BolaSkor.com - Liga Champions bak menjadi panggung drama untuk tim peraih tujuh titel Liga Champions, AC Milan. Drama itu tercipta di laga kelima grup D yang dihelat di Wanda Metropolitano, markas Atletico Madrid, Kamis (25/11) dini hari WIB.

Milan datang ke markas juara bertahan LaLiga dengan status juru kunci grup B dan kans yang kecil untuk lolos ke fase gugur, plus mereka belum pernah menang sejauh ini di fase grup.

Dalam kondisi tersebut tim arahan Stefano Pioli bermain sesuai rencana dan gaya main mereka. Bahkan, Milan menguasai penguasaan bola di kandang Atletico sebanyak 58 persen berbanding 42 persen.

Milan berhasil membatasi Atletico dengan hanya dua sepakan tepat sasaran, sementara Milan melepaskan 14 percobaan tendangan dan empat tepat sasaran. Dari satu sepakan tepat sasaran itu satu berbuah gol krusial.

Baca Juga:

5 Fakta Menarik Striker Anyar AC Milan, Junior Messias: Pernah Jadi Tukang Angkut Barang

Butuh Keajaiban dan Keberuntungan untuk Milan Lolos ke-16 Besar Liga Champions

Hasil Liga Champions: Milan Jaga Asa, Inter Lolos 16 Besar, City Bungkam PSG

Gol Junior Messias ke gawang Atletico

Tepat di menit 87 pemain pengganti Junior Messias menanduk bola umpan silang Franck Kessie ke gawang Atletico. Tandukkan Messias terlalu deras dan tidak dapat diantisipasi Jan Oblak.

Berkat gol itu Milan meraih tiga poin dan mereka masih 'hidup' di Liga Champions musim ini. Milan menyalip Atletico di urutan tiga dengan raihan empat poin - sama tapi beda selisih gol. Milan terpaut satu poin dengan Porto di urutan dua.

Apabila di laga terakhir Milan meraih kemenangan atas Liverpool, tim yang sudah lolos ke-16 besar, di San Siro maka mereka masih punya peluang lolos jika di laga lainnya Porto gagal mengalahkan Atletico.

"Para pemain saya memiliki permainan yang hebat, mereka pantas menang. Kami memiliki kualitas, mentalitas, dan senang merayakannya bersama," ucap Stefano Pioli, pelatih Milan selepas laga dikutip dari laman resmi UEFA.

"Saya percaya kami berada di jalur yang benar dan malam ini tim menunjukkan perkembangan mereka."

Malam Spesial Junior Messias

Junior Messias

Begitu banyak cerita yang selalu dibicarakan dan menjadi momen-momen berharga dalam sejarah Liga Champions. Liga Champions panggung bagi pemain untuk bersinar dan klub sebagai penanda klub terbaik di Eropa.

Hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Junior Messias. Pemain berusia 30 tahun memainkan debutnya di Liga Champions dengan turun dari bangku cadangan, menjadi super-sub yang menjaga asa Milan di Liga Champions.

Momen seperti itu tak pernah dibayangkan sebelumnya oleh fans dan juga Messias. Milan meminjamnya di musim panas 2021 dari Crotone dengan opsi beli di akhir kontrak (berdurasi semusim dalam skema peminjaman).

"Saya senang dengan hasilnya, kami membutuhkan kemenangan, dan kami terus bekerja. Masih banyak yang harus dilakukan. Saya harus tetap rendah hati, ini adalah kesuksesan terbesar dalam hidup saya, tetapi saya harus melanjutkan dengan keseimbangan," tutur Messias selepas laga dikutip dari laman resmi UEFa.

"Saya melihat bola, saya tidak berpikir dua kali dan menembakkannya ke gawang. Saya mendedikasikan gol ini untuk keluarga dan teman-teman saya di Brasil, dan untuk mereka di Milan yang percaya pada kualitas saya."

Terlepas dari lolos tidaknya nanti Milan ke-16 besar, gol dari Messias sangat spesial terutama jika menilik latar belakang pemain asal Brasil tersebut.

Lima tahun lalu Messias masih bermain di divisi empat sepak bola Italia alias sepak bola amatir, menjadi jasa pengantar barang untuk menyambung hidup, dan seketika mencetak gol kemenangan Milan atas Atletico di Liga Champions. Cerita yang indah.

"Cerita luar biasa dari Junior Messias, pahlawan AC Milan malam ini (kontra Atletico). Tiga tahun lalu bermain di divisi empat Italia. Dia pernah jadi jasa pengantar kulkas dan barang rumah tangga lainnya selagi bermain di level amatir. Malam ini dia mencetak gol pertama di Liga Champions - 30 tahun," tutur Fabrizio Romano.

"Junior Messias. Pernah bermain di sepak bola amatir dan jadi pengantar barang di usia 25 tahun, berada di Serie B pada usia 28 tahun, Serie A pada usia 29 tahun, mencetak gol pertama di Liga Champions untuk Milan di usia 30 tahun. Kisah dongeng," tambah Carlo Garganese.

Impian menjadi kenyataan bagi Messias. Milan membutuhkan keajaiban dan keberuntungan untuk lolos ke-16 besar, dan gol Messias datang di momen yang krusial.