BolaSkor.com - Tatanan kehidupan baru atau lebih dikenal dengan New Normal menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Semua bersiap menjalani New Normal menyikapi situasi pandemi virus corona, tidak terkecuali perancang dan pengelola stadion.

Dari bagaimana cara mencapai toilet hingga menciptakan sebuah atmosfer, prospek penerapan sosial distancing menciptakan tantangan baru bagi para perancang dan operator stadion yang biasanya bertujuan untuk membuat orang tetap berkumpul.

Social distancing merupakan salah satu faktor utama dari New Normal untuk menekan peluang penyebaran virus. Karena itu, perancang dan operator stadion wajib mencari solusi bagaimana stadion terisi dengan tetap menjalankan social distancing. Ya, tentu tidak selamanya pertandingan berlangsung tanpa penonton.

Baca Juga:

Resmi, Pemerintah Spanyol Izinkan LaLiga Bergulir Kembali

10 Protokol Latihan Klub-klub LaLiga di Tengah Pandemi Virus Corona

41 Orang Dikabarkan Meninggal karena Virus Corona Selepas Laga Liverpool Vs Atletico

Meskipun sepak bola mulai bangkit kembali setelah pandemi COVID-19, hari-hari di mana stadion penuh dengan kerumunan suporter tampaknya masih jauh. Bahkan ketika suporter sudah bisa kembali ke stadion, mereka harus menghormati pedoman jarak sosial.

Karena itulah, para arsitek stadion seperti Populous sudah mulai memikirkan rancangan stadion yang ramah social distancing.

"Dengan asumsi kita tidak memiliki vaksin, harus ada penerapan social distancing di stadion. Padahal stadion sendiri dirancang tidak untuk itu," kata Christopher Lee, prinsipal Popoulous kepada Reuters.

"Ini antitesis dari bagaimana kami merancang stadion. Biasanya, kami ingin orang-orang berdekatan dan akrab. Kami mencoba merancang ruang eksternal, ruang pertemuan, pintu keluar, bar, tempat penjual makanan, dan sejenisnya menjadi luas. Tetapi kita pergi ke stadion untuk merasakan menjadi bagian dari kerumunan," lanjut dia.

Lee yang juga merupakan direktur proyek untuk stadion baru Tottenham Hotspur yang dibuka tahun lalu, memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi terkait social distancing di stadion.

"Ketika Anda masuk, bagaimana menjaga jarak dua meter dari sesama penonton," katanya.

"Bagaimana Anda minum atau makan. Dan, yang paling sulit, bagaimana Anda sampai ke toilet?"

Lee mengungkapkan, saat ini Populous sedang mencari solusi dengan klien mereka. Mereka masih mencari teknologi yang diharapkan memberikan banyak solusi. Di antara ide-ide yang dipertimbangkan adalah robot dan perangkat yang dapat dikenakan (wearable devices).

Lee mengatakan ada robot yang bisa melakukan apa saja, dari menyajikan kopi hingga bir dan membimbing orang ke tempat mereka". Sedangkan perangkat yang dapat dipakai bisa menjadi pemantau kerak penonton. Alat akan berbunyi jika pemakai bergerak dalam jarak dua meter dari penonton lain.

Sementara itu, Populous juga mencari cara membuat ratusan ribu suporter jarak jauh lebih terhubung dengan pertandingan. Suporter akan tetap bisa berinteraksi satu sama lain menggunakan teknologi yang mirip dengan konferensi video.

Salah satu opsi yang relatif murah dan sederhana adalah panggilan konferensi bergaya Zoom yang akan mengirimkan gambar penggemar yang menonton dari jarak jauh ke layar di sekitar stadion. Hal ini mirip dengan yang sudah dicoba oleh Klub Denmark Aarhus.

Kemungkinan yang lebih canggih adalah menggunakan teknologi Augmented Reality (AR) untuk membawa gambar penggemar ke stadion atau untuk memberi pemirsa jarak jauh sensasi bahwa mereka berada di stadion.

Sebagai contoh, ketika Jepang gagal mengajukan penawaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, salah satu rencana mereka adalah menggunakan holografi untuk mengirimkan gambar 3-D pertandingan ke stadion di seluruh dunia.

Idenya adalah para penggemar bisa berkumpul di stadion yang jauhnya ribuan kilometer dan menyaksikan pertandingan seolah-olah mereka berada di tempat yang sebenarnya.

Mungkinkah hal yang sama dilakukan untuk menggunakan hologram penggemar nyata di lokasi terpencil untuk mengisi kursi kosong?

"Kami tidak berpikir Anda dapat melakukannya pada skala itu saat ini. Ada beberapa hologram yang luar biasa, tetapi pada skala 60.000 plus, itu mungkin belum layak sehingga kita kembali ke teknologi yang lebih sederhana," kata Lee.

"Di atas segalanya, kami fokus pada keselamatan dan keamanan penggemar."