BolaSkor.com - 5 Mei 2002, Inter Milan hanya membutuhkan tiga poin tambahan untuk menyegel Scudetto atau titel Serie A 2001-02. Lazio menjadi 'tembok terakhir' dalam upaya Inter mewujudkannya di markas bersama Lazio dan AS Roma, Stadio Olimpico.

Lazio bukan tim yang sama seperti kala mereka juara Scudetto 1999-2000 di bawah asuhan Sven-Goran Eriksson. Pada musim 2001-02 Lazio sudah mengganti pelatih mereka dari Dino Zoff ke Alberto Zaccheroni. Positifnya, Lazio masih bertarung di zona Eropa.

Di pertarungan terakhir dari jadwal Serie A, Lazio dan Inter bentrok di Stadio Olimpico yang dihadari 76.000 suporter. Ini laga yang sulit bagi Lazio besutan Zaccheroni, sebab sebagian besar fans ingin tim mereka kalah dan Scudetto diberikan kepada Inter.

Fans Lazio tidak sudi melihat AS Roma, yang mengalahkan mereka di laga derby dengan skor 1-5, berjaya dan meraih Scudetto. Jelang giornata (pekan) terakhir perolehan poin di tiga besar seperti ini: Inter (69 poin - puncak klasemen), Juventus (68 poin), dan Roma (67 poin).

Baca Juga:

3 Bintang Lazio yang Bisa Menyakiti Inter Milan

Eks Pelatih Juventus Sebut Inter Milan dan Lazio Berpeluang Scudetto

Menanti Asap Putih dari Gianluca Di Marzio

Lazio vs Inter Milan

Tiga tim berpeluang menjadi juara. Fans Lazio melihat laga kontra Inter sebagai kans menyakiti Roma. Apabila Lazio kalah dari Inter, maka Inter akan tetap di puncak klasemen dan memenangi Serie A di atas Juventus dan Roma, tak peduli hasil apapun dari kedua tim itu.

Jika Inter imbang atau kalah, lalu Roma menang di laga terakhir melawan Torino dan Juventus kalah dari Udinese, maka Roma bisa memenangi Serie A. Situasi itulah yang tak diinginkan fans Lazio - wajar (tapi unik) jika mereka justru tak ingin Lazio menang.

Tentu saja, Zaccheroni tak ingin ambil pusing berpikir seperti fans. Kemenangan tetap mereka incar karena Lazio masih bertarung di zona Eropa. Ndilalahnya (kebetulan), Inter besutan Hector Cuper tampil di bawah performa terbaik mereka.

Hector Cuper membesut Inter sejak 1 Juli 2001 setelah sebelumnya klub dilatih Marco Tardelli. Segalanya tampak berjalan positif ketika Christian Vieri mencetak gol di menit 12 dan digandakan oleh Luigi Di Biagio (24'), yang sempat diperkecil Karel Poborsky di menit 19.

Tepat sebelum turun minum, Lazio mendapatkan asa membalikkan keadaan saat Vratislav Gresko, bek Inter, melakukan kesalahan mengoper bola kepada Francesco Toldo. Poborsky merebut bola dan mencetak gol hingga kedudukan sama kuat 2-2.

Di babak kedua Inter tak berdaya. Lazio memanfaatkan momentum dan membalikkan keadaan dengan dua gol tambahan yang dicetak Diego Simeone (55') dan Simone Inzaghi (73'). Lazio menang 4-2, mengunci peringkat enam klasemen dan ke Putaran Pertama Piala UEFA (Liga Europa).

Ronaldo menangis

Inter, dari peringkat satu, turun ke urutan tiga Serie A dan memulai Liga Champions musim depan dari Kualifikasi Putaran Tiga. Tangisan striker legendaris Brasil, Ronaldo, pecah kala itu dan itu sudah menggambarkan segalanya.