BolaSkor.com - Siapa yang tak mengenal nama besar seperti Carlo Ancelotti, Frank Rijkaard, Pep Guardiola hingga Zinedine Zidane? Saat ini, mereka tersohor sebagai pelatih top yang berhasil membawa timnya meraih puncak kejayaan.

Namun keempatnya memiliki satu kesamaan. Benar, bersama tiga pelatih lain, mereka mampu membawa timnya meraih gelar Liga Champions Eropa saat menjadi pelatih maupun saat berstatus pemain.

Meski profesi lain sebagai pundit seperti yang dilakoni Rio Ferdinand dan Gary Neville juga cukup diminati. Menjadi seorang pelatih merupakan cara terbaik untuk terlibat langsung dalam dunia sepak bola.

Di Indonesia, kursus lisensi pelatih semakin meningkat setiap tahunnya sejak PSSI memperkenalkan filosofi bermain tim nasional Indonesia, Filanesia. Tak jarang, kita akan mendapati sosok-sosok terkenal seperti Isnan Ali hingga Firman Utina yang menjadi peserta kursus.

Namun, tak sedikit pula yang telah mengecap kerasnya persaingan kompetisi profesional atau turnamen internasional sebagai nahkoda dari pinggir lapangan. Bolaskor.com merangkum lima pemain timnas Indonesia yang kini menjadi pelatih. Siapa saja mereka?

Baca Juga:

4 Pemain Dunia yang Pernah Nikmati Fasilitas Bali United

4 Penyerang yang Sulit Dihadapi Otavio Dutra

1. Joko Susilo

Joko Susilo tercatat sebagai pelatih Persik. (BolaSkor.com/Kurniawan)

Berkarier nyaris sepuluh tahun sebagai asisten pelatih, Joko Susilo mendapatkan kesempatan besar saat menangani Arema FC di Liga 1 2018. Pria yang akrab disapa Gethuk dianggap sudah mumpuni menangani klub besar yang penuh tuntutan.

Namun, karier pria yang sempat mengecap pemain di Persija Jakarta tersebut hanya seumur jagung. Manajemen klub berjuluk Singo Edan menurunkan pangkatnya setelah hanya mampu membawa satu kemenangan dalam delapan laga.

Tetapi kariernya terus melejit setelahnya dengan dirinya mampu menuntaskan kursus lisensi tertinggi, AFC Pro, dan menjadi asisten pelatih timnas Indonesia yang saat itu dilatih oleh Simon McMenemy. Kini tugas besar menantinya di Persik Kediri yang meminangnya di awal musim 2020.

2. Aji Santoso

Aji Santoso,Pelatih Persebaya Surabaya. (BolaSkor.com/Kurniawan)

Dicintai dan dimusuhi, mungkin itu sudah menjadi hal lumrah bagi sosok Aji Santoso. Saat masih menjadi pemain, pria kelahiran Malang tersebut justru menjadi pujaan Bonek mania, kelompok suporter Persebaya yang merupakan rival dari klub Arema.

Saat menjadi pelatih, Aji juga sempat melatih Persebaya era LPI (Liga Primer Indonesia). Hingga takdir akhirnya membawanya menukangi klub kota kelahirannya, Arema FC pada awal musim 2017.

Meski berhasil mempersembahkan trofi Piala Presiden 2017, rupanya manajemen Arema FC menganggap performa tim di putaran pertama Liga 1 2017 jauh dari kata maksimal. Aji kemudian berlabuh ke Persela Lamongan.

Bersama Laskar Joko Tingkir, Aji Santoso sempat memiliki catatan impresif saat bermain di Surajaya. Persela dibawanya tak terkalahkan di kandang pada kompetisi resmi hingga 30 laga.

Tetapi bulan madu tersebut berakhir usai awal musim buruk Persela di Liga 1 2019 yang membuatnya hengkang ke PSIM Yogyakarta. Tetapi tuhan seperti menciptakan Aji untuk Persebaya, dan begitu pula sebaliknya.

Aji Santoso kembali datang ke Kota Pahlawan selepas putaran kedua 2019 dalam kondisi Persebaya yang tengah berjuang dari jeratan degradasi. Setelahnya, Bajul Ijo dibawanya mengakhiri kompetisi sebagai runner-up di bawah Bali United.

Baca Juga:

5 Laga Paling Bersejarah Arema

5 Pemain Lokal Terbaik PSIS Semarang Sepanjang Sejarah

3. Widodo Cahyono Putro

Widodo Cahyono Putro. (Media Persita)

Pria asal Cilacap ini tahu betul bagaimana kerasnya persaingan kompetisi sepak bola tanah air. Widodo C. Putro yang pernah menukangi sejumlah klub besar di Indonesia merasakan 'nasib tragis' dalam karier kepelatihannya.

Selepas menangani Sriwijaya FC di awal turnamen panjang berjuluk Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016, mantan penyerang Petrokimia Putra dan Timnas Indonesia tersebut melangkahkan kakinya ke Pulau Dewata. Bali United berhasil dibawanya bermain atraktif dan memunculkan penyerang Sylvano Comvalus sebagai topskor 2017.

Tetapi Serdadu Tridatu 'gagal' juara di penghujung musim. PSSI menilai Mitra Kukar memainkan pemain yang tidak sah dan memberikan kemenangan WO untuk Bhayangkara FC yang akhirnya menjadi juara dengan selisih dua angka.

Bertekad meraih kejayaan di musim selanjutnya, konflik dengan manajemen dan pemain senior justru menyulitkan langkahnya. Alhasil dirinya 'dipaksa' hengkang di laga krusial sesaat sebelum menghadapi Persija Jakarta yang akhirnya menjadi juara di akhir musim Liga 1 2018.

Musim 2019 menjadi titik balik perjalanan karier kepelatihan Widodo. Turun tangga ke Liga 2, iasukses membawa Pendekar Cisadane, julukan Persita Tangerang promosi. Pengalaman di Bali United, tentu menjadi modal berharga bagi Widodo dan Persita menghadapi persaingan Liga 1 2020.