BolaSkor.com - Masalah seolah tidak pernah berhenti menerjang Juventus di musim 2021-2022. Selepas kepergian Cristiano Ronaldo, Il Bianconeri masih mencari konsistensi bermain setelah sempat berada dekat zona degradasi di awal musim Serie A.

Titik balik kebangkitan Juve sudah dimulai pada 15 September lalu. La Vecchia Signora menang 3-0 atas Malmo di Liga Champions yang dilanjutkan hasil imbang melawan AC Milan (1-1), dan dua kemenangan beruntun atas Spezia (3-2) dan Sampdoria (3-2).

Pertahanan Juventus masih terlihat rapuh di laga-laga tersebut, akan tapi kepercayaan diri akan momentum itu berlanjut. Sayangnya, dalam momentum bagus itu tim arahan Massimiliano Allegri mendapatkan kabar buruk.

Baca Juga:

Analisis - Manchester City Ciptakan 'Sangkar Burung' untuk Chelsea

Tragis, Pemain Chelsea Kehilangan Medali Juara Liga Champions

Juventus 3-2 Sampdoria: Bianconeri Lanjutkan Tren Positif

Paulo Dybala cedera

Dua penyerang mereka Alvaro Morata dan Paulo Dybala cedera kala bertanding melawan Sampdoria. Allegri mengonfirmasinya jelang laga kedua grup H melawan Chelsea di Juventus Stadium, Kamis (30/09) pukul 02.00 dini hari WIB.

“Mereka (Dybala dan Morata) tidak akan (bermain) melawan Chelsea atau Torino. Setelah derby akan ada jeda, kami berharap mereka bisa pulih setelah jeda," tutur Allegri soal kondisi Morata dan Dybala dikutip dari Sky Sports.

"Ini adalah bagian dari musim. Sekarang itu terjadi pada kami, kemudian, itu akan terjadi pada pemain lain. Itu bagian dari permainan. Anda harus pandai memainkan permainan ini bahkan dengan pemain yang absen."

The show must go on. Juventus akan melawan tim arahan Thomas Tuchel tanpa keduanya yang tengah rajin mencetak gol. Lantas, alternatif taktik apa yang dapat digunakan Allegri untuk mengisi absennya kedua pemain tersebut?

1. 4-4-1-1 (Moise Kean Sebagai Ujung Tombak)

Allegri belakangan kerap menerapkan formasi 4-4-2 dengan menjadikan Dybala dan Morata sebagai duet di lini depan. Tanpa keduanya Allegri dapat mengandalkan Moise Kean sebagai ujung tombak pada taktik 4-4-1-1.

Kean baru mencetak satu gol dari lima laga yang sudah dimainkan di seluruh kompetisi. Laga melawan Chelsea bisa jadi kans untuknya memperlihatkan kualitasnya.

Produk akademi Juventus berusia 21 tahun dapat ditopang oleh pergerakan Federico Chiesa atau Dejan Kulusevski di belakangnya.

2. 4-2-3-1 (False Nine)

Formasi dengan false nine atau penyerang semu di lini depan bisa jadi salah satu opsi Allegri. Skuad terkini ideal untuk memainkannya dengan taktik 4-2-3-1 dan ada dua pivot (gelandang jangkar) di lini tengah, satu gelandang serang serta dua penyerang sayap.

Posisi false nine itu ditempati oleh Federico Chiesa. Pemain berusia 23 tahun dapat berperan sebagai winger, penyerang kedua, hingga false nine jika dibutuhkan. Pergerakannya yang sulit dikawal dapat menarik atensi lini belakang Chelsea.

Di belakang Chiesa dua posisi sayap dapat ditempati Kulusevski dan Federico Chiesa, Aaron Ramsey atau Manuel Locatelli pada posisi gelandang serang dan Rodrigo Bentancur hingga Weston McKennie menjadi pivot.

3. 4-4-1-1 (Mainkan Marco Da Graca)

Marco Da Graca

Dalam situasi cedera pemain seperti Juventus maka itu jadi kans bagi pemain-pemain muda unjuk gigi. Produk akademi selalu jadi solusi untuk menutupi celah itu dan jadi pilihan ideal bagi pelatih.

Juventus menyertakan Marco Da Graca (19 tahun) dan Leonardo Cerri (18 tahun) dalam skuad tim di Liga Champions. Da Graca dipromosikan ke tim utama dan diberi kontrak atas performa bagusnya di primavera (U-19).

Da Graca menorehkan 15 gol dari hanya 17 laga liga di sana, rata-rata satu gol setiap 65 menit ia tampil bertanding.

Liga Champions sering menjadi ajang pemain-pemain muda bersinar. Da Graca dapat memanfaatkannya jika diberi kans tampil oleh Allegri.