BolaSkor.com - Manajemen Persija Jakarta akhirnya buka suara terkait dengan apa yang terjadi pada final leg kedua Piala Indonesia menghadapi PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Minggu, (28/7). Bahkan CEO Persija Jakarta, Ferry Paulus menjelaskan secara detail apa saja yang teror yang diterima oleh Persija Jakara selama berapa di Makassar.

Ferry Paulus menekankan satu titik bahwa ketidaksiapan Panitia Pelaksana (Panpel) dari PSM Makassar untuk menggelar pertandingan final leg kedua Piala Indonesia yang berlansung di Stadion Andi Mattalatta, Makassar. Bahkan Ferry Paulus mengatakan panpel PSM Makassar tidak cakap dalam menjamu tim Persija Jakarta di Makassar.

Baca Juga:

Final Leg Kedua PSM Vs Persija Ditunda dengan Alasan Keamanan

Pernyataan Resmi PSM Makassar soal Penundaan Final Leg Kedua

Ini bis terlihat dari mulai spanduk bertuliskan mengancam yang ada di depan hotel. Lalu pada jam 12.00 dan 02.00 WIB, tim Persija Jakarta mendapatkan gangguan suara dari mulai petasan dan suara sepeda motor yang mengganggu para pemain Persija Jakarta yang sedang beristirahat.

Dari mulai itu saja sudah mulai terlihat tidak adanya pengamanan yang ada di hotel tempat Persija Jakarta menginap. Sebenarnya pada saat itu para pemain Persija Jakarta, tidak mau ambil pusing. Puncaknya pada saat official training yang dilakukan oleh Persija Jakarta di Stadion Andi Mattalatta Matoangin. Bus yang ditumpangi oleh pemain dilempari batu oleh oknum suporter yang datang pada saat official training.

"Saya perlu klarifikasi terkait dengan apa yang terjadi disana, satu poin yang saya tekankan disini ialah ketidaksiapan panpel dalam menjamu kami. Banyak hal-hal diluar fair play yang kami dapatkan ketika kami sampai disana dan didiamkan saja oleh panpel," kata Ferry Paulus di Kantor Persija Jakarta, Jakarta, Selasa (30/7).

Seliat tekanan yang didapatkan oleh Persija Jakarta, Panpel dari PSM Makassar tiba-tiba menambah tiket untuk pertandingan tersebut. Padahal dalam regulasi jelas tertulis tidak bisa menambah tiket. Terlebih tribun sementara yang dibuat oleh PSM Makassar berada persis dibelakang bench Persija Jakarta.

"Dihari yang sama panpel menambah kuota tiket untuk pertandingan ini dan dijual secara langsung di stadion. Semua tahu animo suporter untuk pertandingan ini sangat luar biasa. Mereka menambah 800 tiket kalau tidak salah untuk pertandingan ini, padahal jelas di regulasi tidak bisa menambah kuota tiket," ucap Ferry Paulus.

"Di Jakarta juga pernah medapatkan salah seperti ini, namun panpel disini bisa mengatasi hal tersebut. Melihat penumpukan massa seperti ini seharusnya panpel bisa cerdas dan celat dalam mengantisipasi oknum-oknum anarkis yang bisa membahayakan keselamatan pemain,"

Setelah mendapatkan itu semua, Persija Jakarta akhirnya bertemu dengan pihak dari PSM Makassar, untuk membicarakan hal. Bahkan kedua pihak ini sempat pertemu dengan Kapolrestra agar pertandingan tersebut bisa digelar. Tapi nyatanya Persija Jakarta masih menunggu keputusan dari pihak PSSI. Ketiga pihak ini meeting hingga dini hari.

Akhirnya setelah PSSI datang dan mempertemukan kedua tim. Titik tengah yang diambil adalah pertandingan ditunda. Bahkan sempat beredar kabar bahwa laga ini akan dilangsungkan di tempat yang netral, namun PSM Makassar tidak mau mereka tetap ingin bermain di Makassar.

Masalah tidak sampai disitu saja, setelah pengumuman pertandingan ditunda, Persija Jakarta pun langsung berjalan ke bandara untuk pulang ke Jakarta. Sampai bandara, tekanan pun masih terjadi, boarding pass yang dimiliki pemain Persija Jakarta disebar luaskan oleh pihak bandara. Padahal sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi.

"Saya sangat menyayangkan hal itu, padahal boarding pass iru sifatnya pribadi dan tidak boleh disebar luaskan. Ini yang membuat kami kecewa dengan semua hal yang kami rasakan di Makassar. Saya berharap hal ini tidak terjadi lagi pada tanggal 6 Agustus mendapatang," tutup Ferry.