BolaSkor.com - Saat ini setiap pertemuan Arsenal dengan Manchester City selalu jadi pertandingan yang seru. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana: duel adu jenius antara Pep Guardiola dengan Mikel Arteta.

Menilik perjalanan karier keduanya Guardiola jelas lebih berpengalaman dengan kesuksesannya di Barcelona, Bayern Munchen, dan Man City karena karier kepelatihannya dimulai sejak 2007.

Sedangkan Mikel Arteta masih anak baru di dunia kepelatihan karena ia baru melatih klub sendiri sejak 2019 di Arsenal, mantan klub yang pernah dibelanya dari medio 2011-2016. Selama tiga tahun setelah pensiun Arteta menjadi asisten Guardiola di City.

Baca Juga:

Penjelasan Pep Guardiola soal Kuatnya Pertahanan Manchester City

Buat Apa Penguasaan Bola jika Tak Mampu Cetak Gol, Arsenal

Arsenal Diminta Lebih Kejam Lagi di Kotak Penalti Lawan

Pep Guardiola, guru Mikel Arteta

Tiga tahun itu menambah wawasan Arteta akan sepak bola. Seperti halnya Guardiola, Arteta produk La Masia dan tahu betul filosofi sepak bola di sana yang sudah ditanamkan oleh Rinus Michels dan Johan Cruyff.

Selain itu Arteta juga menggabungkan filosofi itu dengan ilmu yang didapatnya dari Arsene Wenger dan Guardiola. Pun demikian Guardiola yang punya banyak guru untuk dicuri ilmunya dari Italia hingga Spanyol.

Tak ayal banyak yang memprediksi keduanya bak pinang dibelah dua. Sama-sama dari Spanyol, sama-sama produk La Masia, dan juga sama-sama punya karisma sebagai eks pemain serta gaya pakaian yang trendy. Benar begitu?

Perbedaan Arteta dan Guardiola

"Filosofi saya jelas. Saya ingin sepak bola ekspresif dan menghibur. Saya tak bisa memiliki konsep sepak bola saat segalanya berdasarkan (taktik atau situasi) lawan."

Begitu ucapan Arteta kala ia menjawab pertanyaan dari Arsenal selepas gantung sepatu pada 2016. Jika dicermati ucapannya itu menggambarkan keinginannya agar Arsenal bermain ofensif dan menghibur, jelas selayaknya tim arahan Guardiola.

Kendati demikian dalam penerapannya Arteta tengah membangun skuadnya menuju konsep yang diinginkannya tersebut. Itu bisa dilihat dari kontradiksi permainannya jelang akhir musim 2019-2020.

Arsenal mengalahkan Liverpool, Manchester City, dan Chelsea dengan penguasaan bola tak lebih dari 40 persen. Ketiga laga itu memiliki kesamaan: Arsenal memainkan blok dalam dan mengandalkan serangan balik.

Mikel Arteta dengan manajer Liverpool, Jurgen Klopp

"Terkadang itulah yang ingin Anda lakukan sebagai pelatih dan terkadang itulah yang diperbolehkan untuk dilakukan, dengan level pemain-pemain dan performa tim-tim top yang bisa mereka lakukan kepada Anda," terang Arteta mengenai permainan timnya.

Hal itu disebut Joshua Law dalam tulisannya di Forbes sebagai gaya pragmatis ala Mikel Arteta. Berbeda dari Jose Mourinho atau Rafael Benitez yang memang pragmatis dengan pertahanan dalam, menyerang dari serangan balik, dan mementingkan hasil akhir, pragmatis Arteta menyesuaikan dengan situasi timnya.

Faktanya Arteta membangun skuad Arsenal sejak ditunjuk melatih menggantikan Unai Emery pada Desember 2020 dan menanamkan konsep bermainnya. Arsenal mulai mendominasi penguasaan bola dan satu kebiasaan yang tengah dibangunnya: membangun serangan dari belakang.

Memainkan bola dari kaki ke kaki melalui operan pendek menjadi kebiasaan Arsenal dari kiper ke lini belakang. 32 persen penguasaan ada di area itu. Arsenal belum sempurna memainkannya dan ini bisa dilihat dari hasil yang diraih musim ini.

The Gunners inkonsisten hingga berada di papan tengah klasemen. Penguasaan bola yang mereka miliki acapkali tidak dibarengi penyelesaian akhir yang klinikal.

"Saya tidak terlalu tertarik dengan penguasaan bola - itu adalah posisi yang kami ambil dengan penguasaan itu, ruang yang kami serang dan berapa banyak situasi terbuka yang kami ciptakan," tutur Arteta dikutip dari Mirror beberapa waktu lalu.

"Ini tentang umpan terakhir, langkah terakhir, situasi satu lawan satu saat tentu saja Anda harus mencetak gol, memotong bola kembali, pengiriman bola ke dalam kotak penalti."

"Semua itu harus kami tingkatkan karena dengan angka yang kami hasilkan di sepertiga akhir (pertahanan lawan), kami harus mencapai target setidaknya 10 atau 12 kali."

"Anda harus mengenai target lebih sering dengan lebih konsisten untuk memenangi pertandingan. Kami seharusnya menang dengan nyaman, tapi mereka lebih baik di kedua kotak penalti - dan inilah caranya Anda memenangi laga di liga ini," terang Arteta.

Mikel Arteta dan Pep Guardiola

Sementara itu Guardiola sudah memiliki konsep jelas akan permainannya semenjak dari Barcelona. Hanya saja saat ini di City Guardiola tidak lagi ngotot dengan penguasaan bola dan sesekali menang dengan cara yang buruk (main buruk tapi tetap menang).

Apabila Arteta membiasakan timnya membangun serangan dari belakang, Guardiola justru fleksibel dengan cara yang sama dengan memainkan bola panjang ke depan. City hanya memiliki 17 persen penguasaan bola di pertahanan mereka sendiri.

Tak ayal City punya Ederson Moraes, Aymeric Laporte yang dapat melancarkan bola lambung dengan akurat ke lini depan. Musim ini adanya Ruben Dias berduet dengan John Stones menjadikan Ederson sebagai penendang bola jauh City di belakang.

Pemikir dan Eksekutor

Pep Guardiola dan Mikel Arteta di sesi latihan Man City

Suatu ketika eks pemain City yang kini membela Bayern Munchen Leroy Sane pernah berkata, "Orang-orang bertanya kepada saya mengenai berlatih dengan Pep, tapi hal-hal yang saya pelajari datang dari Mikel Arteta."

Begitulah kolaborasi Arteta-Guardiola di Man City. Guardiola pencetus ide atau rencana utama yang akan diaplikasikan kepada timnya, sementara Arteta eksekutor yang langsung berbicara kepada pemain, meningkatkan performa mereka.

Sane, ketajaman Raheem Sterling, penempatan posisi Fabian Delph, dan pemain lainnya datang langsung dari Arteta yang mendapatkan informasi dari Guardiola.

"Arteta punya etos kerja yang sangat hebat dan dia punya talenta spesial untuk menganalisis apa yang terjadi dan kemudian menemukan solusinya," ucap Guardiola mengenai Arteta.

Mikel Arteta memberi arahan kepada Fernandinho

Faktanya demikian. Guardiola tak pernah menjadi asisten pelatih dalam karier kepelatihannya dibanding Arteta. Tapi Guardiola selalu memiliki asisten pelatih yang dapat diandalkan.

Perjalanan karier keduanya sebagai pemain juga berbeda. Guardiola pernah bermain di utama Barca sebelum ke Roma dan Brescia, sedangkan Arteta tak pernah membela tim utama Barca namun mengembangkan kariernya di PSG, Rangers, Real Sociedad, Everton, dan Arsenal.

Arteta tak lagi di City dan kini ia jadi pemikir sekaligus eksekutor. Setiap pertemuannya dengan Guardiola akan dilihat sebagai bentrok murid vs guru.