BolaSkor.com – Sepak bola memiliki banyak arti mendalam bagi seorang pesepak bola profesional. Dalam teorinya, pesepak bola mengincar kemenangan untuk tim yang dibelanya.

Namun di balik teori kaku itu, terselip cerita menarik tentang arti sepak bola bagi seorang pesepak bola profesional, yakni persahabatan. Persahabatan yang melahirkan kemenangan untuk tim.

Mungkin ini yang terjadi pada empat penggawa Timnas Indonesia U-19, Amiruddin Bagas Kaffa, Sutan Diego Zico, Rendy Juliansyah, dan Andre Oktaviansyah. Keempat pemain ini membangun chemistry persahabatan dengan lakonnya masing-masing.

Awalnya, keempat pemain ini tergabung di Timnas Indonesia U-16 tahun 2016 besutan Fakhri Husaini. Mereka mulai memainkan perannya masing-masing untuk menyukseskan Skuat Garuda Muda di beberapa turnamen, selepas banned FIFA untuk sepak bola Indonesia.

Mereka berlatar belakang berbeda saat masuk Timnas Indonesia U-16. Bagas Kaffa dari SSB Putra Harapan Magelang dan Chelsea Indonesia Academy, Sutan Zico dari SSB Citra Pratama Bogor, Rendy dari ASIOP, dan Andre dari SSB Pelita Jaya.

Baca Juga:

Surat Cinta Timnas Indonesia U-19 untuk Ketum PSSI Iwan Bule: Jangan Hilangkan Elite Pro Academy

Fakhri Husaini Coba Pemain Timnas Indonesia U-19 untuk Bisa Bermain di Berbagai Posisi

Fakhri Husaini: Ayah untuk Para Pemain

Fakhri Husaini, Pelatih Timnas Indonesia U-19
Pelatih Timnas Indonesia U-19, Fakhri Husaini (BolaSkor.com/Hadi Febriansyah)

Namun, ada sosok yang bisa menyatukan semuanya, yakni pelatih Timnas Indonesia U-16 lalu, Fakhri Husaini. Pelatih yang kini menangani keempatnya di Timnas Indonesia U-19 menjadi jembatan bagi para pemain untuk bisa menjadi dekat dan memiliki kekompakan.

Gelandang Timnas Indonesia U-19, Andre Oktaviansyah, menilai jika tidak ada sosok Fakhri Husaini, mereka tidak akan seperti ini. Meski tegas, sosok ini sudah seperti ayah bagi keempat pemain yang sudah main bersama ini.

“Banyak ilmu yang kami dapat dari beliau, dia kan pemain Timnas, kapten Timnas juga, pasti dia sudah memberikan ilmunya ke kita, saya beryukur bisa dilatih sama dia, karena beliau salah satu pemain yang bagus dan juga punya kepemimpinan di lapangan yang luar biasa,” ujar Andre dalam sesi wawancara eksklusif bersama BolaSkor.com.

“Saya belajar banyak dari coach itu gimana cara menghargai waktu. Karena kan penting banget waktu, apalagi kalau telat gitu, dia pasti bakalan marah banget dan di sini pemain jauh lebih disiplin,” Bagas Kaffa menambahkan.

"Coach Fakhri itu legenda buat saya," timpal Rendy. "Dia tegas tapi baik. Saya pernah dimarahi sama coach gara-gara telat. Dari Jakarta sampai Surabaya, saya tidur sore terus telat makan malam. Marah banget dia sama saya," tambah Sutan Zico.

Baca Juga:

Kupas Atlet Dewi Putri Sungging: Berjuang Hadapi Cedera dan Kembali Bersinar (Video)

Kupas Atlet Anggita Oktaviani (Video)

Sutan Zico sebagai Sosok Jail dan Cerita di Balik Perjuangan ke Piala Dunia U-17

Sutan Zico, Piala Dunia U-17
Sutan Zico. (BolaSkor.com/Grafis)

Bagas menambahkan, kunci mereka bisa kompak dan menyatu seperti keluarga adalah kerjahilan dan bercanda. Terkadang, hal receh tanpa dimasukkan ke hati menjadi resep tambahan kedekatan mereka. Namun, hal itu tentu ada batasnya dan tidak mengganggu konsentrasi.

“Mungkin ini kita bisa mengerti satu sama lain, kalau saya bercanda itu bisa membuat kita semakin kompak. Tidak ada yang baper-baperan, tidak ada yang disempen di hati, ungkapin saja kepada yang lain. Ini yang membuat kita kompak dan chemistry-nya juga sudah ada,” kata Bagas.

“Zico itu biangnya jail di sini, kalau ada kesempatan untuk jail kepada teman yang lain pasti dia lakukan itu. Bahkan sebelum latihan pun dia pernah jail-in pemain lain, tapi pas latihan serius semua,” Rendy menambahkan.

Kekompakan mereka berbuah hasil. Timnas Indonesia U-16 menjadi juara Piala AFF U-16 2018 di Sidoarjo. Mereka pun mendapat tiket putaran final Piala Asia U-16 2018 Malaysia.

Keempat anak ini hampir saja membawa Timnas Indonesia masuk ke Piala Dunia U-17 di Peru 2018 yang lalu. Sayang, pada babak perempat final mereka harus takluk dari Australia 2-3.

Keempatnya bercerita suasana di ruang ganti ketika sempat unggul 1-0 atas Australia. Zico sudah berandai-andai bermain di Piala Dunia dengan lawan yang kuat, tepi seketika mereka harus mengubur mimpinya itu.

“Itu pengalaman yang luar biasa, kita sempat berfikir untuk bisa bermain di Piala Dunia pada saat diruang ganti. Tapi namanya belum rejeki, kami akhirnya harus memupus impian itu. Bahkan terkadang hasil itu masih terus membayangi kami,” tutur Bagas.

Saling Peduli, Garuda Select, Masa Muda, dan PUGB