BolaSkor.com - "Leeds scum are back” – itulah tajuk The Mirror ketika terakhir kali Leeds United promosi ke kasta tertinggi sepak bola Inggris pada 1990. Tajuk yang disebut mewakili banyak publik sepak bola Inggris.

Kalimat tersebut kemudian justru diklaim oleh fans Leeds. Kalimat yang sejatinya sebuah hinaan, mereka klaim karena bangga menjadi klub yang 'anti-mainstream' dan tidak disukai.

Kini Leeds United kembali lagi ke Premier League. Ya, hantu masa lalu itu kembali datang. Leeds kini datang sebagai orang luar yang sarat pengalaman manis dan getir, serta disetir oleh manajer jenius nan eksentrik, Marcelo 'El Loco' Bielsa.

Baca Juga:

16 Tahun Penantian Berakhir, Leeds United Kembali ke Premier League

5 Mantan Pemain Leeds United yang Menjadi Bintang Premier League

Kisah di Balik Kontroversi Klausul Kontrak dalam Transfer Alan Smith ke Manchester United

Bagi suporter Leeds kebanyakan, 16 tahun terakhir penuh warna. Sepajnagn 16 tahun dihiasi banyak kejadian yang menguras emosi karena gabungan dari tidak kompetennya pemilik hingga problema lainnya seperti manajer arogan dan pemain medioker.

Saat kepemilikan ada di tangan Ken Bates atau Massimo Cellino, publik Leeds acap menahan malu. Ya, kedua bos itu menjadikan Leeds sebagai klub aneh dan sasaran ledekan. “Leeds are falling apart again” atau "Leeds berantakan lagi" menjadi lagu favorit lawan saat tandang di Elland Road.

Kemudian datang Marcelo Bielsa pada Juni 2018. Pelatih legendaris Argentina itu membawa hal yang sama sekali baru. Publik Leeds menyaksikan permainan sepak bola yang tidak pernah tersaji di Elland Road.

Kedatangan Bielsa tentu tidak lepas dari peran besar sang pemiliki baru, Andrea Radrizzani. Sosok yang melepaskan Leeds United dari kekacauan di era Cellino. Ya, keputusan dan keberhasilan Radrizzani membujuk Bielsa untuk datang merupakan titik krusial bagi Leeds United.

Banyak yang terkejut bagaimana dalam rentang dua bulan Bielsa mampu mengubah tim yang terdiri dari para pemain biasa-biasa saja menjadi sebuah mesin. Apa yang terjadi di Leeds - transformasi mendadak dan dramatis - tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan saat era Don Revie atau Howard Wilkinson.

Kombinasi kegilaan, keseriusan, sikap pemalu, dan masuk akal Bielsa menjadi formula yang sempurna setelah bertahun-tahun berada di 'garis kemiskinan'.

Bagi pendukung Leeds, menyaksikan Bielsaball adalah sebuah kenikmatan, kesenangan, dan hiburan, bahkan ketika tidak menang. Ya, publik Leeds tetap menyanjung Bielsa dan memuji permainan pasukannya ketika kalah play-off melawan Derby musim lalu.

Obsesi nyeleneh Bielsa akan rasa keadilan dan keindahan dalam sepak bola adalah pasangan yang sempurna untuk fans akar rumput Leeds yang juga nyeleneh.

Liam Cooper, Luke Ayling, dan Patrick Bamford tidak akan menjadi pemain terhebat yang pernah dilihat di Premier League, tetapi di tangan Bielsa mereka memiliki kepercayaan diri dan siap untuk melakukan apa saja demi mengalahkan siapa pun. Inilah yang dilakukan Bielsa. Dia mengolah bahan mentah yang tidak sempurna menjadi sesuatu yang lebih besar.

"The Leeds scum are back." Tapi kali ini sepertinya Leeds kembali dengan kharisma berbeda. Leeds kali akan bisa menjadi klub yang tidak lagi dibenci atau menjadi bahan hinaan. Kini publik di Elland Road akan penuh dengan kebangaan, bukannya rasa malu.

Bukan tidak mungkin Leeds akan mengejutkan bagi penggemar baru dari tim lain. Setelah 16 tahun, Leeds kembali untuk mengubah Premier League.