BolaSkor.com - Semua orang saat ini secara tidak langsung harus paham atau cakap digitalisasi. Semua serba digital dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Tak kecuali sepak bola yang saat ini sudah merambah ke dunia digital. Digitalisasi menjadi sebuah senjata bagi klub sepak bola profesional membangun kerajaan bisnis.

Klub sepak bola profesional Eropa memang sudah tak perlu diragukan lagi dalam hal digitalisasi, demi memperkuat segi bisnisnya. Namun, hal ini belum sepenuhnya secara 100 persen dilakukan klub-klub profesional di Indonesia.

Baca Juga:

Achsanul Qosasi: Madura United Berikan Dukungan Sesuai Rekomendasi TGIPF dan Transformasi Sepak Bola Indonesia

Achsanul Qosasi Tidak Maju Bursa Ketum PSSI

COO Madura United Berharap KP Bekerja Maksimal dan Fair

Annisa Qosasi
Annisa Qosasi. (Istimewa)

Meski begitu, Madura United bisa jadi menjadi klub Liga 1 pertama yang membuat gebrakan bisnis yang sehat lewat digitalisasi. Hal ini bisa terjadi melalui tangan dingin putri pemilik klub Achsanul Qosasi, yakni Annisa Zhafarina Qosasi.

Annisa merupakan lulusan S2 dan UEFA Certificate Football Management. Saat ini, wanita yang tengah mengecap pendidikan S3 tersebut sudah menjadi Direktur Utama Madura United.

Ia diberi kepercayaan para pemegang saham Madura United menjadi dirut lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Annisa memiliki mimpi menjadikan Madura United sebagai klub profesional di Indonesia yang kuat akan bisnis, cakap digital, hingga tentunya berprestasi.

BolaSkor.com berkesempatan mewawancarai Annisa, berikut kutipan wawancaranya:

Bisa diceritakan bagaimana Anda terjun dan sangat mencintai sepak bola?

Awalnya memang dari kecil aku suka sepak bola. Papa sama mama juga suka bola. Jadi memang dari keluarga yang suka bola. Waktu mama hamil dan sampai aku kecil, kita semua sering nonton bola. Dari situ akhirnya aku suka bola, dan disupport papa untuk terjun ke bola.

Support pertama ketika itu bantu papa dalam pembuatan jersey. Berawal dari hal kecil itu, papa dorong terus, dengerin papa bagaimana me-manage klub bola. Akhirnya aku tekuni, sampai ambil S2 bisnis dan UEFA Certificate Football Management.

Apa saja yang dipelajari di UEFA Certificate Football Management?

Sebenernya di sana kami pelajari semua hal tentang sepak bola. Tapi lebih cara meng-highlight bagaimana me-manage sepak bola dari segi bisnis. Bagaimana cara mem-branding brand (klub) agar menarik sponsor. Sebagai band mana keluaran kita dalam brand tersebut, mana yang kita highlight untuk dijual.

Lalu di Eropa apa saja yang dilakukan direktur utama sebuah klub, kerjaannya ngapain aja. Intinya seperti itu, tapi lebih mengarah ke bisnis. Ada fans management, player management. Tapi kita juga belajar stadion management juga.

Achsanul Qosasi
Presiden Madura United sekaligus ayah Annisa Qosasi, Achsanul Qosasi. (Istimewa)

Klub apa yang menjadi inspirasi Anda dalam hal bisnis?

Hampir semua klub di Eropa dari segi bisnis sudah bagus, meski memang beberapa masih rugi. Tapi secara management mereka kuat. Waktu itu ada speaker dari Manchester United, aku dengerin tuh dengan serius, bagaimana me-manage digitalisasi fans engagement, sosial media Instagram, Tiktok, Twitter.

Manchester United saja mempunyai tim sosial medianya 12 orang. Mereka tahu karakter tiap negara seperti apa fans engagement-nya. Selain Manchester United, yang bagus ada Bayern Munchen.

Mereka kelola websitenya dengan baik juga. Bagaimana penjualan tiket online, jersey online and offline, dan ada aplikasi yang mendekatkan fans ke klub.

Apa yang Anda bawa dari UEFA Certificate Football Management ke Madura United, setelah ditunjuk menjadi dirut?

Aku akan membawa Madura United kuat secara bisnis, dan digitalisasi yang baik dan menarik fan engagement. Sekarang tiket sudah online, ada penjualan jersey juga secara online, dan ke depannya Insya Allah akan ada aplikasi Madura United. Fans semakin dekat dengan klub. Kita bikin se profesional seperti di Eropa dengan ilmu yang saya dapatkan di UEFA Certificate Football Management.

Madura United
Madura United. (BolaSkor.com/Arjuna Pratama)

Tertarik ke PSSI atau LIB?

Untuk sekarang aku belum kepikiran ke federasi (PSSI) atau operator (PT Liga Indonesia Baru). Aku lebih ingin langsung melihat hasilnya. Kalau di klub kan, apa yang kita lakukan langsung kelihatan. Wah ini loh, kalau di federasi atau operator kan sifatnya monitor. Kalau pun nanti ke sana ya paling maunya di bisnis development. Tapi sampai saat ini belum ada pikiran ke sana.