BolaSkor.com – Tahun 2021 nampaknya menjadi titik balik bagi sepak bola di Indonesia untuk mengembangkan industri. Bagaimana tidak, beberapa pesohor yang ada di Indonesia, perlahan sudah merambah bisnisnya ke dunia sepak bola. Hal ini membuat ekosistem di dunia sepak bola kembali bergairah.

Satu fenomena yang membuat sepak bola terlihat kembali seksi adalah jejeran para artis yang perlahan membeli klub di Indonesia. Pertama yang jelas sangat terlihat adalah munculnya nama Raffi Ahmad dan Rudy Salim yang mengakuisisi klub Liga 2 Cilegon United, dan mengubah namanya menjadi Rans Cilegon FC.

Raffi tampaknya menjadi magnet tersendiri untuk para artis lainnya untuk membeli klub sepak bola Indonesia. Sahabat sekaligus rekan kerja Raffi, Gading Marten pun tak mau ketinggalan. Anak dari Roy Marten ini juga membeli sebagian besar saham dari klub Liga 3, Persikota Tangerang.

Baca Juga:

Ini Jadwal Penyisihan Piala Wali Kota Solo

Antusias di Piala Wali Kota Solo, Pemain Persib Diharapkan Tak Cedera

Setelah itu, belum lama ini ada Youtuber kenamaan Indonesia, Atta Halilintar yang juga mengakuisisi PSG Pati, dan berencana mengubah namanya menjadi AHHA Pati FC. Belum lagi ada Rizky Billar dan Baim Wong yang juga tertarik untuk bisa memiliki klub di Indonesia usai melihat teman-temannya.

Keuntungan Bisnis

Kedatangan artis ke klub-klub Tanah Air menjadi udara segar di tengah pandemi COVID-19. Hantaman Virus Corona jelas terasa bagi para klub. Semuanya terseok-seok karena tidak ada kompetisi.

Dana segar diperlukan agar klub tak bangkrut. Hal ini sah-sah saja asal tidak melanggar statuta PSSI dan hukum di Indonesia.

Kedatangan para artis juga bisa berimbas dengan mengantrinya sponsor untuk masuk. Branding artis sangat istimewa di mata sponsor.

Belum lagi, sosok artis bisa meningkatkan penjualan merchandise. Ini sangat dibutuhkan untuk pemasukkan klub di samping tiket yang belum bisa diraup lantaran kompetisi nanti masih tanpa penonton.

“Fenomena ini baik untuk industri sepak bola Indonesia. Selama para artis itu tidak hanya ikut-ikutan tren dan punya perencanaan jangka panjang yang baik. Semoga para artis itu tidak cepat kapok,” kata salah satu pengamat sepak bola, Rais Adnan ketika dihubungi oleh BolaSkor.com.

Atta Halilintar. (Media PSG Pati)


“Kalau dibilang bakal bertahan lama itu dikembalikan lagi niat dari para artis itu. Kalau cuma ikutan tren, pasti tidak akan lama dan justru itu bisa berdampak kurang baik bagi industri sepak bola Indonesia.”

“Tapi kalau memang mereka bersandar pada bisnis dan pembinaan jangka panjang yang jelas, serta punya rasa sabar yang tinggi di tengah situasi sepak bola Indonesia yang terkadang "ajaib", saya rasa mereka bisa bertahan lama,” tambahnya.

Youth Development yang Bisa Berantakan

Jika memang para artis tersebut ingin terjun serius, mereka juga harus memiliki rencana jangka panjang terkait dengan tim tersebut. Salah satunya adalah pembinaan usia muda yang benar-benar harus dilakukan. Namun, saat ini yang dilihat, beberapa tim mendatangkan pemain Liga 1 untuk mendapatkan prestasi instan di kompetisi.

Padahal PSSI ingin membuat sistem kompetisi yang baik dan berjenjang yang nantinya akan bermuara di Timnas Indonesia. Pada regulasi kompetisinya pun Liga 2 memang tidak dipatok umur yang akan bermain, tapi setidaknya tim ini bisa diisikan oleh pemain muda untuk bisa mendapatkan jam bermain, sama halnya dengan Liga 3.

Rans Cilegon FC. (BolaSkor.com/Hadi Febriansyah)

“Kita tahu Liga 2 dan 3 untuk pengembangan pemain muda, bukan pemain label Liga 1 turun ke bawah. Saat ini klub sudah harus mulai sadar pentingnya pembinaan usia muda. Memang sangat berat dan tidak mudah dr segi finansial untuk investasi di usia muda. Itu karena hasilnya baru bisa terlihat 10-20 tahun ke depan,” ujar Rais.

“Ini diharapkan bisa menjadi aset lainnya untuk klub, yang ujungnya menambah value mereka. Semoga ini bisa berjalan tidak hanya di level Liga 1 tapi juga Liga 2 dan Liga 3,” tambahnya.

Jadi, fenomena artis ke sepak bola harus disambut dengan nilai positif. Industri sepak bola Indonesia semakin naik dan ramai. Segi bisnis meningkat.

Namun harus diperhatikan, sepak bola dibangun dengan rules yang ada. Tidak bisa hanya ingin meraih prestasi instan. Akan tetapi, proses agar Timnas Indonesia bisa berprestasi nantinya melalui kompetisi berjenjang.

Untung atau buntungnya tergantung strategi sang artis dalam mengembangkan klub. Kalau hanya sekedar latah dan prestasi instan, mending menghiasi layar kaca saja dengan akting. Kalau serius, market sepak bola Indonesia bisa berkembang di era digital.

“Seharusnya bisa menguntungkan selama bisa di manage dengan baik. Contohnya, Rans Cilegon FC saat ini mereka terlihat cerdik dalam melihat peluang untuk mengembangkan bisnis klub dari segi digital marketing. Ini menjadi salah satu tren baru yang bisa menjadi pemicu untuk klub lainnya lebih kreatif dalam mencari sumber pendapatan lain selain dr tiket penonton,” pungkas Rais.