BolaSkor.com - Sudah 23 tahun lamanya Juventus menunggu untuk membawa pulang trofi Liga Champions. Dalam rentang itu, beberapa kali Si Nyonya Tua nyaris berhasil, namun gagal di tahap terakhir.

Musim ini asa baru mulai diembuskan. Dimulai dengan mendatangkan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid. Sosok yang khusus didatangkan demi mengembalikan kejayaan Juve di Benua Biru.

Meski demikian, penampilan Juventus sepanjang musim ini gagal memberikan impresi positif dari pencinta sepak bola dunia. Mereka memang dominan Serie A, tapi dominasi Juve tak begitu terasa atau kurang berkesan.

Baca Juga:

Matthijs De Ligt Sanjung Ketajaman Cristiano Ronaldo di Kotak Penalti

Cetak Gol ke-125, Cristiano Ronaldo Jaga Standar Tertinggi di Liga Champions

Cristiano Ronaldo

Juve memang kokoh di puncak Serie A dan tampil di perempat final Liga Champions. Namun semua itu dicapai lewat penampilan 'biasa-biasa' saja. Mereka acap menang meski secara permainan tidak dominas. Bahkan tak jarang Juve harus bekerja keras untuk meraih tiga poin. Paling tidak, dari sisi tontonan, masih ada tim Serie A lain yang menarik, sebut saja Atalanta atau Napoli.

"Permainan Juventus tidak cantik, tapi efektif," demikian kata pemain Napoli, Amin Younes dikutip Goal.

Tampil tak cantik, efektif, dan tentu saja Cristiano Ronaldo. Ya, megabintang Portugal langsung menjelma menjadi sosok penyelamat La Vecchia Signora. Termasuk satu golnya ke gawang Ajax Amsterdam di leg pertama perempat final Liga Champions.

Laga pertama melawan Ajax bisa menjadi gambaran Juventus musim ini. Pasukan Massimilino Allegri bisa dikatakan tampil buruk. Mereka kesulitan mengusai bola, hanya mencatat 39 persen. Juve juga hanya bisa melepaskan satu tembakan mengarah ke gawang Ajax.

Meski begitu, Juventus masih bisa pulang membawa hasil imbang, plus gol tandang. Itu berkat Ronaldo. Setuju atau tidak, Ronaldo adalah faktor penting bagi perjalanan Juve di Liga Champions musim ini. Karena hat-trick Ronaldo ke gawang Atletico Madrid-lah, Juve bisa tampil di perempat final.

Dalam laga penentuan melawan Atletico, Juventus menerapkan permainan yang sangat sederhana. Layangkan umpan silang ke arah Ronaldo. Dan, itu berhasil. Dari laga fase gugur Liga Champions musim ini, hanya Ronaldo yang mencetak gol bagi Juventus.

Tergantung kepada Ronaldo, mampu memetik hasil positif meski tampil buruk. Tidak heran jika Juventus disamakan dengan Real Madrid era Ronaldo.

Memang, Madrid adalah klub dengan kaliber tersendiri. Mereka memiliki pemain hebat macam Sergio Ramos, Raphael Varane, Luka Modric, dan Toni Kroos hingga pemain kelas dunia lain. Tapi, Ronaldi tetaplah menjadi sumber gol dan poin.

Bersama Madrid, Ronaldo sudah 50 kali membuat gol di fase gugur. Kebetulan atau tidak, musim ini Madrid tersingkir tanpa Ronaldo dan Juventus bertahan hingga saat ini, bersama Ronaldo.

Soal permainan Juventus, bahkan pelatih legendaris Italia, Arrigo Sacchi, menjadi salah satu pihak yang menilai Allegri terlalu konservatif, pragmatis, khususnya di kompetisi Eropa. Saat melawan Atletico, Allegri sendiri menyebut permainan timnya buruk.

Permainan pragmatis bisa dibilang sudah akrab dengan Juventus di era Allegri. Juve bukannya tidak bisa bermain menarik, mereka memilih tidak tampil seperti itu.

Buktinya, musim lalu Juventus tampil luar biasa saat menang 3-1 atas Madrid di Santiago Bernabeu. Tapi, Juve mau tak mau tampil menyerang dalam laga itu. Pasalnya di leg pertama mereka sudah kalah 0-3.

Di tangan Allegri, Juventus sukses besar di Italia. Namun, muncul keraguan tiap kali tampil di kompetisi Eropa. Tapi kehadiran Ronaldo mulai menghapus keraguan itu. Seperti Madrid, Juventus berharap Ronaldo muncul menjadi penentu di saat yang dibutuhkan.

Ya, tak ada yang memungkiri, selama ini Real Madrid sejatinya bukanlah tim terbaik di Eropa. Bahkan di Spanyol pun mereka acap kalah bersaing dengan Barcelona. Namu, di Eropa, Madrid tetap bisa memenangi empat trofi Liga Champions dalam lima tahun.

Dengan Ronaldo, Juventus berharap peruntungan Madrid beralih ke mereka. Kubu Juventus tak peduli lagi jika disebut potong kompas atau tampil tak menarik. Setelah gagal di lima kali final, estetika bisa menjadi nomor kesekian asal trofi bisa dibawa pulang.

"Menang tidak penting, itu satu-satunya hal yang penting (dikenang)," demikian ucapan tenar Giampiero Boniperti, legenda Juventus.