Joe Allen, Christian Benteke, Mamadou Sakho, dan Dominic Solanke. Nama-nama tersebut jika dirata-rata dihargai sekitar 20 juta poundsterling meski gagal menunjukkan performa terbaik di Anfield.

Belum lagi keberhasilan Liverpool menjual Philippe Coutinho ke Barcelona. Mereka memaksa El Barca mengeluarkan dana hingga 142 juta poundsterling untuk mewujudkan transfer ini.

Hebatnya, Liverpool tak kesulitan menemukan penggantinya. Mohamed Salah yang didapuk menggantikan Coutinho justru membuat tim asuhan Klopp kian trengginas.

Hal itu belum ditambah keberhasilan Klopp memboyong Virgil Van Dijk dan Alisson Becker. Ia sempat dicibir karena mengeluarkan terlalu banyak uang untuk membeli seorang bek dan kiper.


4. Virgil Van Dijk dan Alisson Becker

Keputusan Klopp mendatangkan Virgil Van Dijk dan Alisson Becker sempat menuai cibiran. Hal itu karena ia sempat menjadikan kedua pemain tersebut sebagai bek dan kiper termahal dunia.

Keputusan Liverpool mendatangkan Van Dijk pada Januari 2018 dengan biaya 75 juta poundsterling sempat dianggap sebagai lelucon. Dengan latar belakang yang tak terlalu mentereng, bek berkebangsaan Belanda itu dinilai overrated.

Namun Van Dijk mampu menjawab anggapan miring itu dengan sempurna. Ia menjadi tembok kokoh di pertahanan Liverpool.

Meski begitu, kehadiran Van Dijk belum cukup mengantarkan Liverpool meraih kejayaan. Mereka gagal meraih trofi Liga Champions 2018 karena takluk dari real Madrid di partai final.

Dari pertandingan tersebut, Klopp menyadari membutuhkan kiper tangguh untuk menggantikan Loris Karius yang akrab dengan blunder. Alisson akhirnya datang dengan biaya tranfer mencapai 66,8 juta poundsterling.

Kehadiran Van Dijk dan Alisson seperti menjadi kepingan puzzle terakhir yang dicari Klopp. Terbukti keduanya membuat lini pertahanan Liverpool menjadi salah satu yang terbaik di Eropa.


5. Menjalin hubungan yang erat dengan para pemainnya

Selain taktik, Klopp juga pandai mengatur psikologis para pemainnya. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan menjalin hubungan yang erat.

Klopp memperlakukan skuat Liverpool lebih dari sekadar hubungan pelatih dan pemain. Ia bisa menjadi figur ayah atau teman saat berada di luar lapangan.

Hal itu akan membuat Klopp mengetahui karakter para pemain yang tentu berbeda-beda. Ia pun jadi tahu cara yang tepat untuk memotivasi mereka.

Hubungan yang erat tersebut juga akan membuat para pemain siap memberikan yang terbaik di lapangan. Mereka berjuang bukan hanya untuk Liverpool tapi juga untuk manajernya yaitu, Klopp.