BolaSkor.com - Persija Jakarta, siapa yang tidak mengenal tim ini di kancah sepak bola Indonesia? Nama yang selalu menghiasi persaingan ketika ditanya siapa yang akan menjadi juara dari era Liga Indonesia atau pun Liga 1 setiap kali ingin dimulai.

Persija Jakarta didirikan oleh Soeri dan Alie pada 28 November 1928 dengan nama awal Voetballbond Indonesia Jacatra (VIJ). Berdirinya VIJ saat itu juga sebagai wadah berkumpulnya klub-klub sepak bola nasionalis di Batavia pada masa itu.

Nama VIJ berubah menjadi Persija pada tahun 1950 dengan Jusuf Jahja sebagai ketua. Persija pada era 1950-an banyak diisi pemain nasional seperti Tan Liong Houw, Chris Ong, Thio Him Tjiang, Van der Vin, sampai Van der Berg.

Baca Juga:

Nostalgia - Kejayaan Persija dengan Identitas Merah-Putih dan Oranye

Mengintip Perayaan HUT ke-92 Persija di Sawangan

Persija juga menjadi salah satu pencetus berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pada 19 April 1930. Berawal dari cita-cita yang sama dengan bond dari daerah lain, Persija mengusung semangat persatuan yang tertanam dalam kelahiran PSSI.

Wajar saja jika tim ini selalu menjadi bagian dari persiangan di kompetisi Indonesia. Prestasi yang mentereng juga menjadi alasan Persija disegani oleh tim-tim. Terhitung sampai saat ini Persija sudah memiliki 11 gelar juara Liga Indonesia, terakhir didapatkan di tahun 2018.

Dua tahun belakangan, penampilan Persija seperti menurun. Bahkan selepas mendapatkan gelar juara, Persija seperti kehilangan taringnya dalam bermain. Tahun 2019 menjadi tahun yang sangat sulit untuk Persija mengulang kejayaan di tahun sebelumnya.

Persidja Jakarta di Tahun 1964. (Sumber: Istimewa/Legendary 1928)

Sebenarnya, tahun 2020 Persija mulai bebenah mengeluar gelontoran dana untuk bisa membangun kejayaan kembali Persija. Saat itu, dengan mendatangkan pelatih berkualitas, Sergio Farias, komposisi pemain pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Saat itu Persija mendatangkan pemain seperti Marco Motta, Osvaldo Haay, Evan Dimas, Otavio Dutra, sampai dengan Marc Klok yang notabennya bukan pemain kacangan. Saat itu Persija dinilai sebagai dream team yang ada di Liga 1 2020.

Teapi dengan skuat yang mentereng seperti itu, kompetisi harus dihentikan karena pandemi COVID-19. Kompetisi baru begulir kembali pada tahun 2021, dimulai dengan turnamen pramusim Piala Menpora 2021. Namun pada tahun ini skuad Persija sudah tidak sama lagi dengan tahun lalu, lantas bagaimana penampilan tim Persija?

Sudirman. (Media Persija)

Di Nahkodai Sudirman sebagai sebagai pelatih kepala menggantikan Sergio Farias yang tidak diperpanjang kontraknya oleh manajemen Macan Kemayoran ditambah perginya beberapa pilar seperti Evan Dimas dan Ryuji Utomo membuat perubahan tersendiri di kubu Persija.

Ya, ketika bermain di Piala Menpora 2021, Persija seperti Macan yang kehilangan taringnya saat memburu mangsanya. Selama bermain di Piala Menpora, roh permainan menyerang khas Persija yang sudah dibangun oleh Sergio Farias di dua pertandingan awal kompetisi tahun lalu seperti hilang.

Pengalaman Sudirman kah? atau malah justru kualitas pemain yang menurun karena libur hampir satu tahun lamanya?. Di lima pertandingan yang sudah dilakoni oleh Persija, tidak passing satu dua sentuhan yang membahayakan gawang lawan.

Persija selalu hanya mengandalkan bola mati untuk bisa mencetak gol. Ketika sudah buntu, tidak ada pemain yang bisa menjadi kunci untuk memecah kebuntuan tersebut. Kehilangan sosok Evan Dimas di lini tengah sangat terasa setiap pertandingan Persija.

Persija Jakarta. (Media Persija)

Belum lagi penampilan Marko Simic yang sudah tidak setajam ketika awal kedatangannya ke Persija. Bukannya malah makin baik, justru penampilan Persija sangat tidak enak untuk disaksikan. Hanya mengadalkan umpan jauh saja dan bola mati saja.

Satu lagi, Sudirman kerap memainkan pemain-pemain yang bisa dibilang sudah habis, seperti Ramdani Lestaluhu, Tony Sucipto, dan Novri Setiawan. Sudirman justru membangku cadangkan Riko Simanjuntak yang ketika dimainkan selalu mampu memberikan kontribusi untuk tim.

Selain itu, Sudirman juga terkesan tidak mau memberikan kepercayaan kepada pemain muda. Di posisi yang ditempati oleh Ramdani, bisa saja ia memberikan kepercayaan kepada Braif Fatari. Sama halnya dengan Novri, ada Salman Alfarid yang belum diberikan kepercayaan.

Ramdani Lestaluhu. (Media Persija)

Bukankan turmanen pramusim ini sejatinya untuk bisa mencoba banyak pemain sebelum berlaga di Liga 1 2021? bukan justru mencari piala atau gengsi?

Sekarang, meski tampil sampai dengan babak semifinal ini, tapi Persija belum sampai di performa terbaiknya. Menghadapi PSM Makassar di leg pertama jadi bukti tidak punya taringnya para pemain Persija dan gelandang Persija tidak pandai dalam membuat serangan.

Ya, apakah pada leg kedua Piala Menpora 2021 yang berlangsung di Stadion Manahan, Solo, Minggu (18/4) nanti, Persija masih seperti Macan Ompong, apa justru tim bisa menjadi Macan yang lapar akan kemenangan, patut ditunggu.