BolaSkor.com - Matahari terik menyinari Old Trafford, markas Manchester United. Stadion berkapasitas 60.000 penonton penuh disesaki fans. Musim 2018-19 telah berakhir dan tidak ada lagi pertandingan resmi, ada apa di Old Trafford?

Fans ternyata berkumpul untuk menyaksikan barisan legenda Man United melawan legenda Bayern Munchen di laga amal, tepat di 10 tahun pertandingan final bersejarah final Liga Champions 1999 - tahun treble winners Setan Merah.

Sebagian besar di antara fans itu mungkin berpikir melihat 'hiburan yang sesungguhnya' pasca melalui perjalanan horor di musim 2018-19. Red Devils terlempar dari empat besar klasemen (zona Liga Champions) dan dua musim beruntun tanpa trofi.

Membandingkan perjalanan musim itu, dibandingkan melihat aksi David Beckham, Gary Neville, Andy Cole, Dwight Yorke, Jaap Stam, Peter Schmeichel, bak melihat neraka dan surga. Era para legenda itu telah berakhir, tapi fans seolah masih melihat mereka bermain untuk klub.

Baca Juga:

Ander Herrera, Pemain Basque yang Meninggalkan Warisan di Manchester United

Cuci Gudang, Manchester United Akan Lepas 10 Pemain Muda

Menilik Perbandingan Skuat Treble Manchester City 2019 dengan Manchester United 1999

Skuat legenda treble winners Manchester United

Old Trafford disesaki penonton, teriakan, dukungan, dan nyanyian terus mereka nyanyikan kepada para legenda dan tentu saja untuk: Sir Alex Ferguson. Euforia dari fans itu sangat jarang ditemui musim ini.

Manchester United menang 5-0. Tapi, apalah arti skor besar itu di laga amal? Tidak ada. Fans cukup terhibur melihat para legenda - meski dengan perut buncit (kecuali Beckham) - beraksi pamer kualitas yang tak lekang oleh waktu.

Stamina berkurang tapi kualitas bermain permanen.

Beckham dengan umpan-umpan silang yang tidak pernah berhenti membuat publik berhenti mengaguminya, Scholes dengan kemampuannya mengatur permainan, Stam dengan kelugasannya bermain di lini belakang, Schmeichel yang sigap, dan duet Yorke-Cole yang tajam bak predator menanti mangsa datang.

Fans Man United dibawa bernostalgia di era Ferguson. Mereka antusias, bergairah, dan tidak pernah lelah bernyanyi, meski laga amal itu tidak menentukan posisi klasemen, zona Eropa, atau laga final. Fans tahu mana pemain yang memberikan segalanya untuk klub dan tidak.

Fans begitu antusias menyaksikan laga yang tajuknya hanya pertandingan amal

Menurut artikel dari Manchester Evening News, skuat terkini Man United seharusnya belajar dari para legenda tersebut. Belajar soal: ketekunan berlatih, kerja keras, jiwa berkorban tinggi, komitmen, gairah. Segala hal itu menyempurnakan kualitas individu yang mereka miliki.

Marcus Rashford dan Jesse Lingard hadir menyaksikan pertandingan tersebut. Keduanya jelas bisa belajar dari cara Beckham melepaskan umpan silang yang disambut oleh Yorke.

"Lingard jelas harus belajar memberi umpan silang lebih baik di bawah bimbingan Beckham; tidak ada pengguna kaki kanan terbaik dalam memberi suplai bola kepada monster Frankenstein-nya sepak bola," demikian tulis Manchester Evening News.

"Diogo Dalot tidak beruntung menyaksikan beberapa media bermain di Old Trafford awal musim ini, tapi untuk Lingard dan Rashford menyaksikan Beckham dan Yorke seharusnya jadi pembelajaran."

Selebrasi gol para legenda Manchester United

Sementara dari Stam, bek-bek tengah terkini United belajar bahwa kedisiplinan, fokus, kelugasan, menjaga zona bertahan merupakan prioritas pertama. Di satu momen laga tersebut, Stam menabrak Ivica Olic tanpa tedeng aling-aling untuk mengamankan zonanya.

Duet Yorke-Cole menghasilkan banyak gol di masa jayanya. Jumlah gol mereka bisa jadi melebihi torehan gol Anthony Martial, Romelu Lukaku, Rashford, jika digabung.

Begitu banyak hal yang bisa dipelajari skuat terkini Man United dari para legenda tersebut. Mereka, yang masih bertahan, di musim depan wajib meyakinkan Ole Gunnar Solskjaer, legenda yang kini melatih klub.