BolaSkor.com - Persaingan ketat terjadi di Premier League 2019-20 yang sudah berjalan selama 11 pekan. Liverpool dan Manchester City tetap jadi dua klub kandidat juara musim ini, sementara perebutan zona Liga Champions masih berlangsung ketat.

Liverpool dan Man City sudah diprediksi kuat menjadi dua klub yang akan menempati posisi dua teratas (dan akan terus bertahan hingga akhir musim). Jadi, dua slot tersisa di urutan tiga dan empat klasemen akan direbutkan sengit oleh tim-tim lainnya.

Saat ini, Leicester dan Chelsea menempati urutan tiga-empat klasemen dengan raihan 23 poin, sementara pesaingnya ada: Arsenal (17 poin), Sheffield United (16 poin), Bournemouth (16 poin), Brighton & Hove Albion (15 poin), dan Crystal Palace (15 poin).

Baca Juga:

Menilik Perbedaan Skuat Muda Chelsea dan Manchester United

Leicester City, Semangat Khun Vichai, dan Kuda Hitam Perburuan Titel Premier League 2019-20

Sergio Aguero Sebut Liverpool Bukan Rival Terbesar Manchester City

Dua klub yang kerap bersaing beberapa musim terakhir, Manchester United dan Tottenham Hotspur, tidak masuk hitungan sementara ini (meski tidak dicoret) karena mereka mengoleksi 13 poin dan lebih dekat dengan raihan poin di tim zona degradasi.

Chelsea dan Leicester. Seberapa besar kans mereka untuk bertahan di empat besar Premier League dan mengamankan zona Liga Champions? Mengutip data dari Omnisport, berikut kans mereka bersaing di zona tersebut:

Konsistensi Leicester City

Leicester City

Tak diragukan lagi, Leicester berkembang jadi tim ofensif dengan penampilan menghibur di bawah asuhan Brendan Rodgers. Leicester sudah tiga kali menjebol gawang lawan lebih dari tiga gol, seperti kala menang 5-0 melawan Newcastle United dan 9-0 kontra Southampton.

Omnisport punya perhitungan yang disingkat dengan inisial xG atau gol yang diprediksi terjadi, entah itu mencetak gol atau tingkat kebobolan. Leicester, yang sudah mencetak 27 gol dari 11 laga musim ini, punya xG pada angka 14,78.

Itu artinya Leicester punya tendensi mencetak dua gol di tiap pertandingan dengan permainan mereka. Tidak usah heran jika Leicester punya tingkat konversi gol sebesar 17,88 persen, terbaik di liga dan mengalahkan 14,17 persen milik Man City.

Pertanyaannya adalah "Mampukah Leicester menjaga konsistensi bermain?" Jika mampu melakukannya, zona Liga Champions bukan misi yang mustahil diraih. Apalagi pada 2015-16, Leicester pernah jadi juara Premier League dan beberapa pemain di dalam skuat itu masih ada sampai saat ini.

Chelsea, Skuat Muda Minim Pengalaman

Chelsea

Berkah dari sanksi belanja pemain yang diberikan FIFA adalah kebebasan Frank Lampard memainkan pemain muda di Chelsea. Mason Mount, Tammy Abraham, Fikayo Tomori, Christian Pulisic, dan Callum Hudson-Odoi menjadi tulang punggung tim musim ini.

Dikombinasikan pemain senior seperti Cesar Azpilicueta, Pedro, Willian, Mateo Kovacic, Jorginho, dan Olivier Giroud, Chelsea berpeluang mengunci tempat di empat besar Premier League. Tapi, ada satu titik lemah dalam skuat Chelsea terkini.

Di lima laga di seluruh kompetisi melawan Manchester United, Liverpool, dan Leicester, Chelsea gagal menang. Mereka masih menemui kesulitan tiap kali bertemu tim besar di Inggris. Hal ini harus dibenahi Lampard.

Selain itu, pertahanan Chelsea juga harus lebih diperkuat lagi karena mereka telah kebobolan 17 gol - terbanyak di antara tim tradisional enam besar Premier League. xG mereka mencapai 13,24 persen dan Chelsea tidak beruntung - Leicester punya xg 11,13 persen.

Menilik segala perbandingan itu, Chelsea dan Leicester sama-sama punya kans kuat mendampingi Liverpool dan Man City untuk bermain di Liga Champions musim depan, selama dapat membenahi kekurangan mereka masing-masing.