BolaSkor.com - Paris, 26 Desember 1944, hampir satu tahun sebelum Perang Dunia II usai. Suasana kota begitu hangat di tengah dinginnya Prancis pada Desember, sebagaimana daratan Eropa pada umumnya.

Di tengah kehangatan Kota Paris pada Boxing Day, situasi mencekam melanda Benteng Montrouge yang berada di selatan kota. Regu penembak mengacungkan senjata ke arah seorang pria yang diikat di depan mereka.

Pasrah, berdoa, atau teringat dosa masa lampau, Kilasan-kilasan itu yang memenuhi pikiran oleh pria tersebut dalam sisa hidup yang tinggal menunggu hitungan detik.

"Presentez armes, en joue, feu!" seru pemberi aba-aba kepada regu penembak. Sembari menanti ajal, pria yang matanya ditutup dengan kain itu mengenang berbagai kejadian dalam hidupnya.

Pikiran pria itu mengawang jauh mundur ke sebuah kapal yang membawa timnas Prancis di lautan lepas menuju ke Uruguay pada 1930, ketika mereka akan tampil di Piala Dunia. Berstatus kapten tim, tidak heran apabila namanya dielukan.

Baca Juga:

Keajaiban Hari Raya Natal dan Sepak Bola di No Man's Land pada Perang Dunia I

Antisipasi Hengkangnya Wijnaldum, Liverpool Monitor Gelandang Brighton

Alexandre Villaplane

Alexandre Villaplane, demikian kedua orang tuanya menamai pria tersebut. Lahir di Aljazair pada 12 September 1905, Villaplane muda pindah ke Prancis pada dekade 1920an yang disebut sebagai Annees Folles (masa gila), bersama kedua orang tuanya.

Di tengah usaha Prancis untuk bangkit pasca Perang Dunia I, orang-orang di sana membangun kultur baru. Art Deco hadir di jalan-jalan Prancis, artis-artis hebat dengan kehidupan borjuis membanjiri negara tersebut.

Sayangnya, Villaplane muda yang datang dengan status imigran tidak bisa menikmati hal tersebut. Tumbuh di jalanan dengan berbagai kekurangan membuatnya menjadi matrealistis.

Beruntung bagi Villaplane, dia memiliki bakat bermain sepak bola di atas rata-rata. Tidak butuh waktu lama untuk klub lokal, FC Sete, mencium talenta yang dimiliki pendatang muda tersebut.

Kala itu, sepak bola di Prancis belum mengenal istilah profesional. Para pesepak bola tidak diperbolehkan menerima uang atas jerih payah mereka di atas lapangan.

Biasanya pihak klub mengakali hal tersebut dengan memberikan pekerjaan fiktif kepada para pesepak bola. Villaplane termasuk orang yang mendapatkan uang dengan cara tersebut.

Pada usia 22 tahun, tepatnya 1927, Villaplane menerima panggilan untuk membela timnas Prancis. Pemain yang berposisi sebagai gelandang itu menjadi satu di antara pesepak bola imigran pertama yang berkesempatan membela Les Bleus.

Dua tahun kemudian, Villaplane direkrut oleh Racing Club Paris, klub ambisius yang ingin merajai sepak bola Prancis kala itu. Kehidupan di ibu kota membuatnya seolah lupa diri, banyak yang menganggap Villaplane sebagai 'anak badung' pertama dunia sepak bola.