BolaSkor.com - Didier Drogba dianggap menjadi aktor kunci keberhasilan Chelsea menjuarai Liga Champions 2011-2012. Namun bagi penyerang berkebangsaan Pantai Gading tersebut, The Blues tidak akan bisa melakukannya tanpa kehadiran Juan Mata.

Musim 2011-2012 merupakan kali pertama Mata memperkuat Chelsea. Namun Drogba nampak sangat percaya dengan kualitas rekan barunya tersebut.

"Saya meminta kepada Juan Mata yang saat itu pemain muda berusia 23 tahun, 'maestro bantulah kami untuk menang, saya sudah delapan tahun di sini dan belum sekalipun memenangi Liga Champions'. Dia bilang, 'kamu gila ya, kamulah yang akan membuat kita menang nanti'," kata Drogba di akun Twitter-nya, @didierdrogba.

Baca Juga:

Mengintip Latihan Perdana Sejumlah Klub Premier League di Masa Pandemi Virus Corona

Agen Jorginho Buka Peluang Bawa Kliennya ke Juventus

Maurizio Sarri Masih Belum Bisa Melupakan Jorginho

Percakapan tersebut berlangsung pada akhir Februari. Saat itu Roberto Di Matteo baru ditunjuk sebagai manajer baru Chelsea menggantikan Andre Villas-Boas.

Tiga bulan setelah percakapan itu, Chelsea melaju ke final Liga Champions. Pada partai puncak, mereka menantang Bayern Munchen yang tampil di kandang sendiri.

Chelsea secara dramatis mampu mengalahkan Munchen lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu. Drogba tampil sebagai pahlawan dengan mencetak satu-satunya gol dan menjadi eksekutor penalti penentu kemenangan tim asal London tersebut.

Meski begitu, Drogba enggan dianggap sebagai pahlawan. Ia bahkan mengaku putus asa dan hampir menyerah saat Thomas Muller membawa Munchen memimpin jelang waktu normal berakhir.

Di sinilah peran Mata terlihat. Gelandang berkebangsaan Spanyol itu terus memberi motivasi kepada Drogba untuk tidak menyerah.

"Selama delapan menit terakhir saya begitu putus asa, tapi pemuda itu (Mata) berkata kepada saya 'percayalah Didi, kamu harus percaya'," sambung Drogba.

Tak lama kemudian, Drogba berhasil mencetak gol untuk menyamakan kedudukan. Menariknya gol tersebut tercipta melalui sundulan memanfaatkan sepak pojok Mata.

"Lihat siapa yang mengambil tendangan sudut, Juan Mata! Sisanya adalah sejarah. Itu merupakan pelajaran bagi saya untuk selalu percaya," tegasnya.