Lantas, apa yang menjadi persamaan antara Giovanni Trapattoni, Marcelo Lippi, dan Maurizio Sarri? Pertama, ketiganya sama-sama berposisi sebagai bek tengah ketika masih bermain.

Dengan memiliki posisi sebagai bek tengah, ketiganya memiliki pengamatan super di dalam maupun luar lapangan. Selain itu, mereka bisa membangun penyerangan kuat tanpa melupakan pertahanan.

Giovanni Trapattoni terkenal dengan permainan zona mista-nya. Strategi tersebut merupakan evolusi dari Cattenacio yang populer di Italia pada masa itu.

Zona mista adalah strategi menyerang dengan memfokuskan penyerangan kepada satu pemain. Saat itu, seluruh penyerangan Juventus berpusat ke sosok Michel Platini.

Giovanni Trapattoni

Hal yang sama terjadi pada masa kepemimpinan Marcelo Lippi. Ketika periode pertama melatih Juventus, Lippi menerapkan strategi ofensif 3-3-1-3 untuk memaksimalkan trio penyerangnya.

Paulo Sousa bertugas sebagai gelandang serang menopang Alessandro Del Piero sang fantasista. Terdapat juga dua striker tajam dalam diri Fabrizio Ravanelli dan kapten Gianluca Vialli.

Formasi menyerang yang tidak melupakan pertahanan juga menjadi dasar taktik Maurizio Sarri. Hal itu dapat dilihat dengan taktik Sarriball yang dia terapkan di Empoli, Napoli, hingga Chelsea.

Contoh paling mutakhir adalah di Chelsea, ketika Maurizio Sarri mampu mengoptimalkan talenta Eden Hazard. Atau saat menggali potensi Dries Mertens dan Lorenzo Insigne di Napoli.