BolaSkor.com - Tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak mengetahui nama besar Amerika Serikat (AS). Negara super power dunia yang selalu menjadi sorotan dari berbagai aspek kehidupan, baik dari politik, ekonomi, kehidupan, hingga dunia olahraga.

Ketika berbicara mengenai Amerika dan olahraga, olahraga yang terkenal di sana bukanlah sepak bola yang baru beberapa tahun terakhir berkembang dan dikenal karena MLS. Olahraga yang populer di sana adalah baseball, basket, dan American Football.

Popularitas sepak bola berangsur naik dengan adanya MLS (Major League Soccer). Dalam sedekade terakhir bintang-bintang Eropa bermain di sana pada penghujung kariernya, sebut saja seperti David Beckham, Steven Gerrard, dan Zlatan Ibrahimovic.

Beckham bahkan memiliki klubnya sendiri di sana yakni Inter Miami yang dilatih eks rekan setimnya di Manchester United, Phil Neville. Itu semua semakin mengangkat nama MLS.

Baca Juga:

Nostalgia Piala Dunia: Kejayaan Spanyol dan Kenangan dari Afrika Selatan pada 2010

Piala Dunia 2022: Lionel Scaloni, Pemutus Mata Rantai Kutukan Argentina

Komputer Super Prediksi Piala Dunia 2022: Duel Messi Vs Ronaldo di Final

Kendati demikian jika berbicara level internasional pada timnas Amerika Serikat (AS) publik tidak berharap banyak. Maklum saja, meski Amerika negara besar dan populer di dunia, tetapi sejarah sepak bola mereka di dunia tidak besar.

Catatan terbesar Negeri Paman Sam di Piala Dunia sebatas mencapai semifinal pada 1930 dan total sudah mengikuti 11 Piala Dunia. Amerika juga pernah melalui periode tanpa Piala Dunia karena gagal lolos kualifikasi pada 1950 hingga 1990.

Kini timnas Amerika dilatih Gregg Berhalter dan harapan masyarakat melihat timnas mereka bertahan di Piala Dunia 2022 dapat saja terjadi. Berhalter punya catatan bagus sejak melatih Amerika dari 2018.

Karier dan Rekor

Gregg Berhalter (49 tahun) lahir di Englewood, Amerika Serikat, pada 1 Agustus 1973. Dahulu dia juga bermain sepak bola sebagai bek dan pernah memperkuat beberapa klub seperti Sparta Rotterdam, Crystal Palace, dan LA Galaxy.

Berhalter mulai melatih Amerika pada Desember 2018 setelah mereka gagal lolos Piala Dunia. Itu jadi kali pertama sejak Meksiko 1986 Amerika tidak tampil di Piala Dunia, mereka juga mencapai fase gugur pada 2010 dan 2014.

Amerika mengamankan tiket ke Piala Dunia 2022 Qatar melalui Kualifikasi Zona Concacaf di tempat ketiga. Tim Berharter mencatatkan tujuh kemenangan, empat hasil imbang, dari 14 pertandingan dan punya perolehan poin sama dengan Kosta Rika - dipisahkan dengan selisih gol.

Sejak jadi pelatih tim berjuluk The Stars and Stripes, Berhalter punya rekor kemenangan bagus. Dia mencatatkan 36 kemenangan, 10 hasil imbang, dan 10 kekalahan di seluruh kompetisi. Timnya juga mencatatkan 115 gol dan kebobolan 36 gol.

Wajar jika fans Amerika bisa berharap darinya agar timnas bisa bertahan lebih lama di Piala Dunia 2022 - tidak kandas di fase grup. Berhalter meneruskan tugas pendahulunya, Dave Sarachan yang kini melatih Puerto Rico.

Berhalter pada awalnya jadi asisten pelatih LA Galaxy pada 2011, kemudian menambah pengalaman di klub Swedia, Hammarby IF (2011-2013), sebelum melatih Columbus Crew dari 2013 hingga 2018.

Berhalter berhasil membawa Amerika ke Piala Dunia 2022 tapi selain itu ia juga sukses di hal lainnya, seperti saat memenangi Concacaf Nations League 2019-2020 kala mengalahkan Meksiko di final dengan skor 3-2. Juga menang lawan Meksiko di final Gold Cup 2021.

Berhalter membawa pengalamannya sebagai pemain dalam karier kepelatihannya. Ia juga pernah memperkuat timnas Amerika sebelumnya dan punya 44 caps pada medio 1994-2006.

Kariernya di Eropa dimulai pada 1994 dengan PEC Zwolle hingga 1996 dan kemudian pindah ke Sparta Rotterdam. Dia tetap di sana hingga 1998 dan pindah ke Cambuur-Leeuwarden, baru pada 2001 Palace merekrutnya.

Periodenya dengan Palace bukan yang terbaik dan ia hanya bertahan semusim, sebelum membela Energie Cottbus, 1860 Munich, dan pensiun dengan LA Galaxy pada 2011.

Amerika berada di grup B Piala Dunia 2022 dengan Wales, Inggris, dan Iran. Berhalter diharapkan dapat membawa Christian Pulisic dkk bertahan lama di Piala Dunia.