BolaSkor.com - 7 April 2004, sejarah sepak bola Eropa mencatatkan catatan emas dalam remontada atau comeback berbalik dari posisi kalah menjadi pemenang di Liga Champions. Itu terjadi pada laga antara Deportivo La Coruna melawan AC Milan.

Perempat final Liga Champions 2003-04. AC Milan besutan Carlo Ancelotti, tim yang sedang berada di era terbaiknya, menjamu Deportivo La Coruna di San Siro pada leg pertama yang berlangsung Maret 2004.

Il Rossoneri pesta gol 4-1 melalui dua gol Kaka, Andriy Shevchenko, dan Andrea Pirlo yang diperkecil satu gol tandang Walter Pandiani. Di atas kertas sulit membalikkan ketertinggalan itu meski La Coruna bermain kandang di leg kedua, apalagi melawan Milan kala itu.

Baca Juga:

Berubah Pikiran, UEFA Kini Ingin Selesaikan Kompetisi Musim 2019-2020

UEFA Targetkan Liga Champions 2019-20 Berakhir pada Agustus

Kabar Terkini 11 Pemain Villarreal yang Tampil di Semifinal Liga Champions 2005-2006

Namun Deportivo La Coruna pantang menyerah. Di leg kedua yang berlangsung di Estadio Riazor tim besutan Javier Irureta melakukan remontada terhebat dalam sejarah klub dan sepak bola Eropa.

Tiga gol diciptakan Deportivo La Coruna di babak pertama dan menghancurkan kepercayaan diri Milan. Pandiani, Juan Carlos Valeron, dan Albert Luque membawa Super Depor unggul 3-0 dan agregat gol sama kuat 4-4.

Deportivo La Coruna
Deportivo menang 4-0 di leg kedua atas AC Milan

Dalam kondisi itu La Coruna sedianya sudah lolos ke fase berikutnya karena unggul agresivitas gol tandang. Tapi fans dan pemain ingin lebih untuk membalas kekecewaan dari leg pertama.

Fran mencetak gol keempat La Coruna di menit 76 dan membawa tim menang empat gol tanpa balas dari Milan. Milan yang sudah meraih enam titel Liga Champions kala itu menjadi korban comeback dramatis setelah Real Madrid, Arsenal, dan beberapa tahun ini Barcelona serta PSG merasakannya.

"Laga berakhir persis seperti yang saya mimpikan. Itu hampir menjadi misi nyaris mustahil tapi kami memberikan penampilan fantastis di babak pertama untuk mencari tiga gol yang kami butuhkan," tutur Irureta.

16 tahun berlalu dan momen itu masih melekat di benak pikiran pemain-pemain yang tampil kala itu. Valeron yang bermain di La Coruna dari 2000-2013 dan pensiun pada 2016 merupakan salah satu sosok yang mengingatnya dengan baik.

"Itu (laga La Coruna kontra Milan) bertahun-tahun yang lalu dan itu adalah kenangan yang luar biasa," kata Valeron dilansir dari Marca.

"Sudah 16 tahun dan saya cukup beruntung menjadi bagian dari tim itu dan pertandingan yang begitu penting."

Selebrasi Deportivo La Coruna
Selebrasi Deportivo La Coruna

Sementara Pandiani melihat gol-gol La Coruna yang tercipta di paruh pertama pada leg kedua menjadi kunci kebangkitan timnya.

"Unggu 2-0 saat jeda adalah kuncinya, kami hampir memiliki laga di tangan kami dan kami meninggalkan Milan tanpa peluang di babak kedua," imbuh Pandiani.

Kemenangan dramatis itu mempertegas status Super Depor sebagai tim yang disegani di Spanyol pada tahun 90-an hingga awal 2000.