BolaSkor.com - CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi turut mengomentari kelanjutan kompetisi Liga 1 2020 yang digelar tanpa penonton. Yoyok mengatakan jika digelar tanpa dihadiri penonton itu sangat menjadi beban untuk setiap klub.

Yoyok Sukawi menambahkan bahwa untuk melanjutkan kompetisi ini tim sangat sulit untuk mengandalkan dana sponsor, sekarang hanya bisa bergantung pada subsidi saja. Terlebih selama masa pandemi COVID-19 ini, PSIS Semarang masih tetap menggaji seluruh pemain dan ofisial meski aktivitas diliburkan.

“Kami cuma bergantung dari hak komersial saja atau subsidi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB). Karena jujur pendapatan tiket dipastikan minus pada kompetisi mendatang, padahal PSIS itu kekuatannya dari tiket penonton,” kata Yoyok Sukawi ketika dihubungi oleh awak media.

Baca Juga:

Pelatih PSIS Dragan Djukanovic Setuju Pergantian Lima Pemain di Lanjutan Liga 1

Yoyok Sukawi Sebut Renovasi Stadion Citarum Sudah Mencapai 50 Persen

“Pendapatan kami itu dari tiket penonton dan dari situ totalnya 70 persen, jika tidak ada penonton yang pendapatkan kami pasti akan berkurang,” ucap pria yang juga menjabat sebagai komite eksekutif (Exco) PSSI.

Lebih lanjut, pria yang juga merupakan anggota Komite X DPR RI itu mengaku memang masih ada sponsor lokal yang saat ini masih membantu PSIS. Namun uang yang didapatkan dari sponsor tersebut sudah habis untuk membantu biaya persiapan dan oparsional.

“Kalau untuk sponsor lokal, kami masih jalan, namun sudah habis untuk persiapan awal dan operasional. Jadi perlu diingat ya kami musim 2020 ini kan start persiapan dari bulan Desember 2019 hingga sekarang ya. Sekarang kami masih membayar gaji pemain dan ofisial kan,” kata Yoyok.

Sejauh ini, PT LIB akan menambahkan uang subsidi kepada para tim kontestan Liga 1 2020. Sebelumnya mereka mendapatkan Rp520 juta, untuk lanjutan kompetisi nanti tim akan mendapatkan Rp800 juta. Meski begitu menurut Yoyok itu masih belum cukup.

“Iya. Makanya itu kan sangat berat untuk klub. Mungkin di situasi pandemi COVID-19 ini untuk pemegang saham memang mau tidak mau harus siap tombok," pungkas Yoyok.