BolaSkor.com - Seperti apa jika sebuah klub mendadak melesat tanpa tedeng aling-aling. Inilah yang terjadi pada Wolverhampton Wanderers, klub yang baru saja membeli Fabio Silva dengan banderol 40 juta euro. Harga yang menjadikan pemain berusia 18 tahun itu sebagai salah satu pemain remaja termahal dunia.

Dari papan tengah divisi Championship dan sempat mampir di kasta ketiga menjadi salah satu tim baru yang paling mengancam di Premier League hingga menembus semifinal Liga Europa musim lalu. Pendukung Wolves telah menikmati perubahan peruntungan total sejak kepemilikan baru.

Pada musim 2016-17, Wolverhampton hanya mampu finis di peringkat ke-15 klasemen Championships. Catatan ini setingkat lebih buruk ketimbang semusim sebelumnya saat Wolves ada di posisi ke-14. Dari posisi 14 dan 15, Wolves kemudian menggebrak menjadi kampiun Championships dan berhak tampil di kasta tertinggi sepak bola Inggris setelah terakhir kali mereka lakukan pada 2011-12.

Baca Juga:

5 Statistik Menarik di Balik Ketajaman Trio Man United: Rashford, Martial, dan Greenwood

Fabio Silva dan 6 Pemuda Termahal Dunia

Secuplik Kisah Wolverhampton dan Sentuhan Emas Sang Super Agen

Fabio Silva (premierleague.com)

Melesatnya klub yang pernah melambungkan karier Robbie Keane ini tidak lepas dari sentuhan sang Super Agen Jorge Mendes. Agen Cristiano Ronaldo ini disebut ada di balik sukses Wolverhampton. Sebelum membahas lebih lanjut kaitan sang super agen Mendes dengan Wolverhampton, ada baiknya terlebih dulu melihat ke belakang sepak terjang sang serigala.

Wolves sejatinya pernah menjadi sorotan ketika sukses promosi ke Premier League 2009-10 setelah mendominasi Championship. Di Premier League mereka hanya bisa bertahan selama dua musim dan The Wanderers akhirnya kembali ke divisi Championship setelah menjadi juru kunci pada musim ketiganya.

Terdepak dari Premier League mengguncang Wolves. Mereka bahkan tampil lebih buruk, saat kembali ke kasta kedua. Alhasil, Wolves yang dua musim sebelumnya berlaga di Premier League harus tergusur ke League One, kasta ketiga kompetisi Inggris.

Wolves sedikit demi sedikit melakukan pembenahan dan hanya butuh semusim bagi mereka untuk kembali ke Championships. Namun Wolves harus menunda ambisi kembali tampil ke Premier League. Karena The Wanderers gagal bersaing. Dalam tiga musim tiga kali mereka berganti arsitek.

Kenny Jackett yang membawa Wolves promosi kembali ke Championship digantikan Walter Zenga yang kemudian digeser oleh Paul Lambert. Di era Lambert pada musim 2016-17 Wolves finis di tangga ke-15. Namun banyak yang menyebut kegagalan itu lebih karena adanya campur tangan pihak ketiga. Di sinilah nama Jorge Mendes terdengar.

Lambert gagal konon karena tidak bisa membangun skuat terbaik yang sesuai dengan keinginan manajemen anyar Wolves yang lebih memercayai Mendes. Saat itu Wolves sudah diambil alih oleh Fosun Internasional. Konsorsium asal China itu mengambil alih kepemilikan Wolves dari Steve Morgan bersama Bridgmere Group-nya pada Juli 2016.

Lambert yang sejatinya ingin terus melatih Wolves akhirnya tersingkir di akhir musim 2016-17. Manajemen lebih mendengarkan masukan dari Mendes untuk mendatangkan Nuno Espirito Santo sebagai manajer anyar. Sebagai catatan, agen dari Nuno Espirito Santo tidak lain adalah Jorge Mendes.

Bagi Fosun, sangat wajar jika mereka memberi kepercayaan kepada Mendes. Fosun mulai menjalin hubungan dengan Mendes pada permulaan 2016. Tepatnya saat Shanghai Foyo, anak perusahaan Fosun, menanamkan saham di Gestifute, perusahaan agensi milik Mendes.

Sosok Santo sendiri sangat spesial bagi Mendes. Santo adalah klien pertama saat Mendes memutuskan menjadi agen pada 1996. Dalam kondisi normal, rasanya aneh bagi Nuno, pelatih yang menukangi FC Porto sebagai runner-up Liga Portugal, mau hijrah ke klub papan bawah kasta kedua Inggris. Terlebih ketika itu Nuno tengah dibidik klub-klub lain yang levelnya di atas Wolves. Tapi, berkat tangan Mendes, sang super agen, semua itu bisa terjadi.

Di bawah Fosun, Santo, dan sentuhan Mendes yang menyebut dirinya sebagai penasihat klub, Wolves melakukan pembenahan besar-besaran. Lalu sebagai apa sebenarnya Mendes di Wolves?

"Seseorang yang memiliki relasi pertemanan dekat dengan pemilik klub. Kami meminta pendapat dan saran dari dia," ujar direktur pelaksana Wolves, Laurie Dalrymple tentang peran Mendes.

Selain mendatangkan manajer baru, Mendes "menyarankan" Wolves merekrut pemain-pemain baru. Dimulai dari Ivan Cavaleiro dan Helder Barbosa yang datang musim sebelumnya. Dan, benar kedua pemain ini adalah klien dari agensi Gestifute.

Selanjutnya, mengalir pemain asal negara asal Mendes, Portugal. sebut saja Joao Teixeira dan Silvio. Pun dengan Ola John, yang juga didatangkan dari Benfica seperti Teixeira dan Barbosa. Semua itu berkat bantuan Mendes. Deretan pemain yang diboyong berlanjut dengan Ruben Neves, Ryan Bennett, John Ruddy, Barry Douglas.

Lalu Wolves dengan mudah bisa meminjam pemain muda Manchester United, Cameron Borthwick-Jackson. Ya, itu karena Mendes adalah agen manajer Setan Merah saat itu, Jose Mourinho.

Wolves memang banyak mendatangkan pemain asal Benfica. Lagi-lagi itu karena kedekatan Mendes dengan klub Portugal itu. Selama ini Benfica banyak menggunakan pemain yang merupakan klien dari Mendes. Sebaliknya, Benfica banyak meraup uang dari hasil penjualan pemain yang diageni Mendes. Sebut saja Fabio Coentrao, Angel Di Maria, Bernardo Silva, Andre Gomes, hingga Joao Felix, merupakan pemain-pemain di bawah agensi Gestifute yang menyumbang banyak uang.

Saat kembali ke Premier League, Wolverhampton kembali memperkuat skuat dengan tiga pemain anyar, dan seperti yang diduga sebelumnya, berasal dari Liga Portugal; Raul Jimenez, Rui Patricio, dan Joao Moutinho.

Konflik Kepentingan

Terkait hubungan Mendes, Fosun, dan Wolves itu sendiri sempat menjadi pembicaraan hangat di Inggris. Relasi ketiganya dianggap memunculkan konflik kepentingan dan dinilai sudah menyalahi aturan FA. Tidak sedikit klub pesaing Wolves di Championships mengeluh. Bahkan EFL sebagai penyelenggara Championships diminta melakukan investigasi.

Namun EFL mengumumkan bahwa tidak ada yang salah dengan keberadaan Jorge Mendes. Mereka menyatakan puas dengan status Mendes sebagai penasihat. EFL mengatakan keterlibatan Mendes di Wolves sebagai agen pemain dan penasihat tidak menyalahi aturan. Alasannya, Mendes bukanlah seorang direktur atau memiliki jabatan resmi yang mewakili Fosun atau memiliki kendali dalam bisnis Wolves.

Sebelumnya, pemilik Leeds United, Andrea Radrizzani, menyebut apa yang dilakukan Wolves tidak legal dan tidak adil. Radrizzani beralasan, hubungan Mendes dan Fosun sebagai pemilik Fosun tidaklah legal karena Fosun juga merupakan pemilik saham Gestifute.

Dalam aturan FA memang menyebut larangan sebuah perusahaan atau perorangan yang memiliki klub juga memunyai saham di perusahaan agensi pemain. Namun, Fosun sejatinya tidak memiliki saham di perusahaan agensi Mendes. Pasalnya yang memiliki saham bukanlah Fosun secara langsung, melainkan oleh perusahaan lain yang dimiliki bos Fosun, Guo Guangchang.

Aturan FA juga mencegah adanya konflik kepentingan saat seorang agen memiliki posisi untuk mempengaruhi kegiatan di sebuah klub. Dalam hal ini, Mendes tidak memiliki posisi di Wolves. Kubu Wolves tetap mengklaim mereka tidak melanggar aturan FA.

Apapun itu, diakui atau tidak, sukses Wolves kembali ke Premier League tidak lepas dari sentuhan tangan sang super agen, Jorge Mendes. Ya, dengan sentuhan Jorge Mendes bukan mustahil seorang Cristiano Ronaldo pun akan bisa berkostum Wolverhampton.