BolaSkor.com - Konon, setiap insan memiliki masalah hidup sendiri. Tak jarang, mereka terperosok hingga sulit kembali berdiri. Apalagi, jika batu sandungan yang mengadang adalah keluarga yang sangat berarti. Namun, ihwal tersebut tak berlaku untuk Gianluca Scamacca, penyerang muda Sassuolo yang kerap bikin lawan ngeri.

Nama Gianluca Scamacca memang belum seharum Dusan Vlahovic yang baru-baru ini menyeberang dari Fiorentina ke Juventus. Untuk mendapatkan striker asal Serbia itu, Bianconeri menggelontorkan dana hingga 75 juta euro. Bahkan, ongkos bisa kian membengkak jika ditambah tetek bengek lainnya seperti bonus dan komisi agen.

Walakin, Gianluca Scamacca jelas bukan penyerang kacangan. Ia tampil brilian sebagai juru gedor Sassuolo.

Untuk mencapai posisinya seperti saat ini, Scamacca melalui jalan berliku. Pada awalnya, Scamacca berani mendapatkan cap sebagai Judas ketika pindah dari akademi Lazio ke AS Roma. Tentunya, jalan tersebut ditempuh demi masa depan yang lebih apik.

Baca juga:

Julian Alvarez, Spiderman, dan Fakta-fakta Menarik Suksesor Aguero di Man City

Profil Luis Diaz: Cristiano Ronaldo-nya Kolombia yang Diburu Liverpool dan MU

Sekilas tentang Pemain Kolombia Pertama di Liverpool, Bukan Luis Diaz

Scamacca kembali membuat keputusan besar pada musim dingin 2015. Tak seperti pemain muda lainnya yang biasanya jago kandang, Scamacca memilih berpetualang ke Belanda bersama tim junior PSV Eindhoven. Ia sadar, PSV memiliki satu di antara akademi sepak bola terbaik di Eropa.

Selama dua tahun di Belanda, Gianluca Scamacca menjadi andalah lini depan Jong PSV. Naluri menjebol gawang lawan pun kian terasah. Pria kelahiran Roma itu mendapatkan promosi dari tim U-17 ke tim U-21 PSV. Gelontoran gol pun mulai lahir dari aksi Scamacca.

Harmoni yang dilantunkan Scamacca di negeri Kincir Angin terdengar sampai ke kampung halaman. Bermodal 500 ribu euro, Sassuolo menggondol kembali Scamacca ke Italia pada akhir Januari 2017.

Terbiasa mengorbitkan pemain muda, Neroverdi sadar satu hal yang urgen untuk Scamacca adalah menit bermain. Oleh karena itu, Sassuolo mengirim Scamacca sekolah ke sejumlah klub seperti Cremonese, PEC Zwolle, dan Ascoli.

Scamacca tidak membuang kesempatan yang diperoleh. Scamacca tampil tokcer. Ketika membela panji Ascoli, ia menjadi top skorer Coppa Italia 2019-2020 dengan torehan empat gol.

Capaian tersebut terbilang spesial untuk pemain yang membela klub Serie B. Bahkan, Scamacca mengalahkan Lorenzo Insigne yang berada pada posisi kedua dan membawa Napoli keluar sebagai juara. Total, Scamacca mendulang 13 gol dalam waktu bermain kurang dari 2.500 menit di Ascoli.

Aksi Scamacca membuat Genoa melirik. Rossoblu melayangkan proposal peminjaman kepada Sassuolo untuk musim 2020-2021.

Scamacca langsung tancap gas dengan mencetak enam gol dari tujuh pertandingan awal. Namanya pun mulai dikaitkan dengan raksasa Serie A seperti AC Milan dan Juventus.

Akan tetapi, seperti layaknya pemain muda lainnya, Scamacca juga sulit mencapai konsistensi. Apalagi, penyerang Genoa lainnya, Mattia Destro, tampil mengilap.

Walhasil, ia duduk dibangku cadangan karena ada pemain veteran yang lebih trengginas. Padahal, satu pekan sebelumnya Scamacca digosipkan menjadi target Juventus.

Scamacca juga langganan di tim Italia. Ia sudah mencicipi jersey Gli Azzurri sejak U-15 dan terus berjenjang hingga menembus tim senior. Scamacca digadang-gadang masuk dalam pertimbangan pelatih tim nasional Italia, Roberto Mancini, untuk bermain pada laga play-off Piala Dunia 2022. Maklum, Italia sedang krisis striker.

"Selangkah demi selangkah. Namun, jika saya berhasil melakoni musim seperti keinginan, kesempatan itu akan datang," urai Scamacca seperti dinukil Guardian ketika ditanya soal kans membela timnas Italia.

Secara fisik, Scamacca banyak dibandingkan dengan Zlatan Ibrahimovic ketika masih muda. Seperti Ibra, terutama ketika pada awal kariernya, Scamacca mampu menjadi mimpi buruk untuk bek lawan pada sepertiga akhir lapangan.

Scamacca memainkan peran sebagai target man. Pria yang merajah tubuhnya dengan tato tersebut juga tidak segan menjadi pemantul bola pada pemain lain. Selain itu, Scamacca juga kapabel bermain sedikit melebar.

Akan tetapi, kembali ke paragraf awal kisah ini, Scamacca juga merasakan kepedihan dalam upayanya ke puncak tertinggi. Perkembangan kariernya diganggu masalah yang bukan karena ulah sendiri.

Emiliano Scamacca, sang ayah, ditangkap karena merusak mobil di pusat pelatihan AS Roma pada Mei tahun lalu. Sang ayah membawa batang besi untuk menghancurkan hingga lima mobil.

Scamacca senior mengancam setiap orang yang berupaya menenangkan. Ia juga menabrak mobil Tiago Pinto dan Morgan De Sanctis. Tak hanya itu, patung La Lupa yang merupakan simbol tim juga menjadi sasaran.

Menurut laporan yang beredar saat itu, Emiliano Scamacca datang dengan hoodie Sassuolo. Ia mencari kepala akademi Roma, Bruno Conti. Kabarnya, Emiliano Scamacca menagih uang yang belum dibayarkan Conti di masa lalu.

Masalah keluarga kembali menjadi angin dalam pertumbuhan pohon karier Scamacca. Sang kakek, Sandro, ditangkap setelah menodongkan pisau ke leher seorang pria di sebuah bar, di Roma, pada November 2021.

Rentetan episode kekerasan yang dilakukan orang terdekat membuat Scamacca buka suara di media sosial. Pria yang memiliki pengikut 139 ribu di Instagram itu menegaskan sudah memutus hubungan dengan sang ayah.

"Untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan, saya menemukan diri lagi harus menjauh dari adegan kekerasan yang dilakukan orang-orang terkait nama keluarga saya," tulis Scamacca.

Scamacca pun memilih mengakhiri ikatan. Bukannya tak sayang atau kacang lupa kulit, tetapi sang ujung tombak paham jika benalu bisa membuat pertumbuhan menjadi lamban.

"Namun, pada beberapa tahun sebelumnya, saya sudah mengakhiri segala jenis hubungan. Saya ulangi sekali lagi. Saya tumbuh bersama ibu dan saudara perempuan saya. Mereka adalah keluarga untuk saya. Tidak ada yang lain," imbuhnya.

Meski keluarga jadi ganjalan, Scamacca tetap berupaya berjalan. Scamacca meningkatkan level diri sambil berlari, hingga kini kukuh berdiri.

Musim ini, Sassuolo memanggil kembali Scamacca. Penyerang 23 tahun itu langsung mendapatkan tempat di tim utama. Scamacca meresponsnya dengan mengemas sembilan gol dalam 22 laga Serie A. Catatan tersebut membuat Scamacca masuk daftar striker muda Italia paling bersinar.

Seperti musim sebelumya, Scamacca pun kembali diisukan menjadi target tim-tim elite Eropa. Borussia Dortmund dan Inter Milan adalah dua di antaranya.

Kali ini, Scamacca dilaporkan sudah menentukan sikap. Ia siap mengambil langkah maju dalam pekerjaan dengan hengkang ke Inter Milan pada musim panas mendatang.

Scamacca pengin berdeging di Italia, sehingga tawaran Dortmund tak masuk agenda acara.

CEO Sassuolo, Giovanni Carnevali, memberikan kode jika Inter memang sudah memesan Scamacca untuk musim panas. Kabar yang berembus di Italia mengatakan, Sassuolo membanderol Scamacca seharga 40 juta euro.

"Saya selalu berusaha jujur. Inter menjadi tim pertama. Namun, tidak hanya Inter. Ada klub lainnya dari luar negeri," ujar Carnevali kepada Sky Sports.

Sebagai penutup, penggalan sebuah lagu lawas berbunyi: Harta yang paling berharga adalah keluarga. Sayangnya, tak semua orang mendapatkan keluarga yang terasa sebagai harta.

Begitu pula dengan cerita kehidupan Gianluca Scamacca. Hebatnya, ia tetap menjadi bintang laga kendati masalah keluarga menerpa.